RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Masalah stunting masih menjadi tantangan serius bagi berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kota Pekalongan.
Tak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, stunting juga berdampak pada perkembangan otak dan masa depan generasi bangsa.
Berangkat dari kepedulian itu, Camat Pekalongan Timur, Darminto, menggagas inovasi sosial berbasis gotong royong bertajuk “Ceting Bambu” — singkatan dari CEgah StunTING dengan BAntu Mung SeriBU.
Program ini resmi dilaunching di aula Kantor Kecamatan Pekalongan Timur, Senin (3/11/2025) dan diresmikan langsung oleh Wakil Walikota Pekalongan Hj Balgis Diab.
Baca Juga: Atlet Dansa Kota Pekalongan Ini Siap Bawa Tari Lokal ke Panggung Dunia
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Pemerintahan dan Kesra dr. Slamet Budiyanto, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan Sri Budi Santoso, pengurus TP PKK Kecamatan dan kelurahan, serta para Camat se-Pekalongan Timur.
Wakil Wali Kota Balgis Diab memberikan apresiasi tinggi atas inovasi tersebut. Ia bahkan menyebut bahwa program ini layak menjadi contoh nasional.
“Saya sudah kirim foto kegiatan ini ke Kementerian. Ini bentuk nyata gotong royong, tanpa menggunakan APBD, tapi manfaatnya luar biasa,” ujarnya bangga.
Baca Juga: Nekat! Pemulung Curi Kabel Lampu Merah di Tengah Kota Pekalongan
Balgis menilai, uang Rp1.000 yang sering terabaikan bisa menjadi sumber kebaikan besar bila dikelola bersama.
“Kadang uang seribu rupiah kita biarkan di mobil atau dompet. Tapi lewat program ini, seribu itu bisa jadi berkah, membantu anak-anak stunting agar tumbuh sehat,” tuturnya.
Program Ceting Bambu melibatkan seluruh elemen masyarakat Kecamatan Pekalongan Timur — mulai dari pegawai kecamatan, kelurahan, hingga warga umum.
Yang mana, setiap orang diajak menyisihkan donasi Rp1.000 per hari untuk membantu anak-anak yang mengalami stunting dan ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Baca Juga: Wawali Balgis Ingatkan SPPG Pekalongan Bangun Dapur Sesuai Standar Mutu
Darminto menjelaskan, jika disimulasikan, dari sekitar 100 pegawai di lingkup Kecamatan Pekalongan Timur, bisa terkumpul Rp100 ribu per hari atau sekitar Rp3 juta per bulan. Dengan biaya pemenuhan gizi sekitar Rp350 ribu per anak per bulan, maka gerakan ini dapat membantu sedikitnya tujuh anak stunting setiap bulan.
“Ini bukan sekadar amal, tapi gerakan kecil dengan dampak besar. Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana,” ujar Darminto optimis.
Baca Juga: DPRD dan Bakesbangpol Jateng Bangun Kepercayaan Publik
Program ini sejalan dengan target Pemerintah Kota Pekalongan untuk mewujudkan “Zero Stunting” dalam empat tahun ke depan. Balgis menambahkan, Pemkot berkomitmen penuh mendukung penanganan kasus khusus, termasuk membantu anak dengan alergi susu sapi atau kondisi gizi tertentu.
“Jangan patah semangat. Pemerintah akan terus mendampingi agar tidak ada lagi anak stunting di Kota Pekalongan,” tegasnya.
Lebih dari itu, “Ceting Bambu” juga diharapkan menjadi contoh praktik baik (best practice) yang bisa direplikasi di wilayah lain. “Dengan semangat ‘dari kita, untuk kita’, kami ingin mewujudkan Pekalongan Timur yang lebih sehat, cerdas, dan tangguh,” tutup Darminto.(han)
Editor : Baskoro Septiadi