Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Prospek Semarang Barat Terus Moncer, CitraLand BSB City Semarang Bidik Investor Lewat Gathering Nasabah Prioritas BRI

Figur Ronggo Wassalim • Jumat, 17 Juli 2026 | 08:35 WIB

 

INTIMATE LUNCH: BRI Prioritas bersama CitraLand BSB City Semarang menggelar Invitation Intimate Lunch di SKOLA Dining, Jalan Merak No. 29, Semarang, Kamis (16/7) siang.
INTIMATE LUNCH: BRI Prioritas bersama CitraLand BSB City Semarang menggelar Invitation Intimate Lunch di SKOLA Dining, Jalan Merak No. 29, Semarang, Kamis (16/7) siang.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pertumbuhan kawasan Semarang Barat dinilai masih menyimpan potensi besar sebagai tujuan investasi properti. Didukung perkembangan kawasan industri, pembangunan infrastruktur, hingga meningkatnya kebutuhan hunian bagi tenaga kerja asing, kawasan tersebut diproyeksikan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.

Optimisme itu disampaikan General Manager CitraLand BSB City Semarang, Dessaf Setia Permana, saat menjadi pembicara dalam customer gathering bersama nasabah prioritas BRI di Semarang. Dalam kesempatan tersebut, peserta diajak melihat peluang diversifikasi investasi, tidak hanya melalui instrumen keuangan, tetapi juga aset properti.

Pantauan di Skola Kota Lama, Kamis (16/7) siang, puluhan nasabah prioritas BRI tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang dikemas dalam suasana makan siang eksklusif. Selain menikmati hidangan, peserta menyimak pemaparan mengenai prospek ekonomi Kota Semarang, perkembangan kawasan Semarang Barat, hingga peluang investasi properti. Seusai presentasi, peserta berdiskusi langsung dengan tim wealth management BRI maupun tim marketing CitraLand BSB City Semarang mengenai berbagai pilihan investasi.

Dessaf mengatakan, Ciputra Group memilih mengembangkan CitraLand BSB City Semarang sejak 2012 karena melihat kawasan BSB City memiliki prospek jangka panjang sebagai kota mandiri berskala besar di Jawa Tengah. Menurutnya, konsep pengembangan kawasan terpadu seperti itu masih sangat terbatas di wilayah Jawa Tengah.

"Kami melihat Semarang Barat memiliki potensi pertumbuhan yang luar biasa. Kawasan industri terus berkembang, akses jalan tol semakin lengkap, dan kebutuhan fasilitas pendukung seperti hotel maupun hunian juga terus meningkat," ujarnya.

Ia menjelaskan, perkembangan infrastruktur menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan nilai investasi di kawasan tersebut. Selain keberadaan Jalan Tol Trans Jawa, rencana akses tol menuju Ngaliyan hingga bertambahnya aktivitas industri dinilai akan semakin meningkatkan daya tarik Semarang Barat.

Menurut Dessaf, pertumbuhan Kota Semarang juga ditopang keberhasilan pemerintah dalam membangun berbagai infrastruktur dan menghidupkan kawasan wisata. Revitalisasi Kota Lama, misalnya, menjadi salah satu contoh bagaimana pembangunan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian kota.

Di sisi lain, ia menilai Kota Semarang memiliki modal sosial yang tidak kalah penting, yakni kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi nilai tambah yang membuat investor maupun pelaku usaha merasa nyaman menanamkan modal di ibu kota Jawa Tengah.

"Saya melihat Semarang memiliki potensi yang luar biasa. Kerukunan masyarakatnya menjadi kekuatan yang jarang saya temukan di kota lain. Iklim seperti ini sangat baik bagi pertumbuhan investasi," katanya.

Dalam paparannya, Dessaf juga membagikan tiga prinsip dasar memilih properti sebagai instrumen investasi. Pertama, memperhatikan faktor kelangkaan lahan sehingga nilai aset berpotensi terus meningkat. Kedua, melihat perkembangan kawasan di sekitar properti karena akan berpengaruh terhadap kenaikan harga. Ketiga, memilih properti yang memiliki likuiditas tinggi sehingga lebih mudah disewakan maupun dijual kembali.

Ia mengungkapkan, harga tanah di kawasan CitraLand BSB City Semarang terus mengalami kenaikan sejak pertama dipasarkan. Jika pada awal pengembangan berada di kisaran Rp1,8 juta per meter persegi, kini telah mencapai sekitar Rp9 juta per meter persegi.

Selain potensi kenaikan harga, kawasan tersebut juga menawarkan peluang pendapatan dari penyewaan rumah. Banyak tenaga kerja asing yang bekerja di kawasan industri sekitar memilih tinggal di CitraLand BSB City Semarang karena menawarkan lingkungan yang lebih nyaman dibandingkan hotel.

Dessaf menambahkan, momentum pembelian properti saat ini juga didukung insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang masih berlaku hingga akhir tahun. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperoleh hunian sekaligus investasi dengan biaya yang lebih ringan.

"Kami berharap masyarakat, khususnya nasabah prioritas BRI, dapat melihat properti sebagai salah satu instrumen diversifikasi aset jangka panjang yang aman dan memiliki prospek pertumbuhan yang baik," pungkasnya. (fgr)

Editor : Baskoro Septiadi
prioritas Citraland BSB City Semarang kenaikan akhir tahun Investasi