RADARSEMARANG.ID, Saya jujur saja: akhir-akhir ini telinga batin saya bising. Bukan karena suara sound horeg atau knalpot brong. Melainkan karena netizen. Makhluk paling rajin “beribadah” di jagat maya. Ibadahnya satu: ribut berjamaah.
Keributan itu meledak pasca Pandji Pragiwaksono ber-stand up comedy. Ya, komedi. Bukan kudeta. Bukan makar, apalagi invasi alien.
Ada satu celetukan di materi stand up comedy-nya: “Gibran, ngantuk ya?” Dan dunia pun goyang. Pandji dianggap membully. Menghina secara fisik sang Wapres. Dan, seolah-olah negeri ini rapuh sekali. Disenggol kata “ngantuk” langsung demam.
Sejak awal, saya sudah bisa memprediksi. Kalau menyenggol penguasa, akan ada serangan balik. Itu hukum fisika sosial: aksi kritik berbanding lurus dengan reaksi buzzer. Newton pasti tersenyum di kuburnya. Pandji resmi dilaporkan oleh aliansi pemuda yang menyeret-nyeret ormas keagamaan ke polisi.
Porsi Wapres Gibran dalam materi Pandji itu sebetulnya sedikit. Tipis. Lebih tipis dari komitmen sebagian elite pada janji kampanye. Tapi justru bagian itu yang disulap jadi dosa besar. Padahal, selama dua jam di Netflix, Pandji sedang melakukan pendidikan politik paling efektif: pakai bahasa cair, bahasa lucu, bahasa yang tidak bikin rakyat mengantuk. Ehh, maaf…
Buktinya sederhana: penonton di Indonesia Arena tertawa. Saya juga tertawa. Mungkin, kita semua tertawa. Tapi sesungguhnya kita sedang menertawakan diri sendiri. Menertawakan kebodohan kolektif. Menertawakan kebenaran versi penguasa. Menertawakan rakyat yang sering merasa tak bisa berbuat apa-apa selain update status dan share link.
Ketika Pandji bercerita tentang Richard Insane, temannya sendiri, korban salah tangkap— yang digebuki polisi, hanya karena celingak-celinguk dan pakai baju kotak-kotak—tawa pun pecah. Lebih pecah lagi saat kotak-kotak itu dihubungkan dengan Jokowi-Ahok. Humor memang sering begitu: ia membuka luka sambil mengolesi balsem ketawa.
Pandji juga bicara soal warga Jawa Barat yang gemar memilih artis jadi pemimpin. Soal masyarakat yang mudah terpukau tampilan, lupa memeriksa rekam jejak. Ini fakta lho. Fakta banget. Kalau fakta bikin panas, mungkin kita perlu kipas angin demokrasi.
Lalu ada kalimat tabu yang seperetinya tak boleh disentuh: bahwa Prabowo pernah terlibat penculikan aktivis. Itu sejarah, bukan gosip warung. Tapi di negeri ini, sejarah sering dianggap hoaks jika tak sesuai selera.
Seperti biasa. Dan, ini déjà vu nasional. Dua hari setelah Mens Rea jadi trending nomor satu di Netflix, muncul pola familier. Tiba-tiba, serangan ke Pandji bermunculan. Isunya satu: bully. Kencang. Seragam. Kompak.
Seolah-olah ada konser orkestra dengan dirigen yang tak terlihat. Yang saya khawatirkan bukan Pandji. Dia sudah biasa ditertawakan dan ditertawakan balik. Yang saya khawatirkan adalah pola pengalihan isu.
Bayangin, sementara kita sibuk ribut soal komedi, isu yang jauh lebih penting tenggelam pelan-pelan. Seperti bangkai kebenaran di laut algoritma. Penanganan pasca-bencana Aceh dan Sumatera, misalnya.
Masih banyak yang perlu dikawal. Masih banyak yang perlu dikritik. Tapi suaranya kalah viral dengan gosip artis, drama selingkuh, dan FYP yang tak pernah sekolah etika publik. Belum lagi KUHP baru yang pelan-pelan mengasah giginya. Katanya demi ketertiban, tapi baunya mirip peredam suara kritis.
Isu ini mestinya yang perlu dikawal. Dikritisi. Tapi kalah pamor dengan kasus Aura Kasih yang diduga jadi selingkuhan Ridwan Kamil—yang entah benar entah konten. Begitulah cara kerja negeri ini: Isu berat ditenggelamkan dengan isu ringan. Masalah struktural dilawan dengan gosip selebritas.
Rakyat dijejali recehan, karena sebagian penguasa tahu: selera publik kita sering kali murah. Sementara itu, isu Haji Isam dengan ribuan alat berat yang akan membabat hutan Papua untuk cetak sawah 1 juta hektare di Merauke, Papua Selatan, untuk food estate perlahan sunyi.
Padahal, proyek ini telah menimbulkan kontroversi dan kritik terkait potensi deforestasi atau pembukaan lahan hutan alam, Isu pilkada yang ingin dikembalikan ke tangan legislator oleh sejumlah partai koalisi pemerintah pun makin terpinggirkan. Yang ramai justru pidato bahwa rakyat Indonesia bahagia menurut survei Harvard.
Luar biasa. Pemukiman warga banjir, hutan digunduli, suara dibungkam. Tapi tetiba muncul pidato bahwa rakyat negeri ini rata-rata bahagia. Mungkin bahagia versi statistik, bukan versi perut. Sebagai warga negara, kadang saya merasa negeri ini aneh. Pejabatnya aneh. Sebagian masyarakatnya juga aneh. Dan saya pun kadang merasa aneh jadi WNI—hopeless tapi tetap bayar pajak.
Sepertinya tak ada niat tulus bekerja untuk rakyat. Yang ada omon-omon, slogan, dan janji yang habis masa berlakunya lebih cepat dari mi instan. Buktinya? Aspirasi demo besar Agustus 2025 lalu, apa betul direalisasikan? Atau hanya jadi arsip foto drone dan laporan PDF?
Mungkin elite kita paham satu hal: rakyat mudah lupa. Dan lebih mudah lagi memaafkan. Itulah sebabnya, setiap keributan receh selalu dipelihara. Agar kita lupa marah pada hal-hal yang seharusnya. Dan di tengah kegilaan itu, seorang komika bercanda. Lalu kita ribut. Padahal mungkin, yang benar-benar perlu kita lakukan adalah satu hal sederhana: tetap berisik, tapi pada isu yang benar. Karena diam adalah kemewahan yang hanya boleh dimiliki oleh mereka yang tidak terdampak.
Yang paling menggelikan—atau justru menyedihkan—adalah ini: sebagian masyarakat kita lebih sibuk memperdebatkan hal-hal receh ketimbang menyentuh substansi. Yang diributkan bukan isi kritiknya, bukan fakta-fakta yang disampaikan, melainkan potongan kalimat, intonasi suara, dan perasaan yang tersinggung. Seolah-olah kebenaran bisa gugur hanya karena dibungkus tawa.
Kita berdebat soal apakah itu bully atau bukan, tapi luput bertanya: benarkah negara kita sedang baik-baik saja? Kita sibuk menghitung etika komedi, tapi lupa mengaudit etika kekuasaan.
Komika dipaksa menjelaskan lelucon, sementara penguasa tak pernah dipaksa menjelaskan kebijakan. Ini negeri yang aneh: yang bercanda dilaporkan. Yang berkuasa diberi karpet merah.
Dan begitulah, substansi pun tenggelam. Fakta berubah jadi latar belakang. Humor dijadikan kambing hitam. Sementara pesan utama, tentang kekuasaan, sejarah, ketimpangan, dan ingatan kolektif, lenyap ditelan debat kusir. Kita ribut bukan karena peduli, melainkan karena tersulut. Dan ketika ributnya usai, kita pulang tanpa membawa apa-apa, selain lelah dan linimasa yang kembali dipenuhi iklan pinjaman online.
Mas Fian Ketemu Aura Kasih
Cukup sekian dan terima kasih
Oleh: Iskandar, Penulis adalah netizen sekaligus jurnalis