RADARSEMARANG.ID – Chevrolet Captiva 2018 dan Nissan X-Trail 2018 sama-sama menarik untuk masyarakat yang mencari SUV bekas dengan kabin besar, posisi duduk tinggi, fitur cukup lengkap, serta kemampuan membawa keluarga. Namun karakter keduanya sangat berbeda.
Captiva menawarkan daya tarik utama lewat mesin diesel 2.0 liter turbo dengan torsi besar, sedangkan X-Trail 2018 lebih mengandalkan mesin bensin 2.0 atau 2.5 liter, kenyamanan, kemudahan penggunaan dan jaringan purna jual Nissan yang masih berjalan.
Perbandingan ini penting karena Captiva sudah tidak lagi dijual sebagai mobil baru di Indonesia. General Motors menghentikan penjualan Captiva pada 2018, tetapi Chevrolet menyatakan layanan purna jual dan penyediaan suku cadang tetap diberikan kepada pemilik kendaraan.
Sementara itu, X-Trail generasi T32 juga sudah menjadi model bekas, tetapi Nissan Indonesia masih menyediakan informasi servis berkala, suku cadang fast moving, bengkel resmi dan layanan bantuan untuk X-Trail.
Jika yang dibandingkan adalah Captiva 2.0 diesel 2018 dengan X-Trail 2.5 2018, pertarungannya menjadi sangat menarik. Captiva unggul dalam torsi dan karakter mesin diesel,
sedangkan X-Trail menawarkan mesin bensin naturally aspirated yang lebih halus serta karakter berkendara yang santai. X-Trail 2.0 juga bisa menjadi alternatif jika prioritasnya adalah penggunaan keluarga sehari-hari dengan biaya pembelian yang lebih rendah.
Dari sisi mesin, Chevrolet Captiva 2.0 VCDi menjadi salah satu alasan mengapa SUV ini masih dicari. Mesin diesel 2.0 liter turbo variable geometry menghasilkan sekitar 163 dk dan torsi maksimum 400 Nm pada 2.000 rpm. Tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi otomatis enam percepatan.
Baca Juga: Sama-Sama Tahun 2022, Innova Reborn atau Fortuner, Mesin 2GD vs 1GD, Siapa Jawaranya?
Dalam pengujian yang pernah dilakukan media otomotif, Captiva diesel mencatat konsumsi sekitar 1:9,5 di dalam kota, 1:12,5 di luar kota dan sekitar 1:14,2 pada kondisi konstan.
Angka tersebut tentu bukan jaminan konsumsi setiap mobil karena kondisi mesin, lalu lintas, gaya mengemudi dan kualitas bahan bakar sangat berpengaruh.
Angka torsi 400 Nm membuat karakter Captiva terasa berbeda dari X-Trail. Ketika mobil membawa beberapa penumpang, melewati tanjakan atau membutuhkan akselerasi dari putaran rendah, dorongan diesel terasa kuat. Pengemudi tidak harus selalu menginjak pedal gas dalam-dalam untuk mendapatkan respons.
Sementara Nissan X-Trail 2.5 2018 menggunakan mesin bensin 2.488 cc dengan tenaga sekitar 169-171 hp dan torsi 233 Nm. Transmisinya menggunakan XTRONIC CVT. Data spesifikasi yang tersedia mencatat dimensi X-Trail sekitar 4.640 mm panjang, 1.820 mm lebar, 1.720 mm tinggi dan wheelbase 2.705 mm, dengan kapasitas tujuh penumpang.
Di atas kertas, tenaga puncak X-Trail 2.5 memang sedikit lebih tinggi, tetapi torsi Captiva jauh lebih besar. Karena itu, jangan hanya melihat angka horsepower ketika membandingkan keduanya. Untuk pemakaian harian, karakter torsi sangat terasa ketika kendaraan digunakan membawa keluarga dan barang.
Captiva terasa lebih bertenaga dari putaran rendah, sedangkan X-Trail 2.5 cenderung memberikan respons yang halus dan linear. CVT pada X-Trail membuat perpindahan rasio terasa berbeda karena tidak memiliki perpindahan gigi konvensional seperti transmisi otomatis enam percepatan Captiva.
Untuk konsumsi bahan bakar, X-Trail 2.5 tentu tidak bisa mengalahkan keunggulan alami mesin diesel Captiva ketika keduanya digunakan dengan pola berkendara yang sama.
Data yang tersedia untuk X-Trail 2.5 menunjukkan sekitar 7,6 km/l dalam kota dan 12,9 km/l di jalan tol pada salah satu pengujian, meski hasil aktual bisa berbeda jauh menurut kondisi lalu lintas dan gaya mengemudi.
Jika penggunaan kendaraan lebih banyak di dalam kota dengan lalu lintas padat, selisih konsumsi bahan bakar dapat menjadi pertimbangan penting. Captiva diesel berpotensi lebih hemat ketika digunakan dengan cara berkendara yang sesuai, tetapi perawatan sistem diesel modern juga perlu diperhatikan.
Untuk masyarakat umum, pilihan mesin sebenarnya cukup sederhana. Jika sering melakukan perjalanan jauh, membawa banyak penumpang dan menginginkan tarikan kuat, Captiva diesel punya daya tarik besar. Namun jika penggunaan lebih banyak untuk aktivitas keluarga, perjalanan dalam kota dan ingin mesin yang terasa halus, X-Trail 2.5 lebih mudah diterima.
Bagaimana dengan kapasitas? Keduanya sama-sama mampu membawa tujuh penumpang. X-Trail memiliki panjang 4.640 mm dan wheelbase 2.705 mm, sedangkan Captiva memiliki dimensi sekitar 4.673 x 1.849 x 1.756 mm. Captiva sedikit lebih panjang, lebar dan tinggi sehingga secara postur terlihat lebih besar.
Untuk penggunaan keluarga, baris ketiga X-Trail dan Captiva lebih tepat dianggap sebagai kursi tambahan untuk anak atau penumpang dengan kebutuhan tertentu.
Ketika seluruh kursi digunakan, ruang bagasi tentu berkurang. Sebaliknya, ketika baris ketiga dilipat, keduanya lebih cocok untuk perjalanan keluarga dengan barang bawaan.
X-Trail mempunyai bagasi minimum sekitar 479 liter berdasarkan data salah satu listing spesifikasinya, sementara Captiva disebut memiliki kapasitas bagasi minimum sekitar 465 liter.
Perbedaan tersebut tidak terlalu menentukan dalam penggunaan sehari-hari karena konfigurasi kursi dan kondisi barang bawaan lebih berpengaruh.
Berbicara handling, Captiva mempunyai karakter SUV yang terasa kokoh. Posisi duduk tinggi dan bodinya yang lebar membuat mobil terasa mantap saat melaju di jalan besar.
Namun suspensinya dapat terasa lebih keras dibanding SUV yang mengutamakan kenyamanan. Pengujian dan pengalaman pengguna yang dihimpun media otomotif juga mencatat handling Captiva cukup baik, meski karakter suspensinya cenderung keras.
X-Trail justru mempunyai karakter yang lebih mudah diterima untuk pemakaian keluarga. Setir electric power steering membuat manuver di perkotaan relatif ringan, sedangkan suspensi belakang multilink membantu menjaga kenyamanan. X-Trail juga memiliki dimensi yang cukup besar, tetapi radius dan karakter kemudinya masih cocok untuk aktivitas perkotaan.
Di jalan tol, keduanya sama-sama nyaman. Captiva lebih menarik bagi pengemudi yang suka respons mesin dan sensasi torsi besar. X-Trail lebih cocok bagi pengemudi yang menyukai perjalanan santai, kabin nyaman dan respons mesin bensin yang halus.
Dari sisi fitur, Captiva facelift akhir menawarkan perlengkapan yang masih menarik untuk ukuran SUV 2018. Tersedia fitur keselamatan dan kenyamanan seperti ABS, EBD, electronic stability control, hill descent control, traction control, beberapa airbag, dual-zone climate control, kamera mundur serta sistem infotainment. Beberapa varian juga memiliki perlengkapan yang lebih lengkap.
X-Trail 2018 juga tidak kalah menarik. Tergantung varian, pengguna bisa mendapatkan cruise control, kamera 360 derajat, power back door, keyless entry, push start, head unit touchscreen, konektivitas Bluetooth, USB dan AUX, serta fitur keselamatan seperti Vehicle Dynamic Control dan Hill Start Assist.
Dalam urusan fitur, X-Trail 2.5 varian tinggi cenderung lebih menarik untuk keluarga yang mengutamakan kemudahan. Kamera 360 derajat dan power back door misalnya, terasa sangat berguna ketika mobil digunakan setiap hari.
Lalu bagaimana harga? Ini menjadi salah satu bagian paling menarik karena kedua mobil sekarang harus dilihat sebagai mobil bekas. Untuk X-Trail 2018, listing pasar bekas yang tersedia saat ini menunjukkan X-Trail 2.0 berada di sekitar Rp169-199 jutaan pada sejumlah unit, sedangkan X-Trail 2.5 banyak ditemukan sekitar Rp165-205 jutaan, tergantung kilometer, kondisi, varian dan lokasi.
Harga Captiva 2018 lebih sulit dipatok karena unit tahun tersebut relatif jarang di pasar dan status produksinya sudah berakhir. Sebagai gambaran, listing Captiva diesel tahun 2017 berada di sekitar Rp177-185 jutaan pada beberapa unit yang tersedia, sedangkan harga mobil bekas Chevrolet sangat dipengaruhi kondisi dan riwayat perawatan.
Artinya, pembeli tidak seharusnya memilih hanya berdasarkan harga termurah. Captiva yang murah tetapi membutuhkan perbaikan sistem diesel, transmisi, turbo atau komponen kaki-kaki dapat berubah menjadi jauh lebih mahal setelah dibeli. Begitu pula X-Trail murah yang ternyata membutuhkan perhatian pada CVT atau komponen lainnya.
Justru pada mobil bekas berusia sekitar delapan tahun, kondisi unit harus menjadi pertimbangan utama. Riwayat servis, kondisi transmisi, mesin, kaki-kaki, sistem pendingin, kelistrikan dan kelengkapan dokumen lebih penting daripada sekadar selisih harga Rp10-20 juta.
Bagian yang paling sering membuat calon pembeli ragu terhadap Captiva adalah purna jual. Kekhawatiran tersebut wajar karena Chevrolet sudah menghentikan penjualan mobil baru di Indonesia sejak 2020. Namun Chevrolet Indonesia secara resmi menyatakan tetap melanjutkan layanan purna jual dan customer service serta menyediakan suku cadang asli melalui operasi layanan resmi.
Jadi, bukan berarti Captiva otomatis tidak bisa dirawat. Hanya saja, dibandingkan Nissan, calon pembeli perlu lebih teliti memastikan lokasi bengkel resmi atau spesialis Chevrolet yang dapat menangani mobil tersebut. Chevrolet sendiri masih menyediakan informasi operasi layanan resmi dan layanan pelanggan.
Nissan mempunyai keuntungan pada aspek jaringan dan kesinambungan layanan. Nissan Indonesia masih menyediakan halaman biaya servis X-Trail, informasi suku cadang fast moving, layanan service appointment, visiting service dan layanan bantuan.
Baca Juga: Sama-Sama Diesel, Panther Grand Touring atau Innova yang Lebih Layak Dibeli?
Untuk masyarakat umum yang ingin mobil digunakan dalam jangka panjang, faktor ini cukup penting. Bukan berarti suku cadang Captiva pasti sulit, tetapi akses terhadap bengkel dan teknisi yang familiar dengan mobil tersebut dapat berbeda menurut kota.
Untuk suku cadang, Captiva masih memiliki dukungan suku cadang asli Chevrolet. Chevrolet menyatakan dealer resmi merupakan tempat yang tepat untuk memperoleh suku cadang resmi. Nissan juga memiliki daftar harga fast moving parts khusus X-Trail sehingga konsumen dapat memperoleh gambaran biaya sejumlah komponen perawatan.
Dari sisi durability, keduanya sebenarnya dapat digunakan dalam jangka panjang selama perawatan dilakukan dengan benar. Tetapi cara merawatnya berbeda.
Captiva diesel sangat bergantung pada kualitas perawatan mesin diesel, sistem bahan bakar, turbo, pendinginan dan transmisi. X-Trail bensin relatif lebih sederhana dari sisi sistem pembakaran diesel, tetapi transmisi CVT membutuhkan perhatian terhadap kondisi dan riwayat perawatannya.
Karena itu, klaim bahwa salah satu mobil pasti lebih awet tidak sepenuhnya tepat. Captiva dengan riwayat servis bagus bisa menjadi kendaraan keluarga yang sangat menyenangkan. Sebaliknya, X-Trail dengan perawatan buruk juga bisa menimbulkan biaya besar.
Jika membeli Captiva 2018 bekas, pemeriksaan mesin diesel harus menjadi prioritas. Perhatikan suara mesin, asap, respons turbo, temperatur mesin, kebocoran oli atau coolant, respons transmisi dan kondisi kaki-kaki.
Jangan hanya terpaku pada odometer karena mobil dengan kilometer lebih tinggi tetapi mempunyai riwayat servis lengkap bisa lebih aman dibanding unit dengan kilometer rendah tetapi riwayatnya tidak jelas.
Pada X-Trail 2018, perhatian khusus sebaiknya diberikan kepada transmisi CVT. Rasakan apakah akselerasi berjalan halus, apakah terdapat gejala hentakan atau respons yang tidak normal, dan pastikan riwayat perawatan tersedia. Kondisi mesin, sistem pendingin, kaki-kaki serta kelistrikan juga harus diperiksa.
Kalau pertanyaannya kemudian berubah menjadi “Chevrolet Captiva 2018 atau Nissan X-Trail 2018, mana yang lebih bagus?”, jawabannya bergantung pada prioritas. Untuk performa dan torsi, Captiva diesel lebih menarik. Untuk konsumsi BBM, Captiva juga punya keunggulan potensial berkat mesin diesel.
Untuk kenyamanan penggunaan sehari-hari dan kemudahan layanan purna jual, X-Trail lebih aman bagi masyarakat umum. Untuk fitur keluarga, X-Trail 2.5 varian tinggi juga sangat menarik. Untuk rasa berkendara, Captiva terasa lebih berkarakter, sedangkan X-Trail lebih santai dan halus.
Baca Juga: Kijang Kapsul Diesel vs Panther Grand Touring, Dua Raja Diesel Era 2000-an
Jika prioritas utama adalah tenaga, sering keluar kota, melewati jalan menanjak dan membawa penumpang penuh, Captiva 2.0 diesel layak dipertimbangkan. Torsi 400 Nm menjadi keunggulan yang sulit diabaikan.
Jika prioritasnya adalah mobil keluarga yang digunakan setiap hari, ingin fitur lengkap, nyaman dikendarai dan tidak ingin terlalu khawatir mengenai kesinambungan jaringan purna jual, X-Trail 2018 lebih masuk akal. Nissan juga masih menyediakan dukungan servis dan informasi suku cadang untuk X-Trail.
Namun ada satu hal yang sering dilupakan calon pembeli mobil bekas: kondisi unit mengalahkan merek. X-Trail 2018 dengan CVT sehat, riwayat servis jelas dan kondisi kaki-kaki prima jauh lebih menarik daripada Captiva murah yang membutuhkan banyak perbaikan. Sebaliknya, Captiva diesel dengan riwayat servis resmi dan mesin sehat bisa menjadi pilihan yang sangat menarik jika harganya tepat.
Kesimpulannya, Chevrolet Captiva 2018 adalah pilihan bagi masyarakat yang mencari SUV tujuh penumpang dengan karakter mesin diesel kuat, torsi besar dan konsumsi BBM yang berpotensi lebih efisien.
Nissan X-Trail 2018 lebih cocok bagi keluarga yang mengutamakan kenyamanan, fitur, mesin bensin yang halus dan akses layanan purna jual yang lebih berkelanjutan.
Kalau harus memilih satu untuk pemakaian masyarakat umum tanpa ingin terlalu banyak kompromi, Nissan X-Trail 2018 menjadi pilihan yang lebih aman secara keseluruhan. Tetapi jika menemukan Captiva diesel 2018 dengan kondisi sangat sehat, riwayat perawatan jelas dan harga yang masuk akal, jangan buru-buru mengabaikannya. Dari sisi performa mesin, SUV Chevrolet tersebut masih mempunyai satu senjata yang sulit ditandingi: torsi diesel 400 Nm.
Jadi, Captiva menang di karakter mesin dan torsi, X-Trail menang di kemudahan penggunaan serta kesinambungan layanan. Pada akhirnya, bukan sekadar mana yang lebih bagus, melainkan mana yang kondisinya paling sehat dan paling sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Untuk mobil bekas 2018, itulah faktor yang paling menentukan apakah pembelian akan terasa hemat atau justru menjadi sumber pengeluaran baru.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi