RADARSEMARANG.ID – Mobil listrik di Indonesia semakin ramai. Pilihan kendaraan berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) kini tidak lagi terbatas pada beberapa model dengan harga tinggi. Konsumen sudah bisa menemukan mobil listrik dalam berbagai bentuk, mulai dari city car, hatchback, SUV, hingga MPV keluarga.
Perkembangan tersebut membuat mobil listrik semakin menarik perhatian masyarakat yang sedang mencari kendaraan baru pada 2026. Selain menawarkan teknologi elektrifikasi, sejumlah model juga hadir dengan jarak tempuh yang semakin panjang, fitur semakin lengkap, serta pilihan harga yang lebih beragam.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan pasar mobil listrik memang mengalami perkembangan cukup besar sepanjang 2026. Pada Juli 2026, penjualan wholesale mobil listrik BEV mencapai 13.972 unit. Angka tersebut meningkat 10 persen dibandingkan Juni dan tumbuh 140 persen dibandingkan Juli 2025.
Persaingan merek di pasar mobil listrik Indonesia juga semakin ketat. Data GAIKINDO untuk Agustus 2026 menunjukkan BYD mencatat penjualan wholesale 7.870 unit dan retail 6.861 unit untuk kategori mobil listrik dan hibrida. Jaecoo dan Geely juga berada di antara merek yang mencatat penjualan besar pada periode tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa konsumen Indonesia sekarang mempunyai lebih banyak pilihan ketika ingin beralih dari mobil bermesin bensin ke mobil listrik. Namun, banyaknya pilihan juga membuat calon pembeli perlu lebih teliti sebelum menentukan kendaraan.
Salah satu nama yang cukup dikenal di pasar mobil listrik Indonesia adalah BYD. Merek asal China tersebut menawarkan sejumlah model dengan karakter berbeda, mulai dari city car hingga SUV dan MPV.
Berdasarkan daftar harga resmi BYD Indonesia yang diperbarui pada 2026, BYD Atto 1 ditawarkan mulai sekitar Rp199 juta untuk varian Standard, sementara varian Dynamic mulai Rp210 juta dan Premium Long Range mulai Rp245 juta dengan acuan harga OTR Jakarta.
Kehadiran BYD Atto 1 menarik karena membawa mobil listrik ke rentang harga yang lebih mudah dijangkau dibandingkan sejumlah model EV berukuran lebih besar.
Model seperti ini dapat menjadi pilihan bagi konsumen perkotaan yang membutuhkan kendaraan untuk aktivitas harian, perjalanan menuju kantor, berbelanja, maupun mobilitas keluarga dalam jarak relatif dekat.
Baca Juga: Avanza 2021 atau BYD ATTO 1? Harga Mirip, Tapi Perbedaannya Bikin Kaget
Di kelas yang lebih besar terdapat BYD M6 yang menawarkan konfigurasi hingga tujuh penumpang. Berdasarkan daftar harga resmi BYD, M6 tersedia mulai sekitar Rp395 juta untuk varian Standard 2026 tujuh penumpang, sedangkan varian Superior dan Superior Captain memiliki harga lebih tinggi.
M6 juga mempunyai jarak tempuh yang diklaim mencapai 420 kilometer berdasarkan metode pengujian NEDC pada varian yang tercantum dalam daftar harga tersebut.
Bagi masyarakat yang membutuhkan mobil keluarga, model MPV listrik seperti BYD M6 menjadi salah satu pilihan yang patut diperhitungkan. Ruang kabin, kapasitas penumpang, bagasi, jarak tempuh dan kemudahan pengisian baterai menjadi beberapa hal yang lebih penting diperhatikan daripada sekadar melihat angka tenaga motor listrik.
Selain BYD, Wuling juga menjadi salah satu merek yang cukup agresif menghadirkan kendaraan listrik di Indonesia. Pada laman resminya, Wuling mencantumkan beberapa model EV seperti Aira EV, Eksion EV, Darion EV, New Air ev, New BinguoEV, New Cloud EV dan Mitra EV.
Wuling Aira EV misalnya ditawarkan mulai sekitar Rp155 juta berdasarkan harga OTR Jakarta yang tercantum di laman resmi Wuling. Model tersebut menyasar penggunaan perkotaan dengan bodi kompak dan konfigurasi empat pintu. Sementara New Air ev tercantum mulai sekitar Rp214 jutaan, sedangkan New BinguoEV mulai sekitar Rp318 jutaan.
Untuk konsumen yang membutuhkan kendaraan keluarga berukuran lebih besar, Wuling juga mempunyai Eksion EV dan Darion EV. Eksion EV tercantum mulai Rp399 juta dengan klaim jarak tempuh hingga 530 kilometer berdasarkan pengujian CLTC. Darion EV juga tercantum mulai Rp399 juta dengan klaim jarak tempuh hingga 540 kilometer CLTC.
Angka jarak tempuh tersebut perlu dibaca secara cermat karena metode pengujian kendaraan bisa berbeda. Konsumen sebaiknya tidak langsung menganggap jarak tempuh berdasarkan pengujian laboratorium akan selalu sama dengan kondisi penggunaan sehari-hari.
Kecepatan kendaraan, kondisi jalan, beban penumpang, penggunaan AC, gaya berkendara dan temperatur dapat memengaruhi konsumsi energi.
Persaingan mobil listrik juga semakin menarik dengan hadirnya merek seperti Jaecoo dan Geely. Pada April 2026, misalnya, data GAIKINDO mencatat Jaecoo J5 menjadi salah satu model BEV dengan penjualan wholesale tertinggi, mencapai 3.179 unit. BYD M6 berada di angka 2.472 unit, sementara BYD Sealion 7 mencapai 1.617 unit.
Pada Mei 2026, posisi model terlaris kembali mengalami perubahan. GAIKINDO mencatat Jaecoo J5 berada di posisi pertama dengan 2.943 unit, disusul Geely EX2 sebanyak 1.395 unit dan Wuling Eksion sebanyak 535 unit.
Data tersebut menunjukkan persaingan mobil listrik di Indonesia sangat dinamis dan posisi sebuah model dapat berubah dari satu bulan ke bulan berikutnya.
Hal tersebut menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. Membeli mobil listrik sebaiknya tidak hanya berdasarkan model yang sedang ramai dibicarakan.
Faktor harga, kebutuhan penggunaan, jarak tempuh, kapasitas baterai, jaringan servis, ketersediaan suku cadang, garansi baterai, fasilitas pengisian daya dan nilai jual kembali juga perlu diperhatikan.
Baca Juga: Harga Tak Terpaut Jauh, BYD Atto 1 vs Honda Brio, Harga, Performa hingga Biaya Penggunaan
Konsumen yang tinggal di perkotaan dengan akses pengisian daya di rumah biasanya mempunyai pola penggunaan berbeda dengan konsumen yang sering melakukan perjalanan antarkota.
Mobil listrik dengan baterai lebih kecil mungkin sudah mencukupi untuk aktivitas harian, sedangkan konsumen yang sering bepergian jauh dapat mempertimbangkan kendaraan dengan kapasitas baterai dan jarak tempuh lebih besar.
Infrastruktur pengisian daya juga menjadi bagian penting dalam perkembangan mobil listrik. Sebelum membeli, calon pengguna sebaiknya mengetahui lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU yang paling sering dilewati. Konsumen juga dapat mempertimbangkan pemasangan perangkat pengisian di rumah apabila kondisi kelistrikan dan kebutuhan penggunaan memungkinkan.
Selain biaya pembelian, biaya penggunaan menjadi salah satu alasan masyarakat mulai mempertimbangkan kendaraan listrik. Mobil listrik tidak menggunakan bensin dan memiliki sistem penggerak yang berbeda dengan mobil konvensional.
Meski demikian, bukan berarti seluruh biaya kepemilikan otomatis lebih rendah dalam setiap kondisi. Perhitungan tetap perlu memasukkan biaya listrik, pemasangan charger, perawatan, ban, asuransi, pajak serta depresiasi kendaraan.
Perkembangan pasar juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah. Pada 2026, pemerintah masih melakukan evaluasi terkait skema insentif kendaraan listrik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Juni 2026 menyatakan kebijakan insentif kendaraan listrik masih dievaluasi, termasuk dalam kaitannya dengan persiapan program mobil nasional.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan rencana penyusunan skema insentif berupa PPN Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP untuk kendaraan listrik. Namun, skema dan penerapannya perlu merujuk pada kebijakan pemerintah yang berlaku saat pembelian dilakukan, sehingga konsumen tidak sebaiknya menjadikan wacana insentif sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Dari sisi industri, pemerintah juga menekankan pentingnya nilai tambah kendaraan listrik di dalam negeri. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan penerima insentif EV diarahkan pada produk yang memberikan nilai tambah tinggi di Indonesia, termasuk kendaraan yang mempunyai pendalaman struktur industri yang kuat.
Dengan semakin banyaknya pilihan mobil listrik 2026, calon pembeli kini mempunyai ruang lebih luas untuk menyesuaikan kendaraan dengan kebutuhan. Mobil listrik mungil dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang lebih banyak berkendara di perkotaan, sementara SUV dan MPV listrik dapat dipertimbangkan oleh keluarga yang membutuhkan ruang lebih besar.
Konsumen juga sebaiknya membandingkan angka jarak tempuh secara hati-hati. Klaim 300 kilometer, 400 kilometer, 500 kilometer atau lebih tidak selalu berarti kendaraan akan menempuh jarak tersebut dalam semua kondisi. Standar pengujian yang digunakan produsen perlu diperhatikan agar perbandingan antar-model tidak keliru.
Baca Juga: Toyota Innova Zenix Hybrid dan BYD E6 Resmi Jadi Armada Bluebird
Dari sisi harga, pasar mobil listrik kini mempunyai rentang yang semakin lebar. Ada model dengan harga sekitar Rp150 jutaan, sementara model lain berada di kisaran Rp300 juta hingga Rp400 juta.
Pada kelas premium, harga dapat mencapai ratusan juta rupiah lebih tinggi. Daftar harga resmi juga dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan produsen dan wilayah penjualan.
Karena itu, sebelum membeli mobil listrik, konsumen sebaiknya membuat perhitungan sederhana mengenai kebutuhan penggunaan selama beberapa tahun.
Jika kendaraan digunakan setiap hari untuk perjalanan dalam kota, aspek efisiensi dan kemudahan charging mungkin lebih penting. Sebaliknya, untuk perjalanan keluarga jarak jauh, kapasitas kabin, jarak tempuh, kecepatan pengisian dan ketersediaan SPKLU menjadi faktor yang lebih relevan.
Ramainya pasar mobil listrik Indonesia pada 2026 juga menunjukkan bahwa kendaraan listrik mulai memasuki lebih banyak segmen. Konsumen tidak lagi hanya menemukan mobil listrik berukuran kecil atau sedan, tetapi juga SUV, MPV dan kendaraan komersial.
Perubahan tersebut kemungkinan membuat persaingan antarmerek semakin ketat. Data GAIKINDO hingga 2026 memperlihatkan merek dan model yang mendominasi pasar dapat berubah dari waktu ke waktu.
Karena itu, konsumen yang sedang mencari mobil listrik sebaiknya tidak hanya melihat popularitas sebuah merek, tetapi juga memeriksa spesifikasi, harga aktual, garansi, jaringan servis, fasilitas charging dan kebutuhan penggunaan sehari-hari.
Dengan pilihan yang semakin banyak, membeli mobil listrik kini bukan sekadar mengikuti tren kendaraan ramah lingkungan. Konsumen dapat memilih berdasarkan kebutuhan mobilitas, kemampuan anggaran dan fasilitas pendukung yang tersedia di wilayah tempat tinggal.
Bagi calon pembeli yang sedang mencari mobil listrik murah, mobil listrik untuk keluarga, mobil listrik dengan jarak tempuh jauh atau SUV listrik terbaru 2026, perkembangan pasar saat ini memberikan semakin banyak alternatif.
Namun, harga dan spesifikasi dapat berubah, sehingga pengecekan terakhir ke dealer resmi tetap diperlukan sebelum melakukan pembelian.
Pasar mobil listrik Indonesia pada akhirnya semakin beragam. BYD, Wuling, Jaecoo, Geely, MG, VinFast, Hyundai, Chery dan sejumlah merek lainnya ikut membentuk persaingan kendaraan listrik yang semakin ramai. Bagi konsumen, kondisi ini berarti semakin banyak pilihan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, anggaran dan pola perjalanan masing-masing.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi