RADARSEMARANG.ID, Pemerintah saat ini tampak sangat progresif dalam urusan perut.
Program pemenuhan gizi nasional dan pengentasan stunting menjadi primadona kebijakan di berbagai daerah.
Namun, di balik ambisi mencetak generasi fisik unggul, ada pemandangan kontras yang luput dari sorotan: kondisi perpustakaan sekolah yang sekarat.
Kita sedang giat menyuapi raga anak bangsa, namun membiarkan pusat literasi mereka kelaparan asupan pengetahuan.
Bukti nyata dari minimnya kepedulian terhadap literasi ini terpampang jelas di banyak sekolah dasar.
Perpustakaan yang seharusnya menjadi jantung pendidikan, sering kali hanya menjadi ruang pengap di pojok bangunan yang jarang dikunjungi.
Kondisinya memprihatinkan; atap yang bocor, debu yang menebal di rak-rak tua, hingga ketiadaan koleksi bahan bacaan anak yang relevan.
Banyak perpustakaan sekolah hanya berisi tumpukan buku paket kurikulum usang yang membosankan, tanpa ada buku cerita bergambar, ensiklopedia populer, atau novel anak yang mampu memantik imajinasi.
Ironi ini menunjukkan bahwa pemerintah lupa bahwa gizi dan literasi harus tumbuh beriringan.
Memberi asupan protein tinggi tanpa menyediakan akses bacaan yang layak adalah investasi yang timpang.
Anak-anak mungkin tumbuh tinggi dan kuat secara fisik, namun mereka akan tetap "kerdil" secara wawasan jika fasilitas literasi dasarnya saja diabaikan.
Bagaimana mungkin literasi anak meningkat jika tempat mereka mencari ilmu di sekolah justru lebih mirip gudang penyimpanan barang daripada ruang eksplorasi ide?
Membangun manusia seutuhnya tidak bisa dilakukan secara parsial.
Baca Juga: Gerhana Matahari Parsial Muncul di Langit Semarang, Puncaknya Pukul 10.52
Jika pemerintah mampu menganggarkan dana besar untuk pangan, seharusnya perhatian yang sama juga diberikan untuk merevitalisasi perpustakaan sekolah dan memperkaya koleksi bacaannya.
Jangan sampai kita berhasil melahirkan generasi yang sehat fisiknya, namun gagap dalam berpikir dan miskin daya kritis karena sejak dini mereka dijauhkan dari dunia literasi oleh fasilitas yang tidak memadai.
jika hal ini dibiarkan terus menerus, tentu akan berdampak negatif terhadap literasi anak-anak kita, calon generasi penerus bangsa.(hib)
Penulis : Itmamudin, SS.,M.IP, Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Jawa Tengah.
Editor : Tasropi