Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pelatih PSIS Semarang Rasakan Culture Shock, Gilbert Agius Terkejut Temukan Kebiasaan Ngaret hingga Pemotor Ugal-ugalan

Muchammad Nachirul Ichsan • Senin, 25 Maret 2024 | 20:15 WIB
Pelatih PSIS Semarang Gilbert Agius
Pelatih PSIS Semarang Gilbert Agius

RADARSEMARANG.ID - Pelatih PSIS Semarang, Gilbert Agius ceritakan pengalaman uniknya yang baru ditemui sejak melatih klub Liga 1 ini.

Ia merasakan Culture Shock setelah melihat beberapa kebiasaan yang ditemuinya di Indonesia.

Gilbert mulai menukangi PSIS Semarang sejak putaran kedua BRI Liga 1 musim ini, mau tidak mau harus beradaptasi dengan perbedaan budaya dan kebiasaan.

Dalam kanal YouTube PSIS TV, sang juru racik Mahesa Jenar menceritakan beberapa pengalamannya saat melatih tim.

Termasuk untuk melakukan penyesuaian dalam berbagai hal seperti makanan, bahasa, agama, hingga lalu lintasnya.

Perbedaan ini tak hanya ditemui saat berinteraksi dengan internal klub saja, tetapi juga sampai kebiasaan masyarakat di jalan raya.

"Pada awalnya memang terasa sangat sulit. Semuanya sangat berbeda di Indonesia, baik itu bahasa, makanan, agama, hingga lalu lintasnya. Semua berbeda dengan negara saya,” tambahnya.

Salah satu fenomena yang membuat pelatih asal Malta itu cukup tercengang ialah kebiasaan pengendara sepeda motor di Indonesia.

Saat melakukan manuver di jalanan. Dia merasa seperti tak ada aturan dalam berkendara di Indonesia.

“Di Malta, lalu lintasnya sebetulnya juga padat, tetapi memang berbeda. Di sini, terlalu banyak sepeda motor. Jadi, saat saya mengendarai mobil, sepeda motor seperti tidak ada aturan,” ujar Gilbert.

Pelatih 50 tahun ini juga mengeluhkan soal kebiasaan para pemain Indonesia yang sering terlambat datang atau Ngaret.

Fenomena jam karet ini, kata Gilbert, terlihat seperti hal yang lumrah terjadi di Indonesia.

“Satu hal ketika saya datang ke sini, masalahnya adalah waktu. Mereka selalu terlambat. Namun, saya melihat hal itu seperti sesuatu yang normal di Indonesia. Ketika seseorang datang terlambat, mereka menganggapnya hal normal,” ujarnya.

Pelatih yang mengantongi lisensi UEFA Pro itu memang telah merasakan banyak perkembangan setelah setahun menakhodai Mahesa Jenar.

Chemistry antarpemain kini sudah terjalin dengan sangat kuat.

Bagi Gilbert, ini menjadi modal berharga untuk membawa Mahesa Jenar meraih prestasi.

Apalagi, Septian David Maulana dkk ditargetkan menembus babak championship series BRI Liga 1 2023/2024.

Editor : Baskoro Septiadi
#pemotor ugal-ugalan #culture shock pelatih psis #berita psis #kebiasaan ngaret #PSIS Semarang #gilbert agius #Pelatih PSIS Semarang