Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Gary Bencheghib Terkejut Lihat Sungai Pekalongan Hitam dan Bau, Pemerintah Harusnya Malu

Lutfi Hanafi • Jumat, 8 Mei 2026 | 16:09 WIB
MEMANDANG - Pendiri Sungai Watch, Gary, Sam dan Kelly saat memandangi pekatnya aliran sungai Meduri di Tirto Pekalongan, Kamis sore (7/5/2026). (Lutfi Hanafi/Jawa Pos )
MEMANDANG - Pendiri Sungai Watch, Gary, Sam dan Kelly saat memandangi pekatnya aliran sungai Meduri di Tirto Pekalongan, Kamis sore (7/5/2026). (Lutfi Hanafi/Jawa Pos )

 

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN — Kumandang adzan Asar baru saja usai ketika rombongan pelari dari Sungai Watch mulai bergerak dari Lapangan Mataram Kompleks Pemkot Pekalongan, Kamis (7/5/2026) sore.

Dengan kaus olahraga yang basah oleh keringat dan langkah yang tetap stabil meski sudah menempuh ratusan kilometer, tiga pendiri Sungai Watch, Gary Bencheghib, Sam Bencheghib, dan Kelly Bencheghib—melanjutkan hari ke-41 ekspedisi Run for Rivers, perjalanan lari sejauh 1.200 kilometer dari Bali menuju Jakarta.

Tim Sungai Watch ternyata, lebih dulu melakukan aksi cleanup sampah di salah satu aliran sungai di Kota Pekalongan pada pagi hari.

Baca Juga: Lewat Aksi Run for Rivers di Pekalongan, Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Warga Bergerak Bersama Atasi Sampah di Jateng

Dipimpin Gary Bencheghib bersama Sam Bencheghib dan Kelly Bencheghib, tim menemukan tumpukan sampah plastik di aliran sungai di wilayah Bendan Kergon Pekalongan Barat. Namun yang membuat mereka lebih terkejut bukan hanya sampah yang mengapung, melainkan kondisi air sungai yang sudah berubah warna menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat.

Menurut Gary, temuan itu menjadi salah satu kondisi sungai paling mengkhawatirkan selama perjalanan mereka dari Bali menuju Jakarta. Tidak Sekedar sampah plastic, namun sudah berlimbah hitam, pekat dan sangat bau.

Rute awal sebenarnya sudah direncanakan lurus menuju jalur pantura. Namun di tengah perjalanan, rombongan yang dikawal beberapa pelari asal Kota Pekalongan, justru masuk ke jalur alternatif yang membawa mereka menyusuri kawasan permukiman warga.

Baca Juga: Lari Sambil Pantau Sampah, Pelari Run for Rivers Tiba di Gringsing Batang

Alih-alih langsung bertemu hiruk-pikuk jalan nasional, mereka malah masuk ke gang-gang kecil dan jalan kampung di wilayah Pekalongan. Kehadiran tiga pelari asing di tengah kampung langsung menarik perhatian warga.

Tak lama berselang, rombongan melintasi jembatan di atas Sungai Bremi di Kelurahan Tirto Kecampatan Pekalonan Barat KOta Pekalongan. Dari atas jembatan itu, langkah Gary mendadak melambat.

Pandangan mereka tertuju pada aliran air di bawah yang tak lagi tampak seperti sungai pada umumnya. Airnya hitam pekat, nyaris tanpa pantulan cahaya, dengan aroma menyengat yang terbawa angin sore.

Gary beberapa saat berdiri di tepi jembatan, memperhatikan aliran air itu sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Rombongan kemudian masuk lebih dalam ke wilayah Tirto. Di kawasan ini mereka sempat mampir ke salah satu sentra produksi batik printing.

Gary terlihat merekam aktivitas produksi, memperhatikan proses pewarnaan kain, hingga berbincang dengan beberapa pekerja mengenai proses produksi batik.

Ia juga sempat menanyakan bagaimana limbah cair hasil pewarnaan dikelola dan ke mana aliran pembuangannya bermuara. Namun pertanyaan itu belum mendapat jawaban yang pasti.

Baca Juga: Sungai Watch dan Got Bag Indonesia Bersama Warga Kolaborasi Gotong Royong Bersihkan Sampah Bawah Jembatan Sungai Wulan Demak

Perjalanan kembali dilanjutkan. Namun belum lama meninggalkan kawasan industri rumahan itu, rombongan kembali dibuat terhenyak.

Saat melintasi Sungai Meduri, mereka kembali menemukan kondisi serupa. Air sungai tampak hitam pekat, bahkan lebih gelap, dengan bau menyengat yang langsung tercium dari kejauhan.

Gary spontan menghentikan langkahnya untuk kedua kalinya hari itu. Baginya, temuan dua sungai dengan kondisi serupa di satu wilayah menjadi catatan serius dalam perjalanan mereka di Pulau Jawa.

Kehadiran tiga warga asing yang berlari di tengah kampung sontak mengundang perhatian. Anak-anak berhenti bermain, ibu-ibu keluar dari teras rumah, sementara beberapa warga spontan mengeluarkan telepon genggam mereka.

Ada yang berbisik, ada yang tersenyum heran, bahkan ada yang diam-diam memotret dari kejauhan.

“Bule lari-lari di kampung,” celetuk seorang warga sambil tersenyum melihat rombongan melintas.

Rombongan kemudian berusaha keluar menuju jalur pantura di kawasan Sepacar Tirto. Namun akses di bawah jembatan rel kereta api ternyata terendam banjir.

Air menggenangi jalan, memaksa para pelari mencari jalur aman, berjalan diatas tanggul sungai kecil, sambil tetap menjaga ritme perjalanan. Dengan langkah hati-hati, mereka menyusuri sisi tanggul untuk bisa keluar ke jalur utama.

Setelah akhirnya mencapai jalan pantura, rombongan kembali dihadapkan dengan deru truk besar, debu jalanan, dan padatnya arus kendaraan.

Di titik istirahat depan IBC Wiradesa, Gary tak menutupi keterkejutannya. “Harusnya pemerintah malu dengan kondisi ini,” ujarnya.

Bagi Sungai Watch, Pekalongan bukan hanya menjadi etape perjalanan, tetapi juga pengingat bahwa persoalan sungai di Indonesia kini tak lagi sekadar sampah plastik, melainkan pencemaran limbah yang membuat aliran sungai kehilangan warna alaminya.(han)

Editor : Tasropi
#sungai watch #run for rivers #Sam Bencheghib