Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Hindari Hewan Sapi dari Bali, Lampung dan Sulawesi

Agus AP • Kamis, 23 Juli 2020 | 18:21 WIB
Adhityani Trui Yuli Astuti, Kasie Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Kota Semarang. (NORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Adhityani Trui Yuli Astuti, Kasie Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Kota Semarang. (NORMA SARI YULIANINGRUM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Jelang perayaan Idul Adha, banyak sapi terinfeksi penyakit jembrana. Masyarakat perlu memperhatikan saat pemilihan sapi serta proses pengolahan dagingnya. Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Radar Semarang Norma Sari Yulianingrum bersama Kasie Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang Adhityani Trui Yuli Astuti.

Bagaimana bahayanya mengonsumsi sapi terinfeksi jembrana?

Sapi dari Bali memang sangat diminati masyarakat karena dagingnya yang banyak. Namun harus diperhatikan, karena sapi terinfeksi jembrana banyak mengeluarkan darah. Sedangkan protein dari sapi banyak terdapat di darah. Itu yang kemudian merusak kualitas.

Bagaimana caranya masyarakat bisa memilih hewan yang sehat untuk ibadah kurban di hari raya Idul Adha?

Yang jelas dagingnya harus berasal dari hewan yang sehat. Hewan kurban berarti sapinya harus memenuhi syarat kurban. Syaratnya sapi harus sudah dewasa, berusia antara umur 1,5 sampai 2 tahun. Tidak betina dan tidak sakit. Sebaiknya memilih sapi-sapi lokal lebih sehat, karena minim tertular penyakit.
Hindari sapi-sapi dari Bali, Lampung dan Sulawesi. Boleh menggunakan sapi tersebut, namun tidak boleh mencapai waktu lebih dari tiga hari. Selain itu, sapi yang didatangkan dari kota-kota tersebut harus disertai SKKH sebagai bukti bahwa dia sehat dari daerah asalnya.

Proses pemotongan sapi yang baik seperti apa?
Kalau untuk pemotongan, kami sarankan supaya digantung. Dengan carai itu, daging tetap bersih. Sedangkan daging yang bersih itu, sebaiknya tidak dicuci. Di samping itu, daging yang disimpah di freezer bisa bertahan hingga tiga bulan lebih. Sementara jika di chiler hanya bertahan selama tiga hari saja.

Saat ini banyak kasus penimbunan daging kurban, bagaimana dinas menyikapinya?
Sesuai dengan anjuran Majelis Ulama Indonesia (MUI), daging kurban tidak boleh disimpan lebih dari tiga hari. Jadi kami imbau untuk masyarakat daripada menyimpan banyak daging, akan mengurangi kualitas. Lebih baik daging dibagikan ke saudara atau kerabat yang membutuhkan. Selain itu, daging yang sudah lebih dari tiga hari sudah tidak dianggap daging kurban lagi. (*/ida) Editor : Agus AP
#BINCANG #Kesehatan Hewan #Hewan Kurban