BANYAK buku dicetak berisi ajaran, tapi tidak ada nilai moralnya. Ironisnya, buku-buku tersebut jutru ada yang merusak generasi bangsa.
Banyak ulasan disiarkan, tetapi tidak ada nilai moralnya. Banyak film diproduksi dan ditayangkan, hampir tidak ada pesan moralnya.
Bahkan, dengan alasan kebebasan (dengan berbagai aspek), banyak lagu diciptakan dan ditembangkan, jauh dari nilai moral. Semuanya karena ada unsur “kepentingan”.
Ada Apa dengan Tokoh dalam Berita?
Demikian juga dengan berita. Mari kita sedikit bicara tentang berita. Akhir-akhir ini, banyak media (baik media mainstream maupun yang anti mainstream) memberitakan berbagai hal. Mulai dari masalah sosial, budaya, politik, ekonomi, hingga tentang hukum.
Hampir semua aspek di atas, tidak sedikit orang yang berkiprah di dalamnya, pernah diberitakan.
Mulai dari para pejabat/pimpinannya/pemegang kewenangan atau kekuasaan. Mulai dari politisi, pejabat pemerintah, aparat keamanan, praktisi penegak hukum, bahkan personel yang ditokohkan dalam kehidupan sosial baik formal dan nonformal, pada berbagai tingkat dan strata. Sebagian besar di antaranya, ada yang melakukan perbuatan tidak terpuji.
Perbuatan para oknum tokoh tersebut, pada dasarnya durhaka pada pendidikan. Karena mereka adalah figure. Mereka adalah guru. Bahkan, sebagai figure seharusnya memberikan contoh yang baik. Sebagai guru, seharusnya mengajarkan yang baik.
Bagaimana mungkin seorang yang menjadi figur, kemudian mencontohkan berbagai penyimpangan dengan perilakunya, dengan siasatnya, dengan dalihnya, dengan ucapannya, yang ternyata untuk kepentingan diri sendiri, kelompoknya, dan atau komunitasnya. Bagaimana mungkin sebagai guru mengajarkan perbuatan tidak terpuji?
Pemberitaan oleh berbagai media karena kasus tersebut, pada dasarnya menjadi bagian pengajaran yang tidak mendidik.
Sayangnya, perilaku menyesatkan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu tersebut, anehnya banyak yang meniru.
Terbukti semakin banyaknya berita amoral, sebagaimana yang dilansir oleh berbagai media. Bukankah ini bentuk pengajaran negatif dan racun Pendidikan?
Berbicara tentang pengajaran, tentu mengandung bahan ajar ataupun ajaran yang akan disampaikan kepada pihak lain. Terdapat hal yang sangat berbeda, antara pengajaran dan pembelajaran. Demikian juga dengan belajar.
Pengajaran bisa terjadi tanpa ada interaksi aktif antara proses pengembangan dan pelatihan. Belajar bisa tanpa guru, tapi belum tentu sebuah pendidikan, setiap orang bisa belajar dari apa saja, dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja.
Perlu diketahui, Pendidikan dan pengajaran mencakup berbagai aspek. Di antaranya aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan kepribadian (character) melalui formula (per sekolahan). Kegiatan pendidikan mencakup proses dan menghasilkan (production) dan transfer (distribution) ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan secara individu maupun organisasi belajar (learning organization) baik pemerintah ataupun swasta.
Namun, oleh perilaku para oknum dari berbagai kalangan tersebut, terjadi pendidikan tanpa interaksi dua arah. Secara sadar atau tanpa sadar, telah melakukan toxic education yang telah diajarkan oknum sebagai guru/pendidik yang “sebenarnya”.
Hiburan yang Menyakitkan
Perilaku, contoh, ucapan, cerita, histori, yang banyak didapatkan dalam isi berita di berbagai media itu, seolah-olah merupakan hiburan atau sebagai penghibur bagi pembacanya, pendengarnya, atau pemirsanya.
Tetapi sejatinya itu adalah hiburan yang menyakitkan, bagaikan humor yang menyedihkan. Ini sungguh kontraproduktif.
Sadar atau tidak sadar, kita kadang telah melakukan kedurhakaan dalam pendidikan. Karena setiap orang adalah guru. Setiap tempat adalah sekolah. Dan setiap waktu adalah belajar (Ki Hajar Dewantara).
Masa Depan Bangsa Tergantung Tingkat Pendidikan Warganya
Kalimat ini mengisyaratkan bahwa selama proses pendidikan di dalam dan di luar sekolah berjalan tanpa kedurhakaan, pada dasarnya menyiapkan generasi yang akan melanjutkan keberlangsungan kehidupan bangsa.
Generasi yang tidak mendapatkan pendidikan dengan baik, merupakan kontraproduktif dari pencapaian tujuan pendidikan. Pemilihan ajaran, memilih contoh perilaku, mereduksi kabar dan berita, kemampuan analisis terhadap peristiwa adalah bagian dari bahan ajar.
Meski tidak semua ajaran adalah pendidikan. Namun jika salah pilih mengonsumsi berita tersebut, salah mengambil contoh, maka sia-sialah pendidkan yang telah dijalankan. (*/ida)
Penulis : Susilo Teguh Raharjo (Pemerhati Pendidikan Alumni S3 MP Unnes ’17)
Editor : Ida Nor Layla