RADARSEMARANG.ID - Jagat media sosial kembali memanas setelah cuitan tajam dari Hasan Nasbi, pendiri lembaga survei Cyrus Network, menyindir perilaku “penjilat” yang dinilai tidak kompeten.
Dalam unggahan di platform X (dulu Twitter), Nasbi menyatakan bahwa keberpihakan politiknya terbukti efektif karena pihak yang ia dukung kini berkuasa.
Sebaliknya, ia menyindir mereka yang menjilat namun tetap kalah dalam kontestasi politik.
“Yang saya jilat menang dan berkuasa. Yang anda jilat kalah dan nggak berkuasa. Sekadar jadi penjilat pun anda kurang kompeten,” tulis Nasbi dalam cuitannya yang viral.
Pernyataan tersebut memicu beragam respons, termasuk dari aktor Fedi Nuril yang turut mengkritik keberanian tokoh publik dalam menyuarakan isu sensitif.
Ia menyoroti pernyataan yang dianggap berlebihan namun tidak berani menyebut langsung pelaku genosida seperti Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
“Apanya yang ‘memecah langit’? Menyebut langsung Israel dan si pemecah Netanyahu sebagai pelaku genosida aja nggak berani,” tulis Fedi.
Sementara itu, pengguna lain bernama Muhammad Rinandar mengeluhkan unggahannya yang dihapus oleh platform, padahal hanya memuat ulang video pidato seorang kyai yang mengkritik pemerintah. Ia mempertanyakan standar moderasi konten yang dianggap tidak konsisten.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana ruang digital menjadi arena perdebatan politik yang semakin terbuka, namun juga rentan terhadap sensor dan polarisasi.
Di tengah tahun politik, netizen tampaknya semakin berani menyuarakan pendapat, meski harus berhadapan dengan risiko penghapusan konten atau serangan balik dari pihak lain.
Editor : Baskoro Septiadi