Oleh: Prof. Dr. Rasimin, M.Pd
Dekan FTIK UIN Salatiga - Guru Besar Pendidikan IPS
RADARSEMARANG.ID, Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, menegaskan pendidikan sebagai sumber daya terbesar manusia guna menanggapi tantangan global yang kian kompleks (UNESCO, 2021). Sayangnya, eksistensi modal intelektual tersebut kini menghadapi ujian berat tepat saat kita bersiap merayakan hari kemenangan.
Di tengah gema takbir yang mulai bersahutan menyongsong Idulfitri 2026, bayang-bayang kelabu muncul dari Selat Hormuz. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat melampaui batas narasi internasional; ia kini bertransformasi menjadi variabel ekonomi yang mengancam stabilitas domestik.
Sebagai negara penyerap minyak neto (Net Oil Importer), Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal ini, di mana riak krisis Timur Tengah mulai membayangi kegembiraan mudik masyarakat melalui potensi lonjakan harga energi secara drastis.
Keresahan di tengah suasana penuh syukur ini memicu sebuah tanya: bagaimana jika ketegangan tersebut terus berlanjut hingga memicu krisis energi yang berujung pada inflasi bahan pokok tepat di hari raya?
Menjawab kekhawatiran ini, tulisan ini menawarkan perspektif mitigasi fundamental bagi pengelola pendidikan agar institusi tetap tangguh saat krisis meledak pasca-lebaran nanti.
Upaya ini menjadi keniscayaan demi memastikan kualitas layanan akademik serta kesejahteraan mahasiswa tetap terlindungi melalui langkah preventif yang terukur sebelum pengaruh krisis mencederai daya beli keluarga mahasiswa secara permanen.
Dalam kacamata geopolitik, Selat Hormuz menjadi "urat nadi" yang mengalirkan sekitar 20,5 juta barel minyak per hari, atau setara dengan 20% konsumsi minyak cair global. Gangguan pada jalur vital ini memaksa kita menghadapi guncangan harga energi masif dengan prediksi harga melampaui $140 per barel.
Bagi Indonesia, ancaman tersebut menjadi tantangan eksistensial bagi stabilitas APBN, terutama saat arus mudik mencapai puncaknya.
Fenomena ini, dalam ruang lingkup pendidikan, termanifestasi sebagai biaya tersembunyi (hidden cost) yang membengkakkan biaya operasional kampus sekaligus menekan ekonomi keluarga mahasiswa di saat kebutuhan lebaran mencapai titik tertinggi.
Guncangan pasar global tersebut pada akhirnya mendarat langsung di realitas harian sivitas akademik. Apabila skenario terburuk terjadi, mahasiswa perantau yang tengah mudik akan dihadapkan pada lonjakan biaya transportasi serta kenaikan harga kebutuhan pokok pasca-Idulfitri.
Kondisi tersebut berisiko menciptakan efek domino berupa tekanan psikologis dan finansial yang dapat mengganggu fokus belajar para pembelajar setelah masa libur usai. Oleh sebab itu, langkah antisipasi harus segera dirumuskan sebagai bekal institusi sebelum memasuki perkuliahan pasca-hari raya.
Guna menghadapi impitan ini, kepemimpinan pendidikan dituntut menerapkan Adaptive Leadership (Heifetz, 1994). Pimpinan harus mampu membedakan tantangan teknis dengan tantangan adaptif yang memerlukan inovasi kebijakan.
Implementasinya harus dimulai dengan merumuskan protokol "Manajemen Krisis Fitri" yang inklusif untuk melindungi sivitas akademik melalui tiga pilar solusi praktis yang saling bertautan.
Pertama, penyiapan skema HyFlex Model (Hybrid-Flexible) (Beatty, 2019) sebagai "sekoci digital". Secara aplikatif, kampus dapat merancang kebijakan untuk mengalihkan sebagian pertemuan tatap muka menjadi daring jika biaya transportasi mulai memberatkan sivitas muda setelah masa mudik.
Pendekatan HyFlex memberikan kemandirian belajar (student agency) guna memangkas pengeluaran harian sekaligus menjaga napas akademik tetap berjalan meski mobilitas fisik terbatas akibat krisis energi.
Kedua, aktivasi jaring pengaman sosial melalui optimalisasi dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Di lingkungan PTKIN, semangat berbagi di bulan suci dan kewajiban Zakat Fitrah menjadi momentum emas memperkuat "Lumbung Pangan Kampus".
Program ini menyediakan subsidi paket pangan bagi anak didik dari kelompok rentan yang terdampak inflasi pasca-lebaran. Dengan kesiapan infrastruktur filantropi ini, kampus memiliki "jangkar" sosial yang kuat sehingga mahasiswa kembali kuliah dengan tenang tanpa terbayangi kesulitan logistik dasar.
Ketiga, penguatan ketahanan kognitif melalui penerapan Pedagogi Antisipatoris berbasis kerangka Futures Literacy (Miller, 2018). Pendidikan harus melatih mahasiswa "menggunakan masa depan" sebagai instrumen navigasi hari ini.
Langkah aplikatifnya yakni mengintegrasikan metode Scenario Planning ke dalam ruang kelas agar generasi masa depan mampu memetakan pengaruh polikrisis terhadap karier mereka kelak.
Langkah ini begitu vital agar spirit kemenangan Idulfitri terejawantah menjadi kelenturan berpikir guna tetap produktif di tengah ketidakpastian.
Rangkaian kebijakan antisipatif ini merupakan visi jangka panjang menjaga marwah pendidikan. Apabila solusi adaptif ini diimplementasikan secara total, saya menaruh harapan besar agar wajah pendidikan kita tetap cerah meski langit ekonomi sedang mendung.
Dengan ekosistem yang tangguh, kampus bertransformasi menjadi "bahtera" yang tetap stabil melaju meski laut sedang bergejolak. Kita ingin kaum intelektual muda merayakan Idulfitri sebagai momentum kebangkitan kolektif dalam menavigasi badai krisis menuju masa depan bermartabat.
Tentu saja, resiliensi kampus memerlukan dukungan kebijakan makro pemerintah. Berdasarkan Human Capital Theory (Becker, 1964), pemerintah pusat harus menempatkan pendidikan sebagai "benteng pertahanan terakhir" dalam mitigasi krisis nasional. Jika subsidi energi harus disesuaikan pasca-lebaran, sektor pendidikan wajib mendapatkan proteksi khusus agar beban biaya tidak langsung menimpa mahasiswa. Menjaga kualitas SDM di tengah badai global merupakan hadiah Idulfitri paling berharga bagi masa depan bangsa yang tidak bisa ditawar.
Kini, saat gema takbir mulai membubung tinggi, kita kembali disadarkan bahwa Idulfitri merupakan momentum kembali ke fitrah, yakni kesucian yang memuat kekuatan awal. Ketegangan di Selat Hormuz mungkin berada di luar kendali kita, tetapi cara kita meresponsnya sepenuhnya berada di tangan kita sendiri.
Mitigasi kini telah menjadi imperatif moral bagi pimpinan institusi. Bukankah kearifan lokal telah lama mengingatkan kita untuk senantiasa “sedia payung sebelum hujan”?
Mari kita pastikan "payung" pendidikan kita cukup kuat menaungi anak bangsa, agar setelah merayakan kemenangan hari raya, api semangat literasi tetap menyala tenang menuju masa depan yang lebih gemilang. Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H. (*)
Editor : Tasropi