RADARSEMARANG.ID – Siapa yang tak mengenal motor jenis ini?Vespa. Motor besutan Italia yang sampai saat ini masih sering kita jumpai wira-wiri di jalanan Indonesia.
Vespa, tetap masih berkeliaran di tengah dominasi sepeda motor matik modern yang menawarkan kepraktisan, teknologi, dan efisiensi.
Vespa lawas justru memiliki daya tarik yang berbeda. Skuter klasik berbodi besi buatan Piaggio, Italia, itu masih mudah ditemui di jalanan Indonesia dan kini semakin identik dengan koleksi, gaya hidup, hingga nilai historis.
Suara mesin 2-tak yang khas, desain membulat, serta bodi monokok menjadi sejumlah karakter yang membuat Vespa lawas sulit tergantikan oleh skuter modern.
Menariknya, semakin tua usia sebuah Vespa tidak selalu membuat nilainya semakin rendah. Untuk unit tertentu, kelangkaan, kondisi, kelengkapan surat, serta keaslian komponen justru dapat membuat harganya semakin tinggi.
Baca Juga: Vespa 2-Tak Pernah Jadi Raja Jalanan, Kenapa Akhirnya Disuntik Mati?
Berawal dari Puing Perang Dunia II
Kisah Vespa bermula setelah Perang Dunia II, tepatnya pada 1946. Saat itu, pabrik Piaggio yang sebelumnya memproduksi pesawat terbang mengalami kerusakan akibat perang.
Pemilik Piaggio, Enrico Piaggio, kemudian melihat kebutuhan masyarakat Italia terhadap kendaraan yang murah, praktis, dan mampu digunakan untuk mobilitas sehari-hari.
Ia meminta insinyur penerbangan Corradino D'Ascanio merancang kendaraan baru. Hasilnya bukan sepeda motor konvensional, melainkan sebuah skuter dengan desain unik dan konstruksi monokok, di mana bodinya sekaligus berfungsi sebagai struktur utama kendaraan.
Desain tersebut kemudian melahirkan sebuah kendaraan yang kelak menjadi ikon otomotif dunia.
Nama Vespa sendiri dikaitkan dengan komentar Enrico Piaggio ketika melihat purwarupa tersebut. Bentuknya yang dianggap menyerupai tawon kemudian melahirkan nama "Vespa", yang dalam bahasa Italia berarti tawon.
Baca Juga: Perjalanan Vespa di Indonesia: Dari LX, Primavera, Sprint hingga Model Lama Disuntik Mati
Vespa dan Perjalanan Panjang di Indonesia
Di Indonesia, Vespa mulai masuk secara masif pada awal dekade 1960-an. Salah satu cerita yang paling dikenal adalah Vespa Kongo, yang diberikan Pemerintah Indonesia sebagai penghargaan kepada Pasukan Garuda yang bertugas dalam misi perdamaian di Kongo.
Kehadiran Vespa kemudian berkembang dan menjadikannya bukan sekadar alat transportasi. Skuter asal Italia ini sempat menjadi simbol status sosial sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat.
Memasuki 1972, perakitan Vespa di Indonesia dimulai melalui PT Danmotor Indonesia di Pulo Gadung.
Sejumlah model kemudian menjadi bagian dari sejarah Vespa di Indonesia, termasuk Vespa Super 150, Vespa Sprint, hingga keluarga Vespa PX yang populer pada era 1980-an.
Jejak panjang tersebut ikut membuat Vespa lawas memiliki tempat khusus di kalangan pencinta otomotif Tanah Air.
Dari Motor Harian Menjadi Barang Koleksi
Perubahan zaman turut mengubah cara orang memandang Vespa lawas. Jika dahulu Vespa digunakan sebagai kendaraan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, kini sebagian unit justru dipertahankan sebagai barang koleksi dan bagian dari gaya hidup.
Model-model tertentu yang tergolong langka memiliki daya tarik lebih tinggi. Beberapa di antaranya adalah Vespa VBB, Vespa GS, serta smallframe seperti Vespa Special 90 atau PTS.
Nilai ekonominya pun bisa sangat tinggi. Di pasar motor bekas dan lingkungan komunitas pencinta skuter klasik, Vespa lawas dengan surat-surat lengkap dan komponen yang masih orisinal dapat memiliki harga hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Artinya, kondisi motor menjadi salah satu faktor penting. Vespa tua yang masih mempertahankan karakter dan komponen orisinal tentu memiliki daya tarik berbeda dibandingkan unit yang telah mengalami banyak perubahan.
Bukan Soal Kecepatan
Daya tarik Vespa lawas juga tidak semata-mata berada pada nilai ekonominya. Bagi penggemarnya, mengendarai Vespa klasik menawarkan pengalaman yang berbeda.
Performa mesin dan teknologi tentu tidak bisa disamakan dengan motor matik modern, tetapi justru karakter itulah yang menjadi bagian dari kenikmatannya.
"Mengendarai Vespa lawas itu bukan soal kecepatan, tapi soal menikmati perjalanan dan merawat sejarah," ujar salah satu kolektor skuter klasik di Jakarta.
Pandangan tersebut menggambarkan mengapa Vespa lawas tetap memiliki penggemar meski dunia otomotif terus bergerak menuju kendaraan yang semakin modern.
Baca Juga: Vespa Sprint 180 Resmi Hadir, Ini 5 Pembaruan Utama yang Bikin Performa Makin Responsif
"Satu Vespa, Sejuta Saudara"
Selain desain dan sejarahnya, kekuatan Vespa di Indonesia juga terletak pada komunitas.
Solidaritas antar-pengendara Vespa telah berkembang menjadi salah satu subkultur otomotif yang dikenal luas. Slogan "Satu Vespa, Sejuta Saudara" menjadi gambaran kuat mengenai persaudaraan yang tumbuh di antara para penggemarnya.
Bagi sebagian pemilik, Vespa bukan sekadar kendaraan yang disimpan di garasi. Ia menjadi bagian dari perjalanan, pertemanan, dan identitas.
Itulah yang membuat Vespa lawas seolah memiliki kemampuan untuk melawan usia.
Ketika motor modern berlomba menawarkan fitur terbaru dan teknologi semakin canggih, Vespa klasik justru mempertahankan sesuatu. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi