"Tujuannya penamaan ini agar jasa mereka tetap bisa diabadikan dan dikenal generasi muda,“ ujar Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid saat istighosah kubro dan doa bersama di halaman kantor Sekretariat Daerah kota Pekalongan Jumat (1/4).
Lebih lanjut kata Aaf, panggilan akrab wali kota, perubahan nama jalan tersebut sebagai salah satu bentuk penghargaan atas pengorbanan dan kontribusi yang telah diberikan untuk Kota Pekalongan. Walaupun tidak sebanding dengan nilai perjuangan mereka. “Penamaan ini yang bisa kita lakukan untuk mengenang para tokoh ini," terangnya.
Tokoh yang dipilih untuk menjadi nama jalan terdiri dari berbagai kriteria, di antaranya ulama, insan pers, olahragawan, pendidikan, dan lain sebagainya. Lebih lanjut Aaf mengungkapkan, pergantian nama ruas jalan dengan menggunakan nama tokoh dan pahlawan akan terus berlanjut agar nama jalan di kota Pekalongan memiliki nilai historis. Pihaknya membuka kesempatan kepada seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan usulan nama tokoh lainnya.
Adapun 12 ruas nama jalan yang diubah diantaranya, yakni Jalan Oto Iskandar Di Nata (perubahan ejaan), Jalan Wahid Hasyim menjadi KH Wahid Hasyim, Jalan Banyurip Alit dan Banyurip Ageng menjadi Jalan H Muhammad Chaeron, Jalan Pelita 2 diganti Jalan KH Ahmad Djunaid, jalan tembus HOS Cokroaminoto dan Dharma Bhakti menjadi Jalan KH Saelan, jalan tembus Pelita menjadi Jalan Syafi'i Abdul Majid, perempatan Jalan Semarang dan Patiunus menjadi Jalan Abdullah Hamid Al Hinduan.
Lalu, Jalan Klego di Slamaran Rusunawa menjadi Jalan Umar Saleh Al-Jufri, Jalan Bandung perempatan Sorogenen sampai pertigaan RS Khodijah menjadi Jalan Abdul Gaffar Ismail, jalan tembus Imam Bonjol dan Hayam Wuruk menjadi Jalan KH Siroj, jalan tembus Asem Binatur menjadi Jalan KH Muhammad Ilyas, Jalan di Kalibaros sampe Duwet menjadi Jalan R Soempeno.
Ditambahkan, ada masukan lagi ke depan ada tokoh Wanita yang diabadikan sebagai nama jalan. Untuk itu, ke depan jika memiliki usulan nama bisa diajukan ke pemkot. Karena pihaknya butuh referensi siapa tokoh wanita yang betul-betul masuk nominasi. “Saat ini masih banyak nama jalan yang menurut kita tidak mempunyai makna dan nilai sejarah lebih baik kita ubah menjadi nama tokoh-tokoh lokal," katanya. (han/ton) Editor : Agus AP