RADARSEMARANG.ID - Sebagai kota yang dikenal sebagai tempat kelahiran sang komposer lagu kebangsaan Indonesia Raya; Wage Rudolf Supratman, Purworejo memiliki sejarah panjang yang menarik untuk dikelupas.
Purworejo dahulu merupakan salah satu kota yang penting dan strategis bagi pihak kolonial Belanda. Bahkan, Purworejo pernah akan disinyalir menjadi calon ibukota darurat dari Hindia Belanda saat itu.
Dalam pembangunannya, pihak kolonial mencanangkan rencana Kota Purworejo dengan gaya Old Indische Stad, gaya arsitektur Eropa lawas yang juga digunakan di Belanda.
Salah satu hal unik yang ada di kota ini adalah tentang adanya tarian tradisional yang merupakan hasil akulturasi kebudayaan dengan budaya Belanda yang bernama Tari Dolalak.
Dolalak atau warga sekitar sering menyebutkan sebagai Ndolalak merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Jawa Tengah, khususnya bagi masyarakat Purworejo.
Penamaan tarian ini merupakan intrepretasi dari nada yang dimainkan sebagai musik pengiring, dalam lidah orang Jawa, nada Do (1), La (6) dan La (6) yang dimainkan oleh orang Belanda kemudian menjadi Dolalak.
Dalam kaitan sejarah, Tari Dolalak memiliki sejarah panjang tentang hubungan Puworejo sendiri sebagai basis militer Belanda di Jawa Tengah. Berawal dari rasa bosan, ketiga pemuda asal Trirejo memprakarsai kelahiran tarian ini pada tahun 1915.
Perlu diketahui, di dalam tangsi militer Belanda tersebut bukan hanya diisi oleh orang-orang Belanda saja, namun juga warga pribumi yang dipersiapkan untuk menjadi tentara bagi Kerajaan Belanda.
Menjalani kehidupan militer yang keras, para prajurit pribumi ini menghabiskan waktu libur dengan melakukan hiburan-hiburan kecil seperti pencak silat, bernyanyi ataupun menirukan gerakan para Belanda yang berdansa di dalam tangsi.
Dari sinilah akulturasi tersebut terintegrasi dan terlahirlah tarian yang berasal dari gabungan dua kebudayaan yakni lokal dan Belanda. Bahkan tarian ini menjadi sebuah budaya yang identik dengan Purworejo.
Meskipun awalnya tarian ini dilakukan oleh para lelaki, namun semakin berjalannya waktu kemudian bergeser menjadi para wanita yang melakukannya, kecuali di Desa Kaliharjo yang masih konsisten menggunakan penari Dolalak pria.
Para penari mengenakan pakaian yang banyak terinspirasi dari seragam serdadu Belanda di masa lalu, seperti topi pet ala militer dengan rumbai-rumbai, sampur, baju panjang khas Eropa yang dipadukan dengan celana pendek serta kaus kaki dan sepatu boot.
Baca Juga: Dibalik Cerita dan Mitos yang Ada, Pulau Seprapat di Juwana Menyimpan Eksotime Tersendiri
Tarian ini mengalami pasang-surut saat terjadinya Agresi Militer Belanda 1 dan Pemberontakan G/30SPKI. Karena isu sensitif yang berkembang membuat banyak dari penari Dolalak pindah kota ataupun terbunuh.
Namun, sepak terjang tarian ini tak padam begitu saja. Diketahui bahwa dahulu tarian ini juga pernah digunakan seorang ahli agama untuk menyebarkan dakwah Islami dan berhasil di sebuah desa bernama Kaliharjo, Kabupaten Purworejo.
Walau begitu, masih banyak masyarakat yang menganggap tarian ini memiliki konotasi negatif. Hal tersebut didasari oleh mayoritas penari Dolalak merupakan perempuan dan mengenakan pakaian yang cukup terbuka, khususnya di bagian celana yang pendek.
Source: Pemkab Purworejo, ISI Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Purworejo