RADARSEMARANG.ID – Peristiwa bentrokan ini terjadi di Desa Pegundan, Petarukan, Kabupaten Pemalang pada Rabu (23/7/2025) malam.
Dalam bentrokan itu dua ormas islam saling serang di tengah pengajian tablig akbar peringatan Tahun Baru Islam 1447 H.
Bukan tanpa alasan, hal ini berawal dari massa yang berasal kelompok Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) mendatangi lokasi acara tabligh akbar dan haul KH Muhammad Hasyim.
Kedatangan mereka pun memicu konfrontasi dari para simpatisan lain yang datang dari Front Persaudaraan Islam (FPI) yang ketika itu pengajian tersebut dihadiri oleh Habib Rizieq.
Di himpun dari berbagai sumber jika massa dari PWI-LS menerobos masuk ke area masjid tempat ceramah berlangsung.
Saling ejek dan dorong pun tak terhindarkan, sebelum akhirnya kericuhan pecah sekitar pukul 22.30 WIB, sesaat sebelum Habib Rizieq tiba di lokasi.
Bentrokan berlangsung sengit namun singkat. Benda-benda keras, seperti batu, botol, hingga kayu beterbangan ke segala arah.
Bahkan, sejumlah saksi menyebut adanya penggunaan senjata tajam dalam insiden tersebut.
Polisi yang semula bertugas mengamankan acara pun menjadi korban dalam upaya meredam bentrokan.
Dari laporan resmi, lima orang mengalami luka, termasuk satu anggota polisi yang terkena lemparan batu.
Baca Juga: Kocak! Tiga Pria Tanpa Pakian Curi Ikan Lele Viral di Media Sosial
Salah satu saksi di lokasi, Ahmad (50) menyebut suasana malam itu sempat mencekam. Ia melihat massa berbaju putih-putih mengejar kelompok berbaju hitam.
"Kejadiannya cepat, cuma sekitar 10 menit. Tapi tegang banget, saling lempar batu dan kejar-kejaran," kata Ahmad
Meski demikian, acara tetap di lanjut hingga pukul 00.00 WIB dengan pengawalan ketat dari pihak Kepolisian dan TNI.
Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, mengungkapkan ada sejumlah korban yang dievakuasi ke rumah sakit. Namun angkanya belum pasti karena masih dilakukan pendataan.
"Kita masih mendata jumlah korban secara pasti. Ada informasi menyebut 5, ada juga yang menyebut 13. Ini sedang kami pastikan," kata Anom Widiyantoro seusai acara.
Menurut Anom, Forkompimda langsung bergerak cepat agar ketegangan tidak berkepanjangan. Ia meminta warga tidak terpancing emosi dan tetap menjaga kondusivitas daerah.
Sementara itu, Kapolres Pemalang, AKBP Eko Sunaryo mengungkapan jika pihaknya akan memanggil sejumlah saksi, termasuk panitia acara dan warga sekitar.
“Setiap tindakan yang melanggar hukum akan di proses sesuai ketentuan. Tidak ada toleransi terhadap kekerasan,” terang kapolres Pemalang. (dka)
Editor : Baskoro Septiadi