Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Sains Seni Spirit Mitigasi

Radar Semarang • Senin, 22 Desember 2025 | 20:03 WIB
Dr. MS Viktor Purhanudin, M. Pd., Dosen UIN Salatiga.
Dr. MS Viktor Purhanudin, M. Pd., Dosen UIN Salatiga.

RADARSEMARANG.ID, Menjelang ufuk akhir tahun, bangsa ini seolah terjebak dalam ritual kelabu yang terus berulang secara mekanis.

Berita utama di berbagai lini masa kembali pekat oleh narasi nestapa mengenai bencana hidrometeorologi, terutama banjir bandang yang menerjang wilayah Sumatera pada Desember 2025 ini.

Realitas tersebut bukanlah semata-mata letupan emosi sesaat, mengingat data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara konsisten menegaskan bahwa lebih dari 95 persen kejadian bencana di tanah air berakar pada persoalan hidrometeorologi.

Tren ini mencapai titik kulminasi yang mencemaskan pada periode musim hujan di penghujung tahun (BNPB, 2025).

Pertanyaan retoris pun menyeruak: di tengah akselerasi teknologi satelit cuaca yang kian mutakhir, mengapa rintihan alam tersebut acapkali gagal kita maknai sebelum bencana melumat segalanya?

Saya menelaah adanya paradoks kepekaan yang akut dalam mekanisme kita merespons bencana. Di satu sisi, ruang kendali institusi kebencanaan kita riuh oleh aliran informasi curah hujan dan fluktuasi debit sungai yang menyajikan peringatan secara waktu nyata.

Namun, di sisi lain, terjadi kebisuan yang ganjil dalam ranah intuisi serta implementasi aksi di lapangan.

Bagi saya, anomali ini selayaknya seseorang yang bermukim di dalam rumah dengan sistem alarm kebakaran paling presisi, namun karena peringatan tersebut terlalu sering berdering, sang penghuni mengalami desensitisasi dan menganggapnya sebagai kebisingan latar belaka.

Kewaspadaan kolektif baru terbangun ketika air bah telah meruntuhkan pertahanan fisik kita.

Keyakinan saya tertambat pada adanya sumbatan serius antara telinga logika yang terpaku pada angka dengan kepekaan batin manusiawi kita.

Dalam cakrawala pemikiran saya, akar masalah dari fenomena ini bersumber dari dikotomi epistemologis yang telah lama menjangkiti sistem pendidikan kita.

Kita kerap menitikberatkan fungsi otak kiri melalui pendekatan STEM (Sains, Teknologi, Engineering, Matematika) yang teknokratis dan kaku.

Alhasil, domain otak kanan yang mengelola intuisi, apresiasi seni, serta kearifan lokal dalam membaca isyarat alam justru sering terpinggirkan dari diskusi arus utama.

Hal ini senada dengan kritik dalam diskursus psikologi pendidikan modern bahwa obsesi pada data kuantitatif sering kali meluruhkan kemampuan penalaran holistik.

Dampak konkret yang saya khawatirkan adalah lahirnya generasi yang mahir membaca infografis curah hujan, namun kehilangan ketajaman rasa dalam menangkap denyut bahaya di lingkungannya.

Sebagai ikhtiar menjembatani jurang kognitif tersebut, saya menawarkan diskursus mengenai pemanfaatan seni, khususnya musik melalui metode sonifikasi data, sebagai instrumen mitigasi.

Saya ingin menggarisbawahi bahwa gagasan ini bukanlah sebuah angan fungsional yang mustahil diwujudkan.

Secara global, sonifikasi telah diadopsi sebagai alat analisis ilmiah yang mumpuni. Sebagai contoh, NASA melalui proyek Chandra X-ray Observatory telah berhasil mengonversi data gelombang plasma kosmik menjadi frekuensi suara agar karakteristiknya dapat dibedah dengan lebih intuitif (NASA, 2025).

Saya memproyeksikan pendekatan serupa sangat relevan diterapkan di Indonesia guna merekonstruksi kepekaan auditori kita dalam mengenali lanskap suara bahaya yang bersumber dari data alam kita sendiri.

Ditinjau dari sisi teknis, metodologi yang saya tawarkan bekerja dengan mentransformasi data mentah curah hujan dari hulu menjadi parameter bunyi melalui algoritma yang spesifik.

Dengan demikian, intensitas hujan ekstrem di akhir tahun tidak lagi sebatas tampil sebagai noktah merah yang statis.

Rekaman informasi ini diubah menjadi ritme akustik yang cepat, keras, dan kaotis atau presto furioso.

Sensasi audio ini dirancang untuk menciptakan resonansi kewaspadaan, serupa dengan gemuruh mesin yang mendekat secara tiba-tiba.

Sebaliknya, kondisi lingkungan yang stabil akan terdistribusi sebagai harmoni yang tenang atau andante. Melalui metode ini, saya memosisikan telinga manusia sebagai sensor peringatan dini yang bekerja secara bawah sadar namun sangat responsif.

Pemanfaatan analogi musik tersebut sekaligus mempermudah kita dalam membedah tingkat degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menjadi variabel utama banjir tahunan di Sumatera. Analisis mutakhir dari berbagai pilar lingkungan mengonfirmasi adanya korelasi linear antara deforestasi masif di zona hulu dengan eskalasi frekuensi banjir di zona hilir ( Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, 2025).

Saya mengonseptualisasikan hutan lebat di hulu sebagai peredam suara alami dalam sebuah orkestra ekologis. Ketika vegetasi tersebut sirna akibat alih fungsi lahan, maka fungsi absorpsi atau peredam itu pun ikut menguap. Akibatnya, curahan hujan di akhir tahun menjelma menjadi sebuah kakofoni kehancuran berupa limpasan permukaan yang ganas.

Namun demikian, saya menyadari sepenuhnya bahwa simplifikasi teknis dan saintifik saja tidak akan pernah mencapai titik tuntas.

Krisis ekologi pada hakikatnya merupakan perwujudan dari krisis spiritualitas manusia modern. Oleh karena itu, mitigasi bencana yang substansial harus dipancangkan di atas fundamen zikir ekologis.

Hal ini berkelindan dengan peringatan dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 41 yang menegaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah imbas dari tangan manusia, agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar.

Saya memandang mandat manusia sebagai khalifah adalah menjaga harmoni alam sebagai amanah transenden.

Zikir dalam konteks ini merupakan getaran hati yang beresonansi saat melihat alam terluka, yang kemudian bertransformasi menjadi aksi konservasi yang nyata.

Berdasarkan proposisi tersebut, saya merumuskan arsitektur mitigasi integratif yang disebut sebagai Trisula Mitigasi Holistik.

Guna mengonstruksi ketangguhan bangsa di masa depan, kita memerlukan sinergi antara ketajaman data sains sebagai mata, kepekaan intuisi seni sebagai telinga, dan kedalaman amanah spiritual sebagai hati.

Saya meyakini bahwa hanya ketika ketiga entitas ini menyatu, kita akan memiliki perisai peradaban yang tangguh dalam menghadapi ancaman bencana yang telah menjadi agenda rutin tahunan.

Langkah strategis berikutnya menuntut derivasi dalam bentuk rencana aksi yang konkret. Saya mengusulkan agar langkah ini diawali dari satuan pendidikan di daerah hulu yang memiliki risiko kerentanan tinggi sebagai model percontohan.

Selanjutnya, konsep ini sangat strategis untuk diintegrasikan ke dalam kebijakan pendidikan nasional, misalnya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka.

Selain itu, gagasan ini dapat memperkokoh kerangka kerja program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang terus disempurnakan oleh pemerintah (Kemendikbudristek, 2024).

Harapan saya, literasi mitigasi ini dapat berevolusi menjadi kebudayaan yang mengakar di tengah masyarakat.

Dalam lapisan pemikiran yang lebih mendalam, diskursus yang saya perjuangkan merupakan upaya menegakkan keadilan ekologis.

Kita harus menyadari bahwa menjaga integritas ekosistem di hulu berarti melindungi eksistensi saudara-saudara kita di hilir.

Membiarkan eksploitasi hulu demi akumulasi keuntungan jangka pendek adalah bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan bagi mereka yang tinggal di dataran rendah.

Muara dari gagasan ini adalah memosisikan pendidikan mitigasi holistik sebagai investasi peradaban untuk memutus rantai ketidakadilan sekaligus memulihkan harmoni hubungan antara manusia dengan semesta.

Siklus banjir akhir tahun yang terus berulang harus kita maknai sebagai isyarat nyata untuk segera merombak cara pandang.

Kita tidak lagi bisa menghadapi kompleksitas krisis iklim abad ke-21 dengan pola pikir parsial yang telah kedaluwarsa.

Kini saatnya kita membuka telinga, baik secara fisik melalui bantuan inovasi teknologi maupun secara batin melalui kedalaman spiritualitas. Kita harus bersungguh-sungguh menyimak rintihan alam serta meresponsnya dengan kejernihan visi sebelum detak peringatan tersebut terhenti untuk selamanya.

Di atas segala ikhtiar ini, kita perlu meresapi kembali pesan luhur masyarakat Sumatera melalui adagium alam takambang jadi guru.

Sebab, secara fundamental, alam semesta adalah guru terbaik yang tidak pernah berhenti memberikan pelajaran, dan hanya mereka yang bersedia menyimak ritme petunjuknya yang akan mampu bertahan dari amuk bencana.

 

Oleh: Dr. MS Viktor Purhanudin, M. Pd., Dosen UIN Salatiga.

Editor : Tasropi
#Viktor Purhanudin #UIN Salatiga #daerah aliran sungai