RADARSEMARANG.ID — Ada motor yang selesai masa produksinya, tetapi tidak benar-benar hilang dari ingatan para penggemarnya, dan salah satunya adalah Honda MegaPro. Bagi generasi pengendara yang tumbuh pada era 2000-an, nama Honda MegaPro bukan sekadar sebuah motor sport.
Model ini pernah menjadi bagian dari keseharian pengguna sepeda motor di Indonesia, terutama mereka yang menginginkan motor dengan posisi berkendara nyaman, mesin bertenaga, dan tampilan maskulin. Honda MegaPro pertama kali hadir di Indonesia pada 1999 sebagai penerus keluarga Honda GL Pro.
Selama kurang lebih dua dekade, model ini mengalami sejumlah perubahan besar, mulai dari desain, mesin, sistem suspensi hingga teknologi injeksi. Produksinya kemudian berakhir pada 2019.
Meski demikian, berhentinya produksi tidak serta-merta membuat nama MegaPro menghilang. Motor ini justru masih memiliki penggemar tersendiri.
Di pasar motor bekas, MegaPro lawas masih menarik perhatian karena harganya relatif terjangkau, konstruksinya dikenal sederhana, dan tersedia cukup banyak basis untuk restorasi maupun modifikasi.
Baca Juga: Honda ADV160 Flex-Fuel Bisa Pakai E85 hingga 85 Persen Etanol, Apa Bedanya dengan ADV160 Biasa?
Awal Kemunculan Honda MegaPro
Honda MegaPro mulai dikenal masyarakat Indonesia pada penghujung 1990-an. Kehadirannya menjadi bagian dari regenerasi lini motor sport Honda setelah era GL Pro. Pada masa tersebut, motor sport naked masih mempunyai tempat yang kuat di pasar Indonesia.
Motor dengan tangki besar, posisi berkendara tegap dan mesin berkapasitas sekitar 150 cc dianggap mampu memberikan kesan lebih gagah dibandingkan motor bebek yang saat itu sangat dominan. MegaPro kemudian hadir dengan karakter tersebut.
Mesinnya menawarkan performa yang cukup untuk penggunaan harian, sementara desainnya memberikan kesan motor sport yang lebih dewasa. Tidak mengherankan jika MegaPro kemudian menjadi salah satu nama yang cukup kuat di kelasnya.
1. MegaPro Neotech atau "MegaPro Hiu"
Generasi awal Honda MegaPro sering disebut sebagai MegaPro Neotech. Model yang diperkenalkan pada 1999 ini menjadi salah satu motor yang cukup mudah dikenali karena desain bodinya yang khas.
Di kalangan penggemar motor lawas, generasi tersebut juga populer dengan julukan "MegaPro Hiu". Julukan tersebut muncul karena bentuk bagian belakang dan desain lampu belakang yang dianggap menyerupai karakter ikan hiu.
Pada masa itu, MegaPro mengandalkan mesin satu silinder berpendingin udara dengan kapasitas sekitar 160 cc. Karakter mesinnya sederhana dan sesuai dengan kebutuhan pengguna yang menginginkan motor sport untuk penggunaan sehari-hari.
Desain yang cenderung mengotak juga kini justru menjadi salah satu daya tariknya. Bagi penggemar motor klasik, tampilan tersebut memberikan nuansa yang sulit ditemukan pada motor modern.
Baca Juga: Honda ADV160 India vs Indonesia, Apa Bedanya? Ternyata Ada Perbedaan Penting
2. MegaPro Primus
Memasuki pertengahan 2000-an, Honda melakukan perubahan besar terhadap MegaPro. Generasi berikutnya dikenal luas sebagai MegaPro Primus. Nama "Primus" begitu melekat karena model ini dipopulerkan melalui iklan yang menampilkan aktor Primus Yustisio.
Dari sisi desain, perubahan terlihat cukup jelas. Bentuk tangki dan bodi menjadi lebih membulat dibandingkan generasi sebelumnya. Garis desainnya juga terlihat lebih modern untuk ukuran motor sport pada zamannya.
MegaPro Primus kemudian menjadi salah satu generasi yang paling dikenal oleh masyarakat. Tidak sedikit pemilik motor generasi ini yang sampai sekarang masih mempertahankannya. Alasannya beragam.
Ada yang menyukai karakter mesin, ada yang merasa nyaman dengan posisi berkendaranya, sementara sebagian lainnya mempertahankan motor tersebut karena memiliki nilai nostalgia.
3. New MegaPro Monoshock
Perubahan terbesar datang ketika Honda memperkenalkan New MegaPro pada sekitar 2010. Kali ini Honda tidak hanya mengubah desain, tetapi juga memberikan perubahan pada konstruksi bagian belakang.
Jika generasi sebelumnya masih menggunakan suspensi ganda, generasi baru menggunakan suspensi monoshock. Perubahan tersebut membuat penampilan MegaPro terlihat lebih modern.
Desain tangki juga mendapatkan perubahan besar dengan penggunaan shroud yang membuat tampilannya lebih agresif.
Mesinnya kemudian menggunakan kapasitas 150 cc. Era ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan MegaPro karena Honda mencoba menyesuaikan desain motor sport tersebut dengan perkembangan selera konsumen. Motor naked mulai mendapatkan sentuhan desain yang lebih agresif dan modern.
4. New MegaPro FI
Generasi terakhir datang pada 2014. Honda memperkenalkan New MegaPro FI dengan sistem injeksi PGM-FI. Perubahan tersebut membuat MegaPro semakin sesuai dengan tuntutan regulasi emisi dan perkembangan teknologi sepeda motor.
Mesin 150 cc tetap menjadi jantungnya, tetapi sistem suplai bahan bakar sudah menggunakan teknologi injeksi. Secara desain, generasi ini masih mempertahankan karakter New MegaPro dengan beberapa penyegaran.
Sayangnya, perjalanan MegaPro kemudian memasuki babak terakhir. Perubahan selera konsumen membuat pasar motor sport naked semakin tertekan, sementara skutik otomatis semakin mendominasi penjualan sepeda motor di Indonesia.
Pada akhirnya, produksi MegaPro dihentikan pada 2019. Kenapa Honda MegaPro Masih Diingat?
Pertanyaan menariknya adalah: mengapa motor yang produksinya sudah berhenti bertahun-tahun masih memiliki penggemar?Jawabannya bukan hanya karena nostalgia.
MegaPro mempunyai karakter yang cukup sederhana. Pada generasi tertentu, konstruksi mesinnya relatif mudah dipahami dan perawatannya tidak serumit motor modern dengan berbagai sistem elektronik.
Bagi sebagian pemilik, hal tersebut menjadi keuntungan. Motor juga masih dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Ada yang menjadikannya kendaraan harian, ada yang merestorasi hingga mendekati kondisi standar pabrik, dan ada pula yang menjadikannya bahan dasar proyek custom.
Pesona Motor Sport Lawas
Ada sesuatu yang berbeda ketika mengendarai motor sport lawas. Tidak ada layar TFT besar. Tidak ada konektivitas smartphone, dan tidak banyak fitur elektronik.
Namun justru kesederhanaan tersebut yang membuat pengalaman berkendara terasa berbeda. Pengendara lebih banyak berinteraksi dengan mesin dan mekanisme motor.
Suara mesin, getaran, perpindahan gigi dan respons throttle menjadi bagian dari pengalaman. Bagi generasi tertentu, sensasi tersebut merupakan bagian dari kenangan masa muda.
Itulah sebabnya motor seperti MegaPro tidak selalu dinilai hanya berdasarkan spesifikasi. Nilai emosional juga ikut bermain.
Baca Juga: Usia Sudah 20 Tahun, Toyota Camry 2006 Apakah Masih Layak Dipakai Ditahun Ini?
MegaPro dan Dunia Motor Custom
Selain restorasi, Honda MegaPro juga cukup sering digunakan sebagai basis motor custom. Alasannya cukup masuk akal. Motor sport naked memiliki konstruksi yang relatif mudah dimodifikasi secara visual.
Tangki, jok, lampu, setang, suspensi hingga sistem knalpot dapat menjadi bagian dari proyek modifikasi sesuai konsep yang diinginkan.
MegaPro Primus maupun generasi monoshock dapat ditemukan dalam berbagai gaya modifikasi. Mulai dari cafe racer, scrambler, tracker hingga konsep klasik minimalis. Meski demikian, modifikasi tetap perlu memperhatikan aspek keselamatan, kelayakan jalan dan aturan yang berlaku.
Kenapa MegaPro Bekas Masih Menarik?
Salah satu alasan MegaPro tetap dicari adalah karena motor ini berada pada segmen yang cukup unik. Di satu sisi, harganya sebagai motor bekas dapat lebih terjangkau dibandingkan motor sport modern.
Di sisi lain, kapasitas mesin 150 cc memberikan karakter yang berbeda dibandingkan skutik berkapasitas kecil. Bagi pengguna yang memang menyukai motor manual, MegaPro bisa menjadi alternatif menarik untuk mendapatkan motor sport dengan biaya relatif rendah.
Namun calon pembeli harus lebih teliti. Usia kendaraan merupakan faktor penting.
Kondisi mesin, rangka, kelistrikan, kaki-kaki, surat kendaraan, ketersediaan suku cadang dan riwayat perawatan perlu diperiksa sebelum membeli.
Jangan sampai harga murah justru berujung pada biaya restorasi yang besar.
Generasi Mana yang Paling Dicari?
Tidak ada jawaban mutlak karena setiap generasi memiliki penggemarnya sendiri.
MegaPro Hiu menarik bagi kolektor yang menyukai tampilan motor sport era 1990-an dan awal 2000-an.
MegaPro Primus mempunyai nilai nostalgia yang sangat kuat karena desainnya begitu identik dengan era tersebut.
New MegaPro Monoshock lebih menarik bagi pengguna yang menginginkan tampilan modern tetapi masih menyukai karakter motor sport konvensional.
Sementara New MegaPro FI dapat menjadi pilihan bagi mereka yang menginginkan generasi paling muda dengan sistem injeksi.
Dengan demikian, pilihan terbaik sangat bergantung pada tujuan pembelian.
Apakah untuk dikendarai sehari-hari, direstorasi, dikoleksi, atau dijadikan motor custom?
MegaPro vs Tren Motor Masa Kini
Jika dibandingkan dengan motor modern, MegaPro tentu terlihat sederhana. Motor saat ini menawarkan berbagai fitur seperti sistem keyless, ABS, konektivitas smartphone, panel digital hingga teknologi mesin yang semakin efisien.
MegaPro tidak memiliki semua itu. Tetapi justru di situlah letak pesonanya. MegaPro mewakili era ketika motor sport masih memiliki identitas yang sangat kuat di jalanan Indonesia.
Tangki besar, posisi berkendara tegap, transmisi manual dan suara mesin menjadi bagian dari karakter yang sekarang semakin jarang ditemui.
Apakah MegaPro Bisa Disebut Legendaris?
Istilah "legendaris" memang subjektif. Namun, jika ukuran sebuah motor legendaris adalah mampu bertahan lama, memiliki beberapa generasi, dikenal luas, dan tetap dikenang setelah produksinya berakhir, MegaPro memiliki alasan untuk mendapatkan predikat tersebut.
Selama sekitar dua dekade, model ini menjadi salah satu bagian dari perjalanan motor sport Honda di Indonesia.
Ia hadir ketika motor sport naked masih menjadi pilihan utama banyak konsumen.
Kemudian bertahan ketika pasar perlahan bergeser menuju skutik. Dan akhirnya berhenti produksi ketika tren pasar sudah berubah cukup jauh.
Menolak Punah di Tengah Dominasi Skutik
Berhentinya produksi pada 2019 bukan berarti cerita MegaPro selesai.
Di jalanan, masih ada pemilik yang mempertahankan unitnya.
>Di bengkel, masih ada MegaPro yang direstorasi.
>Di komunitas, masih ada penggemar yang membicarakan generasi Hiu, Primus hingga Monoshock.
>Di dunia custom, motor ini juga masih menjadi salah satu basis yang menarik untuk diolah kembali.
Itulah alasan Honda MegaPro bisa disebut "menolak punah". Bukan karena produksinya masih berlangsung, tetapi karena nama dan karakternya masih hidup di tangan para pemilik dan penggemarnya.
Honda MegaPro mungkin sudah tidak lagi diproduksi. Namun, perjalanan panjangnya membuat model ini memiliki tempat tersendiri dalam sejarah sepeda motor Indonesia.
Dari MegaPro Hiu, MegaPro Primus, New MegaPro Monoshock hingga New MegaPro FI, setiap generasi membawa karakter dan kenangan yang berbeda.
Kini, ketika pasar motor didominasi skutik dan teknologi kendaraan semakin modern, MegaPro justru menjadi pengingat bahwa motor tidak selalu tentang fitur terbaru.
Ada kalanya sebuah motor dikenang karena karakter, kesederhanaan, pengalaman berkendara, dan cerita yang menyertainya.
Dan bagi para penggemarnya, Honda MegaPro bukan sekadar motor sport lawas. Ia adalah bagian dari sejarah. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi