Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Seleb Cing vs Seleb Kus

Iskandar • Kamis, 15 Januari 2026 - 13:03 WIB
Iskandar  Penulis adalah netizen sekaligus jurnalis.
Iskandar Penulis adalah netizen sekaligus jurnalis.

RADARSEMARANG.ID, Saya sempat nonton podcast-nya Rhenald Kasali di Youtube. Saya suka podcast ini. Bagi saya, materinya daging semua.

Narasumber yang dihadirkan Rhenald di Breezy Café di Rumah Perubahan, lokasi tapping podcast-nya, pun bukan kaleng-kaleng. Banyak professional, politisi, ekonom jadi tamunya Rheinald.

Siang itu, yang saya tonton, tamunyaa salah satu petinggi Google Indonesia. Nama persisnya saya lupa.

Namun, yang saya ingat betul opening yang disampaikan Prof. Rhenald. Ia tidak langsung ngomongin algoritma, transformasi digital, atau lanskap ekonomi makro. Ia memulai dari sesuatu yang terdengar sederhana: kucing.

Rhenald menyebut, di tengah lesunya ekonomi nasional, ada satu sektor yang justru tidak terdampak signifikan. Malah mengalami pertumbuhan. Bisnis makanan hewan peliharaan—khususnya makanan kucing—menjadi salah satunya. Ketika banyak orang menahan belanja, pengeluaran untuk kucing justru tetap jalan, bahkan meningkat.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Indonesia memiliki populasi kucing yang sangat besar, tertinggi di Asia Tenggara. Bukan hanya kucing peliharaan, tetapi juga kucing liar.

Yang menarik, dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan kucing—termasuk kucing jalanan—mengalami peningkatan.

Banyak orang memberi makan kucing liar secara rutin. Sebagian lagi melangkah lebih jauh: mereka mendokumentasikan aktivitas itu.

Kucing-kucing tersebut kemudian menjadi konten. Aktivitasnya direkam, tingkah lucunya diabadikan, kesehariannya diceritakan. Video-video itu ditonton banyak orang. Views-nya tinggi. Interaksinya hidup.

Tidak sedikit yang kemudian dilirik oleh produsen makanan kucing untuk kerja sama promosi. Di titik inilah Prof. Rhenald menyebut istilah yang cukup menarik: Seleb Cing—selebritis kucing.

Kucing tidak lagi sekadar hewan peliharaan. Ia punya penggemar. Punya identitas. Bahkan punya “persona”. Di Indonesia, kita mengenal Bobby Kertanegara, kucing kesayangan Presiden Prabowo, yang kehadirannya kerap mencuri perhatian publik.

Ada pula Pororo, kucing yang dikenal luas oleh para penggemarnya. Di luar negeri, fenomena ini jauh lebih masif. Nala Cat, misalnya, memiliki sekitar 4,5 juta pengikut di Instagram.

Ia memegang Rekor Dunia Guinness sebagai kucing dengan pengikut terbanyak. Lebih dari itu, Nala bahkan memiliki merek makanan kucing sendiri, Love, Nala. Dari seekor kucing, lahirlah ekosistem ekonomi.

Jika kucing bisa menjadi selebritas, anjing tentu tidak ketinggalan. Maka muncullah Seleb Jing—selebritis anjing. Di Indonesia ada Floxi, anjing pintar dengan tingkah lucu yang dikontenin secara konsisten oleh pemiliknya.

Di tingkat global, JiffPom menjadi ikon. Anjing Pomeranian ini memiliki lebih dari 9 juta pengikut di Instagram, tampil di berbagai proyek hiburan, dan memiliki lini merchandise sendiri.

Lalu, apa makna dari semua itu? Pesannya sederhana: media sosial adalah ruang peluang bagi siapa pun yang kreatif. Kita tidak harus menjadi influencer dalam pengertian konvensional.

Tidak harus tampil di depan kamera, tidak harus selalu bicara, apalagi pamer. Bahkan, seorang introvert pun bisa berkarya. Rumah bisa menjadi studio. Kehidupan sehari-hari bisa menjadi cerita.

Hewan peliharaan bisa menjadi medium. Kreativitas tidak selalu harus megah. Ia sering kali lahir dari kedekatan, konsistensi, dan kejujuran. Dari hal-hal yang ada di sekitar kita.

Namun, di sisi lain, media sosial juga melahirkan jenis “selebritas” yang berbeda. Mereka bukan lahir dari kreativitas, melainkan dari flexing. Pamer kekayaan, gaya hidup berlebihan, dan simbol-simbol kemewahan.

Ironisnya, tidak sedikit yang belakangan diketahui bersumber dari praktik korupsi. Viral sesaat, lalu berakhir di ruang tahanan. Inilah yang, dengan sedikit satire, bisa kita sebut sebagai Seleb Kus—selebritis tikus.

Tentu ini bukan selebritas yang kita harapkan. Yang kita butuhkan justru sebaliknya: figur-figur yang tumbuh secara organik. Punya karakter. Punya cerita. Disukai karena nilai dan kreativitasnya, bukan karena kemewahan semu.
Maka, jika harus disederhanakan:

Seleb Cing dan Seleb Jing adalah simbol kreativitas.
Seleb Kus adalah peringatan.

Media sosial, pada akhirnya, hanya alat. Ia bisa menjadi ladang nilai, atau justru cermin kebusukan. Pilihan itu selalu kembali kepada kita.
Wassalam. (*)


Penulis Iskandar, jurnalis senior Jawa Pos Radar Semarang

Editor : Tasropi
#rhenald kasali #media sosial #bobby kertanegara #KUCING #Rumah Perubahan