RADARSEMARANG.ID – Salah satu motor laki yang pernah berjaya di Indonesia, sebelum serbuan motor matik adalah Honda GL Pro, motor besutan PT Astra Honda Motor (AHM).
Dan, kini seiring dengan kembali menggeliatnya pasar motor retro di tanah air dalam beberapa tahun terakhir, pamor motor sport batangan era tahun 1980-1990an kembali terangkat.
Salah satu model yang kini kembali bersinar adalah Honda GL Pro. Motor sport 4-tak legendaris ini perlahan berubah status dari kendaraan komuter harian, menjadi barang hobi yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya pencinta otomotif yang memburu GL Pro dalam kondisi orisinal.
Baca Juga: Honda NX500 Resmi Hadir di Indonesia, Moge Adventure Ini Punya Modal Besar
Bahkan, beberapa unit dengan kelengkapan surat dan komponen bawaan pabrik kini ditawarkan dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan satu dekade lalu.
Tiga Generasi Honda GL Pro yang Melegenda
Honda GL Pro memiliki sejarah panjang di Indonesia. Model ini dikenal melalui tiga generasi utama, yakni White Engine, Black Engine, dan Neotech.
Generasi White Engine dipasarkan pada periode 1985-1991. Setelah itu, Honda menghadirkan GL Pro Black Engine pada 1992-1994, sebelum generasi Neotech menjadi penutup perjalanan model tersebut pada 1995-1999.
Dari ketiga generasi tersebut, Honda GL Pro Black Engine menjadi salah satu varian yang paling banyak diburu kolektor dan penghobi motor lawas.
Statusnya yang didatangkan secara utuh atau CBU serta reputasi mesin dengan blok berwarna hitam membuat varian ini memiliki daya tarik tersendiri di kalangan penggemar GL Pro.
Karakter mesinnya yang dikenal bertenaga dan responsif turut membuat Black Engine memiliki posisi khusus di pasar motor bekas.
Honda GL Pro, Motor Lawas yang Tangguh di Tanjakan
Popularitas Honda GL Pro bukan semata-mata karena faktor nostalgia. Motor ini sejak dahulu dikenal memiliki konstruksi yang sederhana sekaligus tangguh.
GL Pro menggunakan Diamond Frame yang kokoh serta mesin SOHC 4-tak berpendingin udara. Kombinasi tersebut membuatnya dikenal mampu menghadapi berbagai kondisi jalan.
Di sejumlah kawasan dengan medan berat, termasuk kawasan wisata ekstrem seperti Gunung Bromo, GL Pro bahkan masih digunakan sebagai kendaraan operasional dan armada ojek.
Kemampuan melewati medan pasir serta tanjakan menjadi salah satu alasan mengapa motor lawas ini masih memiliki penggemar hingga sekarang.
Baca Juga: Motor Sport 150 cc Terbaik, Pilih Honda CBR150R, Yamaha R15 Atau Kawasaki Ninja?
Suku Cadang Mudah Dicari Jadi Nilai Tambah
Selain terkenal kuat, salah satu keunggulan Honda GL Pro adalah konstruksi mesinnya yang relatif sederhana. Kondisi tersebut membuat proses perawatan dan perbaikan lebih mudah dilakukan.
Ketersediaan suku cadang juga menjadi faktor penting. Sejumlah komponen memiliki kesamaan atau keterkaitan dengan motor Honda generasi berikutnya, termasuk MegaPro dan Tiger. Hal ini membuat pemilik GL Pro tidak selalu kesulitan ketika membutuhkan komponen pengganti.
Bagi penghobi motor tua, faktor kemudahan perawatan tersebut menjadi nilai tambah. Motor bisa tetap digunakan sebagai kendaraan harian, sekaligus menjadi bahan restorasi atau proyek modifikasi.
Basis Favorit untuk Modifikasi Motor Klasik
Popularitas Honda GL Pro juga semakin terdongkrak oleh berkembangnya custom culture di Indonesia. Bentuk rangka dan proporsi bodinya dinilai cukup ideal untuk dijadikan basis berbagai aliran modifikasi.
Tidak sedikit pemilik yang mengubah GL Pro menjadi motor bergaya CB-Look, Cafe Racer, Scrambler hingga Tracker. Karakter motor yang sederhana justru memberikan ruang bagi pemilik untuk berkreasi.
Komponen bodi dapat disesuaikan dengan konsep yang diinginkan tanpa menghilangkan identitas dasar motor lawas tersebut.
Di tangan builder atau penghobi, GL Pro yang sebelumnya terlihat sebagai motor tua dapat berubah menjadi motor custom dengan tampilan yang jauh lebih modern dan berkarakter.
Harga Honda GL Pro Bekas Kini Makin Tinggi
Meningkatnya popularitas Honda GL Pro ikut berdampak terhadap harga di pasar motor bekas. Unit dengan orisinalitas tinggi, surat-surat lengkap, pajak hidup, serta komponen bawaan pabrik kini dapat ditawarkan di kisaran belasan hingga puluhan juta rupiah, tergantung generasi, kondisi, kelengkapan, dan tingkat orisinalitasnya.
Kondisi tersebut berbeda jauh dengan sekitar satu dekade lalu. Pada masa itu, Honda GL Pro masih mudah ditemukan dengan harga bekas yang berada di kisaran Rp3 jutaan.
Kini, unit yang benar-benar terawat dan masih mempertahankan komponen orisinal justru semakin sulit ditemukan. Kelangkaan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong harga jualnya.
Meski demikian, harga motor lawas seperti GL Pro sangat bergantung pada kondisi unit dan kesepakatan antara penjual dengan calon pembeli. Karena itu, harga tinggi tidak otomatis berlaku untuk seluruh unit GL Pro di pasar.
Baca Juga: Bukan Sulap! Ini Alasan Honda Brio Satya Tetap Jadi 'Raja' Mobil Murah di GIIAS 2026
Bukan Sekadar Motor Tua
Kembalinya Honda GL Pro ke panggung motor retro menunjukkan bahwa usia kendaraan tidak selalu menentukan nilai sebuah motor. Bagi sebagian orang, GL Pro merupakan kendaraan nostalgia yang mengingatkan pada era 1980-an dan 1990-an.
Bagi penghobi lain, motor ini menjadi bahan modifikasi yang menawarkan karakter berbeda dibandingkan motor modern. Sementara bagi kolektor, unit dengan kondisi orisinal dan dokumen lengkap memiliki daya tarik tersendiri karena semakin sulit ditemukan.
Dengan kombinasi sejarah, ketangguhan mesin, kemudahan perawatan, fleksibilitas modifikasi, dan nilai nostalgia, Honda GL Pro kini bukan lagi sekadar motor lawas.
Motor sport legendaris tersebut telah berkembang menjadi bagian dari budaya otomotif sekaligus barang hobi yang memiliki nilai ekonomi. Tak heran jika pamornya kembali naik dan harga unit-unit terbaiknya ikut melesat di pasar motor bekas. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi