RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Ratusan pelari meramaikan Run for River di Kota Pekalongan Kamis pagi (7/5/2026). Kegiatan dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dari Lapangan Mataram menuju garis finis di Museum Batik Pekalongan dengan jarak tempuh sekitar lima kilometer.
Tiga pendiri Sungai Watch asal Prancis, yakni Gary Bencheghib, Sam Bencheghib, dan Kelly Bencheghib, ikut berlari bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sekda Jateng Sumarno, Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, Plt Kabupaten Pekalongan Sukirman, Dandim 0710/Pekalongan Letkol Inf Gerry, Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ricky Haryadi, serta sejumlah pejabat dari Pemerintah Kota Pekalongan dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Tak hanya pejabat, sekitar 100 lebih pelari dari berbagai komunitas lari di Kota Pekalongan juga ikut meramaikan kegiatan tersebut.
Rute lari dimulai dari Jalan Mataram menuju Jalan Sumatera, Jalan Irian Jaya, hingga Jalan Sulawesi. Di salah satu titik aliran sungai di Jalan Sulawesi, rombongan berhenti untuk melakukan aksi clean up atau bersih sungai.
Di lokasi itu, tumpukan sampah plastik terlihat memenuhi aliran sungai. Tim Sungai Watch bersama peserta kemudian turun langsung mengangkat sampah-sampah plastik dari sungai sebagai simbol kepedulian terhadap kondisi lingkungan perkotaan.
Usai aksi bersih sungai, rombongan kembali melanjutkan lari melewati Jalan Hayam Wuruk, Jalan Sultan Agung, melintasi Bundaran Taman Jetayu, hingga finis di Museum Batik Pekalongan.
Kedatangan rombongan disambut meriah masyarakat dan pengunjung museum. Para peserta juga diajak melihat koleksi batik sebelum acara ditutup dengan ramah tamah dan sarapan bersama.
Baca Juga: Bupati Batang dan Istri Serta Komunitas Lari Batang Runners Antusias Ramaikan Run for Rivers
Di sela kegiatan bersih sungai di Jalan Sulawesi, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan sampah paling efektif harus dimulai dari tingkat paling bawah, yakni rumah tangga, RT, RW, desa hingga kelurahan melalui program Desa Mandiri Sampah.
Ia menjelaskan, Jawa Tengah saat ini menghadapi persoalan serius terkait sampah. Berdasarkan data Pemprov Jateng, produksi sampah di wilayah tersebut mencapai sekitar 6,3 juta ton per tahun dengan peningkatan mencapai 8 hingga 11 persen setiap tahun.
Meski begitu, capaian pengelolaan sampah di Jawa Tengah disebut terus meningkat hingga mencapai sekitar 77,76 persen dan menjadi salah satu percontohan nasional.
Untuk memperkuat pengelolaan sampah, Pemprov Jawa Tengah juga tengah mengembangkan berbagai program berbasis teknologi dan kerja sama wilayah. Salah satunya melalui program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang sedang disiapkan di kawasan Pekalongan Raya, Tegal Raya, dan Semarang Raya.
Selain itu, sistem Refuse Derived Fuel (RDF) juga telah berjalan di Cilacap, Banyumas, Magelang, serta 13 kabupaten lainnya.
Baca Juga: Bupati Batang dan Istri Serta Komunitas Lari Batang Runners Antusias Ramaikan Run for Rivers
Gubernur Ahmad Luthfi menambahkan, Pemprov Jateng juga membentuk Satgas Sampah dan mengembangkan pengelolaan berbasis aglomerasi antarwilayah, termasuk pembangunan zonasi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) regional dengan kapasitas lebih dari 1.000 ton sampah per hari.
“Target kami menuju zero sampah tahun 2028-2029. Kehadiran teman-teman Sungai Watch hari ini menjadi trigger bagi kami untuk lebih semangat menangani sampah,” katanya.
Menurut Ahmad Luthfi, konsep Desa Mandiri Sampah saat ini juga mulai berkembang di berbagai daerah, termasuk lingkungan perumahan dan tingkat RT/RW melalui edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga.
“Virus peduli sampah ini harus terus disebarkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Sungai Watch yang hari ini memacu semangat kita semua untuk bergerak lebih cepat menjaga lingkungan,” pungkasnya.(han)
Editor : Baskoro Septiadi