RADARSEMARANG.ID - Pekalongan merupakan salah satu kota yang dilalui jalur kereta api lintas utara jawa dari Jakarta menuju Surabaya dan sebaliknya.
Namun pada masa Kolonial Belanda di Kota Batik pernah berdiri jalur kereta api menuju wilayah selatan Pekalongan.
Lebih tepatnya jalur ini melayani rute dari Stasiun Pekalongan menuju Wonopringgo yang saat itu terdapat pabrik gula.
Jalur ini dibuka pada tahun 1916, Pembangun dan operator jalur ini adalah sebuah salah satu perusahaan swasta Hindia Belanda, Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).
Pembangunan jalurnya dilakukan dalam 2 segmen yaitu Pekalongan-Kedungwuni yang diresmikan 7 Februari 1916 dan diteruskan ke Wonopringgo pada 1 Desember 1916
Saat beroperasi jalur yang melewati dalam Kota Pekalongan ini digunakan untuk mengangkut gula dari Pabrik Gula Wonopringgo.
Selain itu digunakan juga untuk mengangkut penumpang ke berbagai kota di Jawa, jalur ini juga terdapat beberapa stasiun seperti Wonopringgo, Kedungwuni, Kembangan, Kepuh, Buaran, dan Tirto hingga Pekalongan.
Eksistensi jalur ini tak bertahan lama, pada masa kependudukan Jepang pada tahun 1942 sebagian rel pada jalur ini dibongkar.
Selama 3,5 tahun Jepang berkuasa, rel bekas dan perangkat jalur ini diangkut menuju Burma dan Pekanbaru unuk keperluan Perang Dunia II.
Sekarang bekas jalur kereta api sudah sulit ditemukan akibat pembongkaran oleh tentara Jepang dan Romusha saat itu.
Saat ini di Kedungwuni juga terdapat sisa stasiun kecil, Wilayah bekas rel di Buaran hingga Kedungwuni biasanya disebut dengan Sepuran, sebagai contohya ada kampung Gembong Sepuran, Paesan Sepuran, Ambokembang Sepuran dan Pekajangan Sepuran.
Tanah didaerah tersebut menjadi aset milik PT Kereta Api Indonesia Daop IV Semarang, Selain itu juga terdapat bekas jembatan kereta api di Kali Sengkarang Kedungwuni sebagai peninggalan yang masih tersisa.
Editor : Baskoro Septiadi