RADARSEMARANG.ID, Mencermati dinamika relasi antara PBNU dan PKB sekarang ini sepertinya tidak bisa dikatagorikan sebagai sebuah dialektika.
Sebagai kader NU, saya merasa miris dan menduga ada anomali.
Ya, ada sebuah peristiwa di luar adat kebiasaan atau kultur NU yang terjaga.
Baca Juga: Organisasi Keagamaan Didorong Genjot Pendidikan Agama Untuk Pemuda
Sebagai ormas keagamaan terbesar, tentu logis jika dalam proses perjalanannya mengalami dinamika, dan itu berfaedah selama dalam koridor tradisi dan konstruktif.
Sebagai parpol, logis jika memiliki dinamika. Bahkan, banyak yang merasa tidak kaget, juga tidak perlu kaget, karena atmosfer parpol akrab dengan dinamika.
Banyak buku yang memuat dinamika PKB dengan diksi konflik PKB, termasuk dijadikan materi disertasi program doktor ( S3 ) oleh Dr Kamarudin, dengan judul "Konflik Internal PKB", ( Sukses, 2008 ).
Dinamika yang terjadi antara PBNU dan PKB sekarang ini, bisa dikatakan tidak lazim. PKB tidak bersikap tawadluk dengan PBNU itu merupakan hal aneh ( ghorib ) dan sangat tidak patut. PKB itu siapa? Entitas apa? Berasal dari mana?
Dinamika PKB
Partai kebangkitan Bangsa ( PKB ) yang dideklarasikannya kelahirannya pada 23 Juli 1998, di Ciganjur Jakarta Selatan, sejak usia "balita" sudah mengalami dinamika,- kalau tidak mau menyebutkan konflik yang tidak sederhana.
Konflik pertama terjadi pada tahun 2001, pemecatan Ketua umum DPP PKB, Matori Abdul Djalil.
Dinamika tersebut bermula dari dekrit presiden Abdurrahman Wahid tentang pembubaran parlemen, (23/7/2001), selanjutnya pembekuan seluruh kegiatan fraksi PKB di DPR dan MPR dan pelarangan kehadiran para anggota pada sidang istimewa MPR 23 Juli 2001.
Masalah tersebut berbuntut panjang dan bereskalasi. Bahkan, di ujungnya melahirkan kepemimpinan DPP PKB kembar, yaitu DPP PKB Batutulis dengan Ketua umum matori Abdul Djalil dan DPP PKB Kuningan dengan Ketua umum Alwi Shihab.
Dinamika kedua, bermula dari muktamar PKB kedua, di Semarang, 2005.
Trigernya reposisi sekjen DPP PKB dan penonaktifan ketua umum DPP PKB.
Pada Dinamika ini melibatkan banyak kiai khos/kharismatik.
Ujungnya terjadi kepemimpinan kembar dengan nama lain, dibawah duet kepemimpinan KH Abdurrahman chudori, ponpes Tegalrejo, Magelang sebagai ketua dewan Syura dan Choirul Anam sebagai ketua umum 2005 - 2010, melalui muktamar di Surabaya.
Penulis, melihat langsung proses kedua muktamar tersebut.
Dinamika selanjutnya melibatkan ketua umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar dengan sekjen DPP PKB, Yenny Wahid, yang berakhir dengan terjadinya disharmoni keduanya.
Bahkan, sampai sekarang ini praktis dzuriyah pendiri PKB, KH Abdurrahman Wahid, tidak ada yang masuk dalam struktur PKB, juga tidak pernah dicalonkan di legislatif maupun eksekutif. Dan masih banyak dinamika lainnya.
Dinamika yang terjadi sekarang ini benar benar berbeda. Tidak saja menyeret PBNU, tetapi sudah membuka konfrontasi terbuka.
Berita media massa tentang aksi massa di depan kantor PBNU, Jakarta dengan narasi provokatif - agitatif, membentangkan spanduk dan menuntut Ketua umum PBNU dan sekjen PBNU mengundurkan diri sekaligus menebar isu MLB sangat mengusik aktifis Nahdliyyin yang menjaga marwah Jam'iyyah NU.
Baca Juga: Bangun Kewaspadaan Dini Jelang Pilkada, Redam Panasnya Dinamika Politik
Aksi tersebut bisa menjadi trigger bangkitnya Nahdliyyin untuk melakukan pengamanan, penyelamatan sekaligus perlawanan serta bisa bereskalasi yang tidak bertepi.
Karena bisa menyeret lembaga dan badan otonom NU yang merasa terusik.
Gerakan pemuda Ansor dalam kapasitasnya sebagai pengawal ulama, telah merasa terusik dengan aksi di kantor PBNU.
Ketum PP GP Ansor, Addin Jauharudin, dengan tegas memerintahkan anggotanya, Banser untuk mengusir, bahkan jika diperlukan menggebuk mereka, ( Republika , 4/8/2024 ).
Respon yang sama juga diberikan oleh pengurus gerakan pemuda Ansor Banten, ( NU online, 4/8/2024).
Tidak menutup kemungkinan badan otonom lainnya termasuk lembaga NU lainnya akan merasa terusik, tidak ketinggalan struktur NU di semua level. Jika ini berlanjut, tentunya akan merugikan, terutama PKB, yang mengandalkan warga NU sebagai basis suara utama.
Memang, belum ada riset atau kajian akademik - empirik ,apakah memang ada yang sengaja membuat skenario dinamika relasi ini untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Apakah ada desain untuk melawan PBNU untuk kepentingan tertentu termasuk menghindari konflik internal. Sebab, dengan "berkonflik" eksternal, apalagi dengan PBNU bisa menghindarkan konflik internal yang memungkinkan tergusurnya sang aktor.
Jika ada yang tega melakukan skenario itu, maka sudah sangat keterlaluan.
Offside
Mendemo kantor PBNU secara atraktif - provokatif - agitatif itu offside. Menyerang secara kelembagaan atau secara individu itu offside.
Demikian pula menuntut mundur Ketua umum dan sekjen itu offside, apalagi menggulirkan isu MLB.
Kalau itu disebut sebagai perbuatan dosa besar, maka masuk katagori dosa besar murokab.
PKB dan para elitenya tidak punya domain, tidak punya relevansi, karena yang punya hak itu struktur NU.
Indikasi offside antara lain mengoreksi, menyalahkan, menjelekkan, mengolok, membantah, melawan, menuduh, mendemo, menuntut mundur.
Posisi PKB sebagai produk PBNU, ( kalau tidak mau menyebutnya sebagai anak), sebagai alat, sebagai media/ wasilah hal tertentu.
Bagaimana sebuah produksi, sebagai alat bisa melawan yang membuatnya.
Dalam konteks anak dan orang tua, secara dogmatis anak dilarang menyerang orang tuanya.
Bukan rahasia, secara faktual, PBNU telah memberikan privilege kepada PKB. Secara direct maupun indirect Nahdliyyin didorong menyalurkan aspirasi politiknya ke PKB, bahkan sempat muncul narasi penisbatan TT ( telor dan telek/kotoran ayam).
Merayakan peringatan hari santri, liga santri ditangani oleh PKB, termasuk panglima santri dijabat oleh elitenya.
Jika sudah banyak yang diberikan, rasanya kurang elok jika masih banyak tuntutannya, apalagi melawannya. Tidak boleh serakah, kemaruk.
PBNU itu sakral dan bagi yang melawannya bisa berakibat fatal. Sakralnya PBNU bukan terletak pada top leadernya, tetapi pada institusinya, pada lambang lambangnya, pada para muasisnya.
Orang yang kurang hebat menjadi hebat ketika memanggul panji panji NU.
Sebaliknya orang yang merasa dirinya hebat menjadi tidak hebat ketika tidak memanggul panji panji NU, apalagi melawan orang yang sedang memanggul panji panji NU. Tidak bisa dilihat secara personal tetapi harus dilihat secara institusional.
Boleh beranggapan Ketua umum PBNU sebagai orang biasa, sebagai temannya dan sebagainya, tapi tidak bisa lalu mempersonifikasi, menyepelekannya, apalagi menghinanya.
Ketika seseorang sudah mengemban amanah sebagai pemanggul panji panji NU, maka semuanya harus menghormatinya, termasuk masyarakat di luar NU.
Sebab dia sedang mengemban tugas sebagai pemanggul panji panji yang harus dihormati dan dilindungi.
Dia adalah simbol sebagaimana Jokowi sebagai presiden Indonesia, SBY sebagai presiden Indonesia, Gus Dur sebagai presiden Indonesia dan sebagainya.
Kesalahan bisa dilakukan oleh siapa saja, dalam konteks apa saja. Kesalahan yang diakhiri dengan penyesalan yang dalam, dengan meminta maaf dan pertaubatan adalah sikap bijak dan kesatria sekaligus sebagai ciri orang Sholeh.
Dilihat dari perspektif apapun PKB, tentunya melalui elitenya melawan PBNU, apalagi memasuki rumah tangga utama PBNU dengan narasi agitatif tidak bisa dibenarkan.
Semoga Allah memberikan jalan terbaik dari dinamika yang terjadi.
Mufid Rahmat
Mufid Rahmat, penulis buku, Semua Akan NU pada Waktunya, ( LKiS)
Editor : Tasropi