Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

BYD M6 Dual Mode Unjuk Kemampuan di Tol Trans Jawa, Tawarkan Solusi Transisi Menuju Era Kendaraan Elektrifikasi

Adrianto Ismawan • Selasa, 16 Juni 2026 | 11:05 WIB
Test Drive BYD M 6 di Semarang, Senin (15/6/2026). 
Test Drive BYD M 6 Dual Mode (DM) di Semarang, Senin (15/6/2026). 

 

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – PT BYD Motor Indonesia memperkenalkan secara langsung kemampuan kendaraan elektrifikasi terbarunya, BYD M6 Dual Mode (DM), melalui kegiatan test drive yang melibatkan sejumlah jurnalis otomotif dan media di Semarang, Senin (15/6/2026). 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkenalkan teknologi Dual Mode kepada masyarakat sekaligus membuktikan performa kendaraan dalam kondisi penggunaan nyata.

Baca Juga: BYD Atto 1 Resmi Meluncur di Indonesia: Harga Mulai Rp195 Juta, Fitur Modern & Baterai Tangguh

Rute pengujian dimulai dari Kota Semarang menuju Salatiga melalui ruas Tol Trans Jawa. 

Sepanjang perjalanan, peserta diajak merasakan langsung berbagai aspek kendaraan.

Mulai dari performa mesin, kenyamanan kabin, stabilitas berkendara, hingga tingkat efisiensi energi yang menjadi salah satu keunggulan utama mobil tersebut.

Perjalanan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk menguji kendaraan pada beragam kondisi jalan. 

Mulai dari kepadatan lalu lintas perkotaan di Semarang hingga lintasan tol yang memungkinkan kendaraan melaju dengan kecepatan konstan menuju kawasan Salatiga.

Baca Juga: Penuhi Kebutuhan City Car Ramah Lingkungan, BYD ATTO 1 Hadir di GIIAS Semarang

BYD M6 DM hadir dengan teknologi Dual Mode yang mengombinasikan sistem penggerak listrik dan mesin berbahan bakar bensin. 

Kombinasi tersebut dirancang untuk menghadirkan fleksibilitas yang lebih tinggi, baik untuk penggunaan sehari-hari di dalam kota maupun perjalanan jarak jauh.

Sebagai kendaraan keluarga di segmen Multi Purpose Vehicle (MPV), mobil ini menawarkan karakter berkendara yang senyap dan responsif layaknya kendaraan listrik murni. 

Namun di saat bersamaan, pengguna tetap mendapatkan dukungan mesin konvensional yang mampu memperluas jarak tempuh tanpa harus bergantung sepenuhnya pada fasilitas pengisian daya listrik.

Salah satu jurnalis asal Semarang, Alif menilai perjalanan melalui Tol Trans Jawa menjadi kesempatan ideal untuk mengukur kemampuan kendaraan secara menyeluruh.

“Perjalanan Semarang–Salatiga melalui Tol Trans Jawa menjadi salah satu pembuktian kemampuan mobil ini dalam menjaga kenyamanan kabin, kestabilan saat melaju, serta efisiensi energi selama perjalanan,” ujarnya.

Di sela kegiatan test drive, Head of Marketing, PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menjelaskan bahwa kehadiran teknologi Dual Mode di Indonesia merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menjawab kebutuhan pasar yang masih berada pada fase transisi menuju kendaraan listrik.

Menurutnya, BYD melihat masih banyak konsumen yang belum sepenuhnya yakin untuk beralih ke kendaraan listrik murni. 

Oleh karena itu, teknologi Dual Mode dinilai mampu menjadi jembatan yang menghubungkan kendaraan konvensional dengan era elektrifikasi.

Ia mengungkapkan bahwa secara global BYD telah membukukan penjualan sekitar 16,5 juta unit kendaraan. 

Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya menggunakan teknologi Dual Mode yang memadukan mesin pembakaran internal dengan sistem elektrifikasi.

“Memang teknologi DM ini terkesan baru di Indonesia, tetapi secara global sudah sangat berkembang. Kami melihat saat ini adalah momen yang tepat untuk membawa teknologi ini ke Indonesia,” katanya.

Salah satu alasan utama BYD menghadirkan teknologi tersebut adalah kondisi infrastruktur kendaraan listrik yang masih belum merata di berbagai daerah. 

Menurutnya, ketersediaan stasiun pengisian daya masih menjadi tantangan, terutama di luar kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Selain faktor infrastruktur, tingkat kesiapan masyarakat untuk beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik juga menjadi pertimbangan penting.

“Kami melihat masih ada tantangan dari sisi infrastruktur. Selain itu, kesiapan konsumen untuk langsung berpindah ke kendaraan listrik penuh juga belum terlalu tinggi,” jelasnya.

Luther menambahkan bahwa tingginya harga bahan bakar saat ini turut menjadi alasan mengapa teknologi Dual Mode dinilai relevan. 

Sistem tersebut memungkinkan pengguna menikmati efisiensi layaknya kendaraan listrik tanpa harus khawatir terhadap keterbatasan jarak tempuh maupun ketersediaan fasilitas pengisian daya.

“Teknologi ini memberikan solusi bagi konsumen yang masih memiliki kekhawatiran soal jarak tempuh dan pengisian daya. Dengan DM, pengguna memiliki fleksibilitas karena tetap ada opsi menggunakan bahan bakar,” ujarnya.

BYD juga mengklaim telah melakukan kajian terhadap kebutuhan konsumen di Indonesia sebelum menghadirkan M6 Dual Mode. 

Luther menyebut masyarakat Indonesia umumnya menginginkan kendaraan dengan kapasitas besar, tangguh, nyaman digunakan, serta memiliki harga yang kompetitif.

“Karakter kendaraan yang diinginkan masyarakat Indonesia adalah kendaraan yang bisa membawa banyak penumpang, durable, kuat, dan tentu dengan harga yang terjangkau,” ungkapnya.

Untuk pasar nasional, BYD M6 Dual Mode dipasarkan dengan harga mulai Rp298 juta hingga sekitar Rp380 juta, tergantung varian yang dipilih. 

Mobil ini tersedia dalam lima pilihan tipe, yakni Standard, Dynamic, Advanced, Superior, dan Superior Captain.

Sementara untuk harga di wilayah Semarang dan beberapa daerah lainnya, perusahaan masih melakukan perhitungan lebih lanjut karena harus menyesuaikan sejumlah komponen biaya regional.

“Untuk wilayah Semarang masih kami kalkulasi lagi, tetapi secara nasional harganya mulai Rp298 juta sampai Rp380 juta,” jelasnya.

BYD mengaku memperoleh respons positif dari masyarakat sejak harga resmi kendaraan diumumkan. Tingginya minat pasar terlihat dari jumlah pemesanan yang telah mencapai ribuan unit dalam waktu relatif singkat.

Menurut Luther, perusahaan saat ini masih melakukan penyesuaian antara kapasitas produksi dan distribusi dengan jumlah pesanan yang terus bertambah.

“Antusias masyarakat cukup tinggi setelah kami memperkenalkan harga. Jumlah peminatnya sudah mencapai ribuan, sehingga kami masih melakukan kalkulasi supply dan order,” ungkapnya.

Untuk mendukung kepuasan pelanggan, BYD juga memastikan layanan purna jual telah dipersiapkan secara matang. 

Saat ini perusahaan memiliki sekitar 97 jaringan layanan yang telah dilengkapi fasilitas perawatan dan penanganan kendaraan, termasuk untuk produk dengan teknologi Dual Mode.

“Ketika membangun jaringan distribusi, kami sudah mempersiapkan fasilitas untuk maintenance dan pengelolaan kendaraan, termasuk untuk teknologi DM ini,” terangnya.

BYD melihat Jawa Tengah sebagai salah satu wilayah dengan perkembangan positif dalam adopsi kendaraan listrik. Kepercayaan masyarakat terhadap teknologi elektrifikasi disebut terus meningkat dari waktu ke waktu.

Menurut data internal perusahaan, dari sekitar 1.600 kendaraan listrik yang beredar di Jawa Tengah, kontribusi BYD telah mencapai sekitar 40 persen. Capaian tersebut dinilai menunjukkan tingginya penerimaan masyarakat terhadap produk-produk BYD.

Untuk memperkuat kehadiran di wilayah tersebut, BYD terus memperluas jaringan penjualan dan layanan. Saat ini perusahaan telah memiliki dua jaringan dealer di Semarang, selain jaringan yang telah beroperasi di Solo, Yogyakarta, dan sejumlah kota lainnya.

Sebagai bentuk komitmen memperluas akses masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi, BYD berencana membuka empat showroom baru secara bersamaan di Jawa Tengah pada 17 Juni mendatang.

“Ini bagian dari komitmen kami memperkuat layanan dan mendekatkan kendaraan listrik kepada masyarakat,” pungkasnya. ***

Editor : Tasropi
#BYD M6 Dual Mode #kendaraan listrik