Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Lewat Aksi Run for Rivers di Pekalongan, Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Warga Bergerak Bersama Atasi Sampah di Jateng

Deka Yusuf Afandi • Kamis, 7 Mei 2026 | 11:35 WIB
Pendiri Sungai Watch asal Prancis, yakni Gary Bencheghib, Sam Bencheghib, dan Kelly Bencheghib berlari bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sekda Jateng Sumarno, Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, Plt Kabupaten Pekalongan Sukirman. (Rizal Kurniawan/Jawa Pos Radar Semarang)
Pendiri Sungai Watch asal Prancis, yakni Gary Bencheghib, Sam Bencheghib, dan Kelly Bencheghib berlari bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sekda Jateng Sumarno, Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, Plt Kabupaten Pekalongan Sukirman. (Rizal Kurniawan/Jawa Pos Radar Semarang)

 

 

RADARSEMARANG.ID –  Semangat menjaga lingkungan kembali digelorakan di Kota Pekalongan pada Kamis pagi, 7 Mei 2026. Ratusan pelari memadati kawasan Lapangan Mataram untuk mengikuti kegiatan bertajuk Run for Rivers, sebuah aksi lari kampanye peduli sungai dan penanganan sampah yang digelar bersama komunitas Sungai Watch.

Kegiatan ini bukan sekadar olahraga bersama, tetapi menjadi simbol gerakan kolektif untuk menyelamatkan sungai dari ancaman sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan.

Sejak pukul 06.30 WIB, suasana Lapangan Mataram sudah dipenuhi peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari komunitas lari, pegiat lingkungan, pelajar, hingga pejabat daerah tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Rute lari dimulai dari Lapangan Mataram dan berakhir di Museum Batik Pekalongan dengan total jarak sekitar lima kilometer.

Baca Juga: Run for Rivers di Pekalongan, Gubernur Jateng: Target Kami Tahun 2028-2029 Zero Sampah

Kegiatan ini semakin menarik perhatian karena diikuti langsung oleh tiga pendiri Sungai Watch asal Prancis, yakni Gary Bencheghib, Sam Bencheghib, dan Kelly Bencheghib. Ketiganya berlari bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno, Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, Plt Kabupaten Pekalongan Sukirman, Dandim 0710/Pekalongan Letkol Inf Gerry, Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ricky Haryadi, serta sejumlah pejabat dari Pemerintah Kota Pekalongan dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Tidak hanya diikuti unsur pemerintahan, lebih dari 100 pelari dari berbagai komunitas lari di Kota Pekalongan juga ikut meramaikan acara tersebut. Kehadiran masyarakat menjadi bukti bahwa isu lingkungan kini semakin mendapat perhatian luas, terutama terkait persoalan sampah sungai yang menjadi ancaman serius bagi kawasan perkotaan.

Rute lari dimulai dari Jalan Mataram menuju Jalan Sumatera, lalu berlanjut ke Jalan Irian Jaya hingga Jalan Sulawesi. Di salah satu titik aliran sungai di kawasan Jalan Sulawesi, rombongan berhenti untuk melakukan aksi bersih sungai atau clean up. Momen ini menjadi inti dari kampanye lingkungan yang diusung dalam kegiatan Run for Rivers.

Baca Juga: Jelang SPMB, Disdik Perkuat Pendaftaran Jalur Afirmasi, Tak Diterima di Negeri Otomatis ke Sekolah Swasta

Di lokasi tersebut, peserta disuguhi pemandangan yang memprihatinkan. Tumpukan sampah plastik terlihat memenuhi aliran sungai dan tersangkut di berbagai sisi bantaran. Tim Sungai Watch bersama peserta kemudian turun langsung ke sungai untuk mengangkat sampah-sampah plastik yang mencemari aliran air.

Aksi itu menjadi simbol nyata kepedulian terhadap kondisi lingkungan perkotaan yang semakin terancam akibat persoalan sampah. Para peserta tampak bahu membahu mengumpulkan sampah plastik ke dalam karung besar sambil mengedukasi masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai.

Setelah aksi bersih sungai selesai dilakukan, rombongan kembali melanjutkan lari melewati Jalan Hayam Wuruk, Jalan Sultan Agung, melintasi Bundaran Taman Jetayu, hingga akhirnya tiba di garis finis di Museum Batik Pekalongan.

Baca Juga: TPG Mei 2026 Segera Cair! Ini Jadwal Resmi dan Syarat Wajib yang Harus Dipenuhi Guru

Kedatangan para peserta disambut meriah oleh masyarakat dan pengunjung museum. Suasana hangat dan penuh semangat terlihat saat para pelari memasuki area museum setelah menyelesaikan rute sepanjang lima kilometer tersebut. Peserta juga diajak melihat koleksi batik khas Pekalongan sebelum acara ditutup dengan ramah tamah dan sarapan bersama.

Di sela kegiatan bersih sungai di Jalan Sulawesi, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan persoalan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata. Menurutnya, solusi paling efektif harus dimulai dari tingkat paling bawah, yakni rumah tangga, RT, RW, desa, hingga kelurahan melalui program Desa Mandiri Sampah.

Ia menjelaskan bahwa persoalan sampah di Jawa Tengah saat ini sudah memasuki tahap serius. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, produksi sampah di wilayah tersebut mencapai sekitar 6,3 juta ton per tahun. Angka itu bahkan terus meningkat antara 8 hingga 11 persen setiap tahunnya.

Baca Juga: Jangan Sampai Gagal Cair! Ini 7 Poin Penentu TPG Mei 2026 yang Wajib Dicek Guru

Meski menghadapi tantangan besar, Ahmad Luthfi menyebut capaian pengelolaan sampah di Jawa Tengah terus mengalami peningkatan. Saat ini, tingkat pengelolaan sampah di provinsi tersebut telah mencapai sekitar 77,76 persen dan menjadi salah satu percontohan nasional dalam penanganan sampah daerah.

Menurut Ahmad Luthfi, keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada teknologi modern, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah tangga.

“Penanganan sampah paling efektif harus dimulai dari rumah tangga, RT, RW, desa hingga kelurahan melalui program Desa Mandiri Sampah,” kata Ahmad Luthfi di sela kegiatan bersih sungai.

Untuk memperkuat pengelolaan sampah di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini juga tengah mengembangkan berbagai program berbasis teknologi serta kerja sama antarwilayah.

Baca Juga: Penyebab Harga Motor Listrik Bekas Anjlok 2026, Ini Fakta yang Jarang Diketahui

Salah satu program yang sedang dipersiapkan adalah Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL di kawasan Pekalongan Raya, Tegal Raya, dan Semarang Raya.

Program tersebut diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif yang bermanfaat bagi masyarakat.

Selain PSEL, sistem Refuse Derived Fuel atau RDF juga telah berjalan di sejumlah daerah seperti Cilacap, Banyumas, Magelang, serta 13 kabupaten lainnya. Teknologi RDF memungkinkan sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk kebutuhan industri.

Ahmad Luthfi menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah membentuk Satgas Sampah untuk mempercepat penanganan persoalan sampah di berbagai daerah.

Baca Juga: CAT BKN 2026 untuk Kopdes Merah Putih Dimulai, Ini Jadwal dan Materinya

Selain itu, pengelolaan berbasis aglomerasi antarwilayah juga mulai dikembangkan melalui pembangunan zonasi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu atau TPST regional.

TPST regional tersebut nantinya memiliki kapasitas lebih dari 1.000 ton sampah per hari sehingga diharapkan mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir yang selama ini menjadi persoalan di banyak daerah.

“Target kami menuju zero sampah tahun 2028-2029. Kehadiran teman-teman Sungai Watch hari ini menjadi trigger bagi kami untuk lebih semangat menangani sampah,” ujar Ahmad Luthfi.

Ia juga menilai gerakan seperti Run for Rivers memiliki dampak besar dalam membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Menurutnya, konsep Desa Mandiri Sampah saat ini mulai berkembang di berbagai daerah di Jawa Tengah. Bahkan, gerakan serupa kini mulai diterapkan di lingkungan perumahan hingga tingkat RT dan RW melalui edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga.

Baca Juga: CPNS 2026 Segera Dibuka, Bea Cukai Siapkan 300 Formasi untuk Lulusan SMA

Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dinilai menjadi langkah paling penting dalam mengurangi pencemaran lingkungan, terutama di sungai dan saluran air perkotaan. Sebab, sebagian besar sampah yang mencemari sungai berasal dari limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan.

“Virus peduli sampah ini harus terus disebarkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Sungai Watch yang hari ini memacu semangat kita semua untuk bergerak lebih cepat menjaga lingkungan,” pungkasnya.

Kegiatan Run for Rivers di Kota Pekalongan pun menjadi bukti bahwa kampanye lingkungan dapat dilakukan dengan cara yang kreatif dan melibatkan banyak pihak.

Melalui olahraga, edukasi, dan aksi nyata membersihkan sungai, masyarakat diajak untuk tidak hanya peduli, tetapi juga turun langsung menjaga lingkungan.

Baca Juga: Kabar Terbaru Bansos PKH 2026: Surat Perintah Membayar Dikirim ke Bank Himbara, Uang Tinggal Tunggu Proses

Gerakan ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu saja, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat. Jika kesadaran menjaga lingkungan terus tumbuh, target menuju zero sampah bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Di tengah meningkatnya ancaman pencemaran sungai akibat sampah plastik, langkah kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah rumah tangga, hingga ikut dalam aksi bersih sungai dapat memberikan dampak besar bagi keberlangsungan lingkungan di masa depan.

Melalui kegiatan seperti Run for Rivers, semangat menjaga sungai dan lingkungan hidup diharapkan terus menyebar ke berbagai daerah lain di Indonesia. Sebab sungai yang bersih bukan hanya menciptakan lingkungan sehat, tetapi juga menjadi warisan penting bagi generasi mendatang.(dka)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#sungai watch #run for rivers #pengelolaan sampah Jawa Tengah #kegiatan Run for Rivers di Pekalongan 2026 #komunitas lari Pekalongan