RADARSEMARANG.ID, Saudaraku, para putra-putri Demak yang tersebar di seluruh penjuru negeri, bahkan hingga ke mancanegara.
Mungkin raga kita terpisah jauh, hidup di kota-kota besar yang gemerlap atau di negara asing yang maju.
Tapi hati nurani kita, jiwa kita, tak akan pernah bisa lepas dari tanah kelahiran: Demak!
Setiap kali kita mendengar berita rob, setiap kali melihat foto dan video kampung halaman kita terendam, hati ini pasti perih, mata ini pasti berkaca-kaca. Bagaimana tidak?
Itu rumah kita, tempat kita belajar berjalan, tempat kita tumbuh dewasa, tempat orang tua dan sanak saudara kita masih berjuang hidup.
Demak Kita Menangis! Ini Fakta yang Menyakitkan:
Bukan rahasia lagi, Demak saat ini sedang berjuang keras melawan ancaman nyata: rob dan banjir parah.
Ini bukan sekadar genangan air biasa, tapi musibah yang melumpuhkan kehidupan.
Hampir seluruh wilayah pesisir Demak adalah zona merah. Sebut saja Kecamatan Sayung, Karanganyar, Bonang, Wedung, Wonosalam, Guntur, Mranggen, dan Demak Kota itu sendiri.
Desa-desa seperti Sriwulan, Bedono, Timbulsloko, hingga Sayung, sudah seperti "Venice" dadakan.
Namun, bukan untuk pariwisata, melainkan karena rumah-rumah mereka terendam permanen.
Dampaknya? 730 hektar lahan produktif, sawah, tambak, hingga 2.959 rumah warga sudah ditelan air.
Kita bicara soal 11.462 Jiwa yang terdampak langsung atau tidak langsung. Jangan salah, ini bukan hanya puluhan atau ratusan jiwa yang menderita.
Puluhan ribu jiwa warga Demak hidup dalam bayang-bayang rob dan banjir setiap hari.
Mereka kehilangan mata pencarian, rumahnya rusak, dan setiap hari harus berjibaku dengan air kotor. Ini bukan sekadar statistik, ini adalah saudara-saudara kita!
Mereka membutuhkan kita. Demak membutuhkan kita! Kita yang pernah menghirup udara Demak, yang pernah menikmati indahnya kampung halaman, kini saatnya membalas budi.
Diaspora Demak: Saatnya Turun Tangan, Bukan Sekadar Bersimpati!
Kita, para diaspora, punya kelebihan yang mungkin tidak dimiliki saudara-saudara kita di Demak.
Kita punya pengalaman, jaringan, keahlian, dan mungkin, sedikit kelonggaran finansial. Mari kita kumpulkan kekuatan ini untuk memberikan sumbangsih nyata!
1. Untuk Pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten): Kita harus menjadi suara lantang yang mendesak percepatan proyek raksasa seperti pembangunan Tanggul Laut Demak dan Tol Semarang-Demak.
Ini bukan hanya infrastruktur, ini adalah benteng pertahanan hidup bagi Demak! Pastikan anggarannya transparan dan pengerjaannya berkualitas, tanpa KKN.
Selain itu, dorong pemerintah untuk secara tegas menerapkan tata ruang pesisir yang berkelanjutan.
Hentikan izin pembangunan yang merusak lingkungan, dan tindak tegas pihak-pihak yang melanggar.
Terakhir, minta pemerintah untuk membuat program terpadu pendampingan dan revitalisasi ekonomi bagi warga terdampak.
Contohnya, pelatihan keterampilan baru, bantuan modal usaha, atau program relokasi yang manusiawi bagi mereka yang desanya sudah tak bisa diselamatkan.
2. Untuk BUMN dan Swasta (Nasional/Internasional): Kita bisa memediasi dan mengajak BUMN atau perusahaan swasta besar untuk mengarahkan program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka ke Demak.
Bukan sekadar bantuan insidental, tapi program jangka panjang seperti investasi dalam pembangunan infrastruktur mitigasi (tanggul mini, normalisasi sungai, drainase modern), inovasi teknologi (sponsor penelitian rumah apung atau sistem peringatan dini), serta penanaman dan pemeliharaan hutan mangrove secara masif.
Ajak juga investor untuk mempertimbangkan investasi berkelanjutan di Demak, misalnya di sektor perikanan berkelanjutan, ekowisata mangrove, atau industri pengolahan hasil laut yang ramah lingkungan, sehingga membuka lapangan kerja baru.
3. Untuk Ormas (Organisasi Masyarakat): Dukung dan perkuat Ormas lokal di Demak untuk menjadi garda terdepan dalam menggerakkan masyarakat melakukan gotong royong bersih-bersih lingkungan, penanaman mangrove, dan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Ormas bisa menjadi jembatan komunikasi efektif antara masyarakat dan pemerintah, menyalurkan aspirasi, dan memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat.
Perkuat juga kapasitas Ormas untuk advokasi kebijakan yang pro-lingkungan dan pro-rakyat terdampak rob.
4. Untuk Masyarakat (Termasuk Kita Para Diaspora): Mulai dari diri sendiri! Jangan buang sampah sembarangan. Ikut serta dalam setiap kegiatan kebersihan lingkungan dan penanaman mangrove di daerah masing-masing.
Dorong adaptasi dan inovasi lokal seperti pembangunan rumah panggung yang lebih tinggi, budidaya yang tahan salinitas, atau pemanfaatan air rob untuk hal positif.
Jangan diam! Terus bersuara dan mengawal melalui media sosial, pertemuan komunitas, atau forum-forum resmi. Kawal setiap proyek dan kebijakan yang berhubungan dengan rob dan banjir.
Transparansi adalah kunci! Kita para diaspora tidak harus selalu menyumbang uang. Sumbangkan ide, keahlian (insinyur, perencana, aktivis lingkungan), atau jaringan yang kita miliki untuk membantu Demak.
Bentuk forum diaspora Demak, adakan diskusi, kumpulkan ide-ide brilian! Tentu saja, bagi yang mampu, donasi finansial untuk korban, atau untuk mendukung program mitigasi yang dikelola organisasi terpercaya, akan sangat berarti.
Saudaraku, ini bukan lagi soal siapa yang salah. Ini soal bagaimana kita, sebagai keluarga besar Demak, bersatu padu menghadapi ancaman nyata ini.
Jangan biarkan Demak kita tenggelam dalam kesendirian. Mari kita tunjukkan bahwa meskipun terpisah jarak, hati kita tetap menyatu untuk Demak tercinta.
Demak Memanggil! Mari Bersama, Kita Selamatkan Kampung Halaman Kita!
Oleh Ahmad Busri,
Sekjen - Paguyuban Demak Kalijogo – Kaltim
Sekretaris - Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) – Kaltim