RADARSEMARANG.ID - Akhir-akhir ini makin sering kita lihat motor listrik (Molis) berseliweran dijalanan baik jalan perkotaan maupun pedesaan. Motor listrik semakin mudah kita jumpai.
Tetapi meski meski motor listrik semakin banyak, tetapi peta pasar sepeda motor Indonesia ternyata belum berubah drastis. Honda dan Yamaha masih memiliki kekuatan dan modal yang tidak mudah ditiru pemain baru termasuk motor listrik yakni: jaringan, bengkel, suku cadang, produk matic dan kepercayaan konsumen.
Melihat kondisi ini, muncul satu pertanyaan, mengapa kehadiran motor listrik belum mampu secara signifikan mengubah peta persaingan? Jawabannya ternyata bukan hanya soal teknologi.
Baca Juga: Pasar Motor Indonesia 2026 Berubah, Ini Jenis Motor yang Paling Diburu Konsumen
Pasar Motor Indonesia Masih Sangat Besar
Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan distribusi sepeda motor domestik sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 4.362.078 unit.
Pada Agustus 2026, distribusi tercatat 596.461 unit. Angka tersebut memang turun 6,22 persen dibandingkan Juli, tetapi masih tumbuh sekitar 3,2 persen dibandingkan Agustus 2025.
AISI memperkirakan pasar sepeda motor domestik sepanjang 2026 berada di kisaran 6,4 juta hingga 6,7 juta unit.
Besarnya pasar tersebut membuat Indonesia menjadi arena persaingan yang sangat penting bagi produsen sepeda motor.
Dan hingga sekarang, motor berbahan bakar bensin masih mendominasi.
Honda dan Yamaha Sudah Memiliki Ekosistem yang Kuat
Salah satu alasan Honda dan Yamaha sulit digoyang adalah mereka tidak hanya menjual sepeda motor.
Keduanya telah memiliki ekosistem yang terbentuk selama puluhan tahun. Mulai dari jaringan dealer, bengkel, ketersediaan suku cadang, mekanik, layanan purnajual hingga pasar sepeda motor bekas.
Bagi konsumen Indonesia, faktor tersebut sangat penting. Membeli sepeda motor bukan hanya mempertimbangkan harga ketika kendaraan keluar dari dealer.
Baca Juga: Kenalkan Nih Triumph Speed Twin 1200 TFC, Motor Classic yang Cuma Ada 750 Unit di Dunia
Konsumen juga memikirkan pertanyaan lain:
>Di mana motor akan diservis?
>Apakah suku cadangnya mudah ditemukan?
>Bagaimana jika motor mengalami masalah?
>Berapa harga jual kembali?
Semakin luas ekosistem sebuah merek, semakin kecil pula risiko yang dirasakan konsumen.
Motor Matic Menjadi Senjata Utama
Faktor berikutnya adalah dominasi motor matic.
Skutik otomatis merupakan bagian terbesar dari pasar sepeda motor Indonesia. Salah satu riset pasar memperkirakan skutik otomatis menyumbang sekitar 91,7 persen penjualan domestik pada 2025.
Kondisi tersebut membuat persaingan motor Indonesia sangat bergantung pada segmen skutik.
Honda memiliki banyak pilihan di segmen ini, mulai dari motor untuk kebutuhan harian hingga skutik dengan kapasitas mesin dan harga yang lebih tinggi.
Yamaha juga memiliki portofolio yang kuat, terutama melalui keluarga skutik seperti NMAX, Aerox, Lexi dan XMAX.
Artinya, pemain baru yang ingin menggeser dominasi merek lama harus menghadapi pasar yang sudah terbentuk.
Konsumen Tidak Hanya Membeli Teknologi
Motor listrik memiliki sejumlah keunggulan.
Motor listrik menawarkan mekanisme penggerak yang lebih sederhana, tidak membutuhkan bensin dan memiliki karakter berkendara yang berbeda.
Namun, konsumen sepeda motor Indonesia tidak hanya membeli teknologi. Mereka membeli alat transportasi untuk digunakan setiap hari.
Karena itu, faktor seperti jarak tempuh, pengisian baterai, ketersediaan servis, suku cadang dan harga jual kembali menjadi sangat penting.
Jika sebuah motor listrik memiliki teknologi menarik tetapi konsumen kesulitan mencari tempat servis, keunggulan tersebut bisa kehilangan sebagian daya tariknya.
Harga Bukan Satu-satunya Persoalan
Harga pembelian juga menjadi faktor penting. Motor bensin sudah diproduksi dalam jumlah sangat besar. Rantai pasok, jaringan distribusi dan teknologi produksinya telah matang.
Motor listrik masih berada dalam proses membangun skala ekonomi. Selain harga motor, konsumen juga harus menghitung biaya baterai, masa pakai baterai serta infrastruktur pengisian.
Karena itu, perbandingan antara motor listrik dan motor bensin tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat harga di brosur. Yang lebih penting adalah total biaya kepemilikan selama motor digunakan.
Motor Listrik Belum Berarti Gagal
Meski demikian, belum tepat jika perkembangan motor listrik dianggap gagal. Sebaliknya, pasar sedang berada dalam tahap transisi.
Motor listrik mulai mendapatkan tempat di sejumlah segmen, terutama konsumen yang tertarik dengan teknologi baru dan penggunaan kendaraan untuk mobilitas perkotaan.
Pemerintah dan industri juga terus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.
Potensinya sangat besar karena Indonesia memiliki jumlah sepeda motor yang sangat tinggi.
Namun, mengubah kebiasaan jutaan pengguna motor tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Honda dan Yamaha Juga Tidak Tinggal Diam
Ancaman elektrifikasi juga membuat produsen Jepang harus beradaptasi. Honda dan Yamaha sama-sama mulai memasukkan teknologi elektrifikasi ke dalam strategi produknya.
Honda, misalnya, telah memperkenalkan lini motor listrik di Indonesia. Yamaha juga mengembangkan kendaraan listrik dan teknologi elektrifikasi di berbagai pasar.
Artinya, persaingan masa depan kemungkinan tidak sesederhana motor listrik melawan Honda dan Yamaha.
Justru Honda dan Yamaha sendiri dapat menjadi bagian dari era motor listrik tersebut.
Pertarungan Berikutnya Bisa Lebih Menarik
Jika pasar motor Indonesia tetap berada di kisaran 6 juta unit lebih per tahun, perubahan kecil dalam pangsa pasar akan memiliki arti besar. Pemain baru tidak harus langsung mengalahkan Honda atau Yamaha.
Mendapatkan sebagian kecil dari pasar saja sudah berarti ratusan ribu unit dalam skala industri.
Karena itu, masuknya merek baru, motor listrik dan teknologi baru tetap patut diperhatikan.
Namun, untuk benar-benar mengubah peta pasar, pemain baru harus mampu menawarkan lebih dari sekadar motor dengan harga murah atau teknologi berbeda.
Mereka membutuhkan produk yang menarik, harga kompetitif, jaringan layanan, ketersediaan suku cadang dan kepercayaan konsumen.
Jadi, Mengapa Honda dan Yamaha Masih Sulit Digoyang?
Ada beberapa faktor utama:
1. Jaringan distribusi dan layanan yang luas.
2. Kuatnya posisi motor matic dalam pasar Indonesia.
3. Ketersediaan suku cadang dan bengkel.
4. Kebiasaan dan kepercayaan konsumen yang sudah terbentuk.
5. Pasar motor bekas yang membuat nilai jual kembali menjadi pertimbangan.
Sementara itu, motor listrik masih harus membangun ekosistem tersebut dalam skala yang sama.
Jadi, persoalannya bukan apakah motor listrik lebih canggih atau tidak. Persoalannya adalah apakah motor listrik sudah menawarkan seluruh pengalaman kepemilikan yang selama ini diberikan motor bensin kepada konsumen Indonesia.
Untuk saat ini, jawabannya masih dalam proses. Dan justru di situlah menariknya persaingan pasar motor Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Motor listrik mungkin belum menggoyang dominasi Honda dan Yamaha hari ini. Tetapi jika ekosistem baterai, pengisian daya, servis dan harga terus membaik, peta persaingan tersebut bisa berubah lebih cepat dari yang diperkirakan. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi