RADARSEMARANG.ID – Bagi konsumen yang sedang mencari mobil keluarga diesel bekas dengan harga relatif terjangkau, dua nama yang masih menarik untuk dipertimbangkan adalah Suzuki Ertiga Diesel dan Chevrolet Spin Diesel.
Keduanya sama-sama menggunakan mesin diesel 1.3 liter, sama-sama berkapasitas tujuh penumpang, serta menawarkan karakter mesin yang mengutamakan torsi dan efisiensi bahan bakar.
Namun, ketika yang dicari bukan sekadar mobil unik, melainkan kendaraan untuk dipakai sehari-hari, bekerja, mengantar keluarga, perjalanan luar kota, hingga dipelihara bertahun-tahun, perbedaannya menjadi cukup penting.
Suzuki Ertiga Diesel yang masuk Indonesia pada 2017 menggunakan mesin D13A DDiS 1.248 cc dengan teknologi turbo diesel dan sistem Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS).
Tenaganya mencapai 89 PS pada 4.000 rpm dengan torsi 200 Nm pada 1.750 rpm. Transmisinya hanya manual lima percepatan. Chevrolet Spin Diesel juga memakai mesin 1.3 liter turbo diesel, tetapi outputnya sekitar 75 PS dan torsi 190 Nm. Dari angka di atas kertas saja, Ertiga Diesel memiliki keunggulan tenaga dan torsi, sekaligus mendapatkan bantuan teknologi mild hybrid.
Jika fokus utama konsumen adalah performa, Ertiga Diesel lebih menarik. Mesin diesel 1.3 liternya terasa kuat sejak putaran rendah. Torsi maksimum 200 Nm pada 1.750 rpm membuat mobil relatif mudah diajak menanjak,
membawa penumpang penuh, atau melakukan akselerasi ketika membutuhkan tenaga tambahan. Karakter ini sangat terasa pada penggunaan sehari-hari karena pengemudi tidak harus selalu menginjak pedal gas dalam-dalam untuk mendapatkan dorongan.
Baca Juga: Sama-Sama Diesel, Panther Grand Touring atau Innova yang Lebih Layak Dibeli?
Chevrolet Spin Diesel sebenarnya juga bukan mobil yang lambat. Pengujian detikOto terhadap Spin Diesel mencatat karakter mesin 1.300 cc turbo diesel yang responsif, bahkan mampu memberikan dorongan kuat ketika melewati tanjakan.
Spin juga disebut tetap terasa mantap ketika digunakan pada kecepatan tinggi. Kekurangannya, suara mesin diesel lebih mudah terdengar masuk ke kabin.
Dari sisi konsumsi bahan bakar, keduanya sama-sama memiliki reputasi sebagai mobil diesel yang irit. Namun angka konsumsi BBM jangan dipahami sebagai angka mutlak karena kondisi lalu lintas, kualitas bahan bakar, kondisi injektor, turbo, ban, beban kendaraan, AC, hingga gaya mengemudi sangat memengaruhi hasil akhir.
Ertiga Diesel memiliki catatan pengujian yang sangat menarik. Dalam pengujian Otomotifnet, konsumsi mencapai 31,14 km per liter dengan metode full-to-full dalam sebuah uji efisiensi yang memang dilakukan dengan teknik mengemudi sangat ekonomis. Pada kondisi berbeda, angka MID tercatat sekitar 21 km per liter.
Pengujian pengguna juga menunjukkan hasil yang bervariasi, mulai dari sekitar 15 km per liter pada kondisi berat hingga mendekati 20 km per liter pada perjalanan antarkota atau tol.
Artinya, konsumen sebaiknya tidak membeli Ertiga Diesel hanya karena melihat klaim 20 atau 30 km per liter. Untuk penggunaan normal, angka riil bisa jauh lebih rendah.
Yang lebih penting adalah efisiensi konsisten. Mesin diesel dengan torsi besar memungkinkan mobil tetap bergerak dengan putaran mesin rendah sehingga konsumsi bahan bakar dapat ditekan apabila pengemudi mampu memanfaatkan karakter mesin tersebut.
Spin Diesel juga terkenal irit. Catatan pengguna yang dihimpun di forum otomotif menunjukkan konsumsi sekitar 14-17 km per liter pada penggunaan campuran, walaupun hasil masing-masing kendaraan tentu berbeda.
Dengan usia Spin Diesel yang lebih tua dibanding Ertiga Diesel, kondisi kendaraan menjadi faktor yang jauh lebih menentukan. Spin yang injektornya sehat, turbo bekerja normal dan sistem bahan bakarnya terawat dapat tetap hemat, sedangkan unit yang sudah lelah bisa mengalami penurunan konsumsi BBM cukup besar.
Untuk kapasitas, keduanya sama-sama menawarkan tujuh tempat duduk. Ertiga Diesel mempunyai tangki bahan bakar 45 liter dan konfigurasi kabin tiga baris. Spesifikasi resmi Ertiga menunjukkan kapasitas bagasi 153 liter ketika baris ketiga digunakan, 550 liter ketika baris ketiga dilipat dengan konfigurasi tertentu, dan hingga 803 liter pada volume maksimum.
Spin juga menawarkan tujuh tempat duduk dan secara konsep memang dirancang sebagai MPV keluarga. Salah satu kelebihan Spin adalah desain kabinnya yang terasa cukup fungsional untuk membawa keluarga. Posisi duduk dan konfigurasi kabin membuat mobil ini tetap masuk akal untuk kebutuhan harian maupun perjalanan luar kota.
Untuk konsumen yang sering membawa tujuh orang, keduanya cukup layak, tetapi jangan berharap ruang baris ketiga selapang MPV berukuran lebih besar.
Ketika seluruh kursi digunakan, ruang bagasi otomatis menyusut. Karena itu, jika keluarga sering bepergian dengan tujuh orang sekaligus membawa banyak barang, kapasitas bagasi perlu diperhitungkan sebelum membeli.
Baca Juga: Banyak yang Keliru! Ternyata Toyota Kijang Diesel Pertama Bukan Innova, Melainkan Mobil Ini
Masuk ke sektor handling, Ertiga Diesel terasa lebih ringan dan mudah dikendalikan. Bobot kendaraan yang relatif rendah dipadukan dengan sistem kemudi rack and pinion serta suspensi depan MacPherson dan belakang torsion beam.
Karakter tersebut membuat Ertiga cukup mudah diajak bermanuver di jalan perkotaan dan parkir di area sempit. Spesifikasi Ertiga Diesel mencatat radius putar sekitar 5,2 meter dan ukuran ban 185/65 R15.
Spin Diesel mempunyai karakter yang sedikit berbeda. Pengujian detikOto menyebut setirnya ringan dan mobil cukup gesit ketika digunakan bermanuver di kemacetan. Namun, suspensinya dinilai cenderung keras. Ini menjadi salah satu perbedaan penting bagi konsumen yang mengejar kenyamanan.
Dari sisi rasa berkendara, Spin memiliki karakter yang lebih kokoh dan terasa cukup mantap ketika melaju, sementara Ertiga lebih mudah diajak bergerak di perkotaan.
Untuk penggunaan keluarga sehari-hari, perbedaan ini sebenarnya kembali kepada selera. Konsumen yang mengutamakan kemudahan manuver kemungkinan lebih menyukai Ertiga, sedangkan mereka yang menyukai rasa berkendara yang lebih berbobot bisa mempertimbangkan Spin.
Soal fitur, Ertiga Diesel mempunyai keunggulan menarik karena SHVS. Sistem ini menggunakan Integrated Starter Generator atau ISG yang membantu fungsi start-stop dan memberikan bantuan tenaga ketika kondisi tertentu.
Sistem tersebut juga memanfaatkan energi saat deselerasi untuk membantu pengisian baterai. Suzuki memang menyebut teknologi tersebut sebagai salah satu bagian penting dari Ertiga Diesel Hybrid.
Ertiga Diesel juga memiliki Gear Shift Indicator yang membantu pengemudi menentukan waktu perpindahan gigi. Fitur ini bukan sekadar gimmick karena karakter mesin diesel memang dapat dimanfaatkan dengan baik pada putaran rendah. Beberapa perlengkapan seperti rear defogger, heater, serta fitur eksterior tertentu juga tersedia pada varian Diesel.
Spin Diesel mempunyai perlengkapan yang cukup untuk ukuran mobil keluarga pada masanya, tetapi teknologi dan fitur yang ditawarkan tidak semodern Ertiga Diesel.
Hal tersebut wajar karena Spin merupakan produk yang lebih tua. Konsumen saat ini harus menilai kondisi aktual fitur, bukan hanya daftar fitur ketika mobil masih baru.
Inilah bagian yang membuat perbandingan Ertiga Diesel dan Chevrolet Spin Diesel menjadi semakin menarik: harga beli bekas.
Pada pasar mobil bekas 2026, Chevrolet Spin Diesel terlihat berada di kisaran sekitar Rp70 jutaan sampai Rp90 jutaan lebih, tergantung tahun, kondisi, kilometer dan lokasi. Sejumlah listing Spin Diesel 2013-2015 yang muncul di pasar online berada di kisaran Rp75 juta-Rp97 juta.
Baca Juga: Desil 9 dan 10 Jadi Sorotan, Benarkah Tak Bisa Lagi Beli Pertalite?
Ertiga Diesel 2017 cenderung lebih mahal. Sejumlah listing pasar menunjukkan unit 2017 berada sekitar Rp123 juta-Rp165 juta, sementara referensi harga bekas lainnya menempatkan Ertiga Diesel 2017 di kisaran Rp120 juta-Rp145 jutaan, tergantung kondisi dan kelengkapan.
Perbedaan harga tersebut cukup besar. Dengan anggaran sekitar Rp80 juta, konsumen mungkin sudah dapat menemukan Spin Diesel yang kondisinya layak. Sementara untuk masuk ke Ertiga Diesel, anggaran yang dibutuhkan umumnya lebih tinggi.
Namun harga murah bukan berarti biaya kepemilikan otomatis lebih murah. Usia kendaraan harus menjadi pertimbangan. Spin Diesel 2013-2015 kini sudah memasuki usia lebih dari satu dekade. Komponen seperti selang, karet-karet, kaki-kaki, sistem pendingin, turbo, injektor, kopling dan komponen kelistrikan harus diperiksa lebih teliti. Ertiga Diesel 2017 memang lebih muda, tetapi teknologi diesel common rail dan SHVS juga membuat pemeriksaan sistem elektronik dan komponen diesel menjadi penting.
Untuk urusan purna jual, Ertiga Diesel jelas memiliki keuntungan karena Suzuki masih menjalankan jaringan penjualan dan layanan purnajual kendaraan Suzuki di Indonesia. Bahkan produk Ertiga generasi berikutnya masih tercantum dalam jaringan resmi Suzuki.
Sementara itu, konsumen Chevrolet harus menghadapi kenyataan bahwa Chevrolet sudah tidak lagi menjual kendaraan baru di Indonesia. Karena itu, keberadaan bengkel resmi dan dukungan suku cadang tidak bisa disamakan dengan Suzuki yang masih aktif menjual kendaraan.
Untuk pemilik Spin, akses terhadap bengkel yang benar-benar memahami Chevrolet dan ketersediaan beberapa komponen menjadi pertimbangan yang lebih penting.
Ini bukan berarti Chevrolet Spin otomatis sulit dirawat. Mesin diesel 1.3 liter yang digunakan Spin memiliki hubungan teknis dengan keluarga mesin yang juga digunakan pada model lain, sehingga sebagian komponen mekanis masih memiliki jalur aftermarket. Namun konsumen harus lebih teliti dalam mencari bengkel yang benar-benar menguasai sistem common rail dan kendaraan Chevrolet.
Untuk suku cadang, Ertiga kembali lebih aman bagi konsumen harian. Populasi Suzuki di Indonesia sangat besar dan jaringan bengkel resminya luas. Komponen fast moving relatif lebih mudah dicari, sementara komponen tertentu yang hanya digunakan Ertiga Diesel tetap perlu ditanyakan ketersediaannya sebelum membeli.
Baca Juga: Kijang Kapsul Pick Up Ternyata Masih Punya Taji, Cek Mesin, Konsumsi BBM dan Harganya
Spin memiliki keuntungan dari harga beli awal yang rendah, tetapi konsumen perlu menyediakan dana cadangan untuk perawatan. Jangan membeli Spin Diesel hanya karena harga unitnya terlihat murah.
Pemeriksaan injektor, turbo, kopling, sistem pendingin, kaki-kaki dan kelistrikan jauh lebih penting daripada sekadar melihat odometer. Untuk durability atau daya tahan, kedua mesin diesel sebenarnya memiliki potensi panjang umur apabila dirawat dengan benar.
Mesin diesel 1.3 turbo pada Ertiga dan Spin bukan tipe mesin yang harus ditakuti hanya karena menggunakan common rail. Yang menentukan umur panjang adalah kualitas perawatan, interval penggantian oli dan filter, kualitas bahan bakar, kondisi sistem pendingin, serta kebiasaan pemilik.
Ertiga Diesel memiliki keuntungan dari usia yang lebih muda dan teknologi SHVS, tetapi sistem yang lebih kompleks juga berarti ada komponen tambahan yang perlu diperhatikan. Spin memiliki teknologi yang lebih sederhana dari sisi hybrid karena tidak menggunakan SHVS, tetapi rata-rata usia unitnya lebih tua.
Karena itu, untuk konsumen yang menginginkan mobil dipakai setiap hari dan tidak ingin terlalu repot mencari jaringan layanan, Ertiga Diesel merupakan pilihan yang lebih rasional.
Mesin 1.3 DDiS dengan torsi 200 Nm memberikan performa kuat, konsumsi BBM sangat efisien bila kondisi kendaraan sehat, kabin tujuh penumpang cukup fungsional, handling mudah, dan dukungan merek Suzuki di Indonesia menjadi nilai tambah.
Spin Diesel menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang memiliki anggaran pembelian lebih terbatas. Dengan harga sekitar Rp70 juta-Rp90 jutaan, mobil ini menawarkan mesin diesel turbo 1.3 liter yang responsif, tujuh tempat duduk,
konsumsi bahan bakar yang relatif hemat, serta karakter berkendara yang masih menyenangkan. Namun konsekuensinya adalah usia kendaraan lebih tua dan aspek purna jual harus diperhitungkan lebih serius.
Jadi, Ertiga Diesel atau Chevrolet Spin Diesel? Jika pertanyaannya adalah mobil mana yang lebih aman untuk konsumen yang ingin membeli, menggunakan dan merawatnya sebagai kendaraan keluarga, Ertiga Diesel lebih unggul secara keseluruhan. Spin Diesel hanya lebih menarik apabila prioritas pertama adalah mendapatkan mobil diesel tujuh penumpang dengan modal pembelian serendah mungkin.
Dengan kata lain, Ertiga Diesel unggul pada kombinasi performa, efisiensi, usia kendaraan, fitur, jaringan servis, kemudahan perawatan dan potensi penggunaan jangka panjang.
Spin Diesel unggul pada harga masuk yang lebih murah dan karakter mesin yang tetap kuat. Tetapi selisih harga pembelian sebaiknya jangan langsung dianggap sebagai keuntungan, sebab unit Chevrolet Spin Diesel yang sudah berusia lebih dari 10 tahun membutuhkan pemeriksaan jauh lebih teliti.
Bagi calon pembeli, pilihan paling aman bukan sekadar mencari unit dengan harga termurah. Cari Ertiga Diesel atau Spin Diesel dengan riwayat servis jelas, kondisi mesin sehat, tidak ada gejala turbo bermasalah, injektor bekerja normal, sistem pendingin terawat, kopling masih baik, kaki-kaki tidak bermasalah dan kelistrikan tidak banyak dimodifikasi. Untuk mobil diesel bekas, kondisi unit jauh lebih penting daripada sekadar tahun produksi.
Pada akhirnya, jika dana pembelian tersedia dan targetnya adalah mobil keluarga diesel yang digunakan setiap hari, Suzuki Ertiga Diesel layak menjadi pilihan utama. Jika dana terbatas dan konsumen siap melakukan pemeriksaan lebih detail terhadap kondisi kendaraan serta mencari bengkel yang memahami Chevrolet, Spin Diesel tetap bisa menjadi alternatif.
Keduanya punya kelebihan masing-masing, tetapi untuk konsumen umum pada 2026, Ertiga Diesel menawarkan paket kepemilikan yang lebih mudah dan lebih masuk akal.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi