RADARSEMARANG.ID, “Wong lio ngerti opo !!” sebuah kalimat sederhana namun sarat akan pesan yang hendak diutarakan oleh sopir truk untuk melampiaskan emosi yang sedang dialaminya.
Menjalani kehidupan di jalanan bukanlah jalan hidup yang mudah, kelelahan memperbaiki truk, kebosanan melihat speedometer yang hanya bisa berjalan maksimal 20 KM perjam, telinga yang panas karena makian pengguna jalan dan sebagainya, belum lagi ketidakpercayaan “orang rumah” yang selalu bak intel meninterogasi segala tindak tanduknya dan lebih mempercayai omongan orang lain.
Stigma negatif yang telanjur disematkan pada diri seorang sopir, seakan-akan menjadi “kesepakatan dan pemikiran bersama” ditengah masyarakat. Namun apakah memang senaas itu kehidupan para sopir “ ?
Baca Juga: Sempat Kerja Jadi Sopir Truk Galon, Napi Kabur Ditangkap di Muaro Jambi
Hampir dua tahun, saya meneliti kehidupan para sopir, ngobrol dan bercengkrama hangat sembari meminum kopi hitam, diwarung tempat truk mendinginkan mesin dan ban.
Saya mendapatkan fakta yang berbanding terbalik dengan stigma negatif yang dilekatkan kepada para sopir selama ini.
Mereka sadar pendapat yang memandang sebelah mata prosesi yang digelutinya, tanpa mempertanyakan terlebih dahulu kondisi yang sebenarnya.
Berbicang dengan puluhan sopir, tidak semua sopir “doyan jajan atau mampir” dan berprilaku negatif, hanya segelintir yang “masih suka jajan” itupun statusnya masih membujang, tidak punya kekasih dan hanya sekedar mengisi waktu dan pelampiasan sakit hati.
Selebihnya bagaimana? para sopir hidup layaknya rakyat biasa, hidup sederhana dan bekerja untuk menafkahi keluarga. Seorang sopir yang telah berumur bijak berkata “mas, kalo mau lihat sopir itu “bener di jalan” lihat saja kondisi istri dan rumahnya.”
Gambar atau tulisan pada bokong truk merupakan bentuk dari transportation art, sebuah fenomena seni urban yang berkembang pesat dalam bentuk galeri seni berjalan, menarik, sederhana dan jujur dalam penyampaiannya.
Visualisasi pada bokong truk merepresentasikan berbagai isu sosial dan tren yang sedang berkembang dimasyarakat.
Lahir dalam bentuk “kejujuran visual” tentang kegelisahan, luapan emosi, kegundah-gulana akan masalah keluarga, percintaan, pertemanan dan juga pekerjaan, yang mungkin harus mereka luapkan saat itu juga. Setidaknya ini yang berhasil saya rekam dari berbincang hangat dengan mereka.
Para supir truk meneriakkan paradigma sosialnya dengan caranya, yaitu menciptakan media untuk diapresiasi oleh masyarakat. Sebagian besar dari mereka memang tidak mampu berbicara secara manis dan terstruktur, namun subtansi yang mereka ucapkan adalah kejujuran yang dirasakan dan alaminya.
Bukankah itu yang terpenting? Tidak semua apa yang tersaji di bokong truk itu mengandung muatan negatif, ada juga yang berupa motivasi, kata bijak bahkan sebuah wejangan untuk saling mengingatkan, “Dikasih Dua Mata, Malah Menilai dengan Telinga”.
Sajian visual pada bokong truk dapat dipandang sebagai penanda jaman. Layaknya seni urban, muncul karena viral baik di dunia maya maupun nyata. Membaca semesta tanda pada bokong truk secara akademis, dapat menerapkan berbagai pendekatan etnografi maupun semiotika seperti yang saya lakukan.
Namun untuk membaca makna dan pesan yang tersembunyi dalam visual bokong truk, itu sama seperti mengintip melalui lubang kunci, bercerita secara mendalam dengan pemilik kunci, sampai tersingkap tirai rahasianya. Walaupun setiap katanya sama persis, namun makna dan pesan serta kisah yang melatarbelakangi lahirnya sajian visual pada bokong truk pasti berbeda.
Setiap profesi pasti mengandung unsur negatif dan positif, saya pernah melihat sebuah tulisan yang mengelitik di bokong truk “Dokter karo pilot, bidan karo tentara, perawat karo polisi, tapi sopir karo LC (pemandu karaoke)”.
Apakah profesi mereka “serendah itu”? Jika boleh saya kembali bertanya, apa jadinya pembangunan dan lacunya perekonomian negara ini tanpa ada peran mereka atau tiba-tiba para sopir truk sepakat untuk mogok kerja? Pembangunan tetap jalan sih.. tapi merambat seperti penyu yang dipaksa berjalan di atas permukaan batu.
Geliat pembangunan dan distribusi barang dan material pasti terganggu, semua call center atau provider jual beli online akan diprotes beramai-ramai oleh pelanggan karena mengalami keterlambatan pengiriman barang dan sebagainya.
Bagi keluarganya dan negara ini, sudah seharusnya menganggap mereka adalah “pahlawan” dibidang transportasi.
Tanpa mereka dibelakang setir yang terpaksa meminum kopi hitam untuk menahan kantuk, peningkatan perekonomian negara ini hanyalah seperti mimpi disiang bolong.
Sopir masihlah manusia biasa yang memiliki rasa dan asa, walau kadang mereka jauh lebih jujur bila dibandingkan para “wakil rakyat”. “Apik eleke awakku, tergantung seko cangkeme sopo sing cerito”- baik jeleknya saya, tergantung mulutnya siapa yang cerita, sebuah kejujuran visual yang diekspresikan melalui tulisan di bokong truk, seakan-akan menjawab kegelisahan yang ada dibenak dan pikiran sang sopir truk.
Penulis : Anthony Tumimomor
Editor : Tasropi