RADARSEMARANG.ID, KEMAJUAN ilmiah dalam pemahaman aspek molekuler penyakit telah mengarah pada pengembangan terapi yang lebih efektif dan diarahkan secara khusus, menjanjikan kemajuan besar dalam meningkatkan kesehatan manusia.
Pendekatan yang disebut sebagai pengobatan presisi (precision medicine) telah muncul sebagai solusi yang dipersonalisasi dalam mencegah dan mengobati penyakit, dengan memperhitungkan faktor genetik, lingkungan, serta pola hidup individu.
Pendekatan yang disesuaikan ini memungkinkan dokter dan peneliti untuk memprediksi secara lebih akurat metode pengobatan dan pencegahan mana yang akan efektif untuk kelompok orang tertentu.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sedang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biomedis berbasis genomik untuk mendukung terapi dan pengobatan presisi.
Dalam pandangan Djoko Santoso, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, pengobatan presisi bukanlah tentang mengembangkan pengobatan unik atau obat-obatan khusus yang disesuaikan untuk setiap pasien karena hal ini sulit dan mahal secara teknis.
Namun, pendekatan ini didasarkan pada peta karakter individu dengan menggunakan data genetik yang tersedia.
Pengobatan presisi telah terkait dengan pengobatan penyakit degeneratif seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit neurodegeneratif.
Baca Juga: Tim Dosen Prodi Farmasi FMIPA UNNES Sosialisasi Deteksi Dini Penyakit Degeneratif di Jatirejo
Namun, konsep ini juga dapat diterapkan pada berbagai jenis penyakit lainnya, termasuk penyakit infeksi, autoimun, dan genetik.
Dalam pengobatan presisi untuk penyakit infeksi, pendekatan yang lebih spesifik dan terarah digunakan untuk mengatasi infeksi dengan mempertimbangkan faktor-faktor individu, sifat patogen, dan respons tubuh.
Pengembangan teknologi pemetaan genomik telah memainkan peran penting dalam pengobatan presisi.
Pemetaan genomik memungkinkan identifikasi perbedaan genetik antara individu, sehingga memungkinkan pemilihan pengobatan yang lebih tepat dan efektif.
Selain itu, metode pengurutan DNA yang semakin cepat dan murah telah memungkinkan akses yang lebih mudah ke data genetik individu.
Hal ini memungkinkan dokter dan peneliti untuk mengidentifikasi faktor genetik yang berperan dalam penyakit dan mengembangkan strategi pengobatan yang lebih terarah.
COVID-19
Pengobatan presisi untuk COVID-19 mencakup berbagai pendekatan, termasuk penggunaan obat-obatan yang ditargetkan pada mekanisme spesifik virus atau sistem kekebalan tubuh.
Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pengobatan presisi terhadap Pasien COVID-19 adalah:
1. Vaksinasi
Meskipun vaksin COVID-19 adalah bentuk pencegahan, namun pengobatan presisi juga dapat melibatkan pemahaman tentang bagaimana individu merespon vaksinasi.
2. Terapi Berbasis Antibodi Monoklonal
Pengobatan berbasis antibodi monoklonal telah dikembangkan untuk merespon secara presisi terhadap COVID-19.
Antibodi tersebut dapat dirancang untuk menargetkan protein spike virus dengan cara yang spesifik.
3. Variabilitas Genetik
Setiap individu memiliki perbedaan genetik yang dapat mempengaruhi cara tubuh merespon infeksi virus, termasuk COVID-19.
4. Pemantauan dan Diagnostik
Teknologi pemantauan dan diagnostik presisi, seperti tes genetic atau biomarker spesifik dapat membantu penilaian prognosis dan pemilihan terapi yang benar.
5. Personalisasi Perawatan Intensif
Pada Pasien COVID-19 dengan tingkat keparahan yang berat, personalisasi perawatan intensif berdasarkan respon individu.
Perlu dicatat bahwa pengobatan presisi untuk COVID-19 masih terus berkembang, sementara beberapa pendekatan menunjukkan potensi dan perlu penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi keefektifan dan keamanannya.
Penting untuk terus melakukan penelitian, mengatasi hambatan dan mempertimbangkan dampak etika dan sosialnya agar pengobatan presisi dapat menjadi lebih terintegrasi dalam praktik klinis dan memberikan manfaat yang maksimal bagi Pasien.
Baca Juga: Wamenkes Ajak Percepat Eliminasi TBC
Baca Juga: Dinkes Kendal Temukan 1.122 Kasus TBC
Tuberkulosis (TB)
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan bakteri terutama ditularkan dari manusia ke manusia melalui aerosol.
Selama 50 tahun terakhir, penatalaksanaan pasien tuberkulosis mengikuti pendekatan penatalaksanaan standar.
Standarisasi ini mengabaikan variasi kerentanan manusia terhadap infeksi, respons imun, farmakokinetik obat, dan durasi pengobatan individu yang diperlukan untuk mencapai kesembuhan bebas kekambuhan.
Sedangkan pengobatan presisi Tuberkulosis (TB) mengacu pada strategi pencegahan dan pengobatan yang mempertimbangkan variabilitas individu dan memprediksi manfaat terapi.
Pengobatan presisi juga melibatkan pendekatan yang mempertimbangkan variasi genetik dari bakteri Mycobacterium tuberculosis (penyebab TB) dan respons individu terhadap obat-obatan anti-TB.
Beberapa aspek yang dapat dipertimbangkan dalam pengobatan presisi TB:
1. Individualisasi Regimen Terapi
Pengobatan berdasarkan informasi genetik yang dapat disesuaikan untuk setiap individu dengan memilih kombinasi obat yang paling efektif dengan informasi resistensi obat.
2. Identifikasi Resistensi Obat
Pengobatan dapat melibatkan identifikasi mutase genetic yang mempengaruhi resistensi bakteri terhadap obat anti TB tertentu.
Hal ini memungkinkan dokter untuk memilih obat yang masih efektif untuk mengatasi infeksi.
3. Genom Mycobacterium tuberculosis
Penelitian tentang M. tuberculosis membantu mengidentifikasi variasi genetik dalam bakteri yang dapat mempengaruhi resistensi obat dan respon terhadap pengobatan.
4. Vaksinasi TB yang Disesuaikan
Vaksinasi TB umumnya dilakukan dengan BCG, namun pengembangan vaksin yang lebih disesuaikan dengan variasi genetik individu dan jenis TB tertentu juga merupakan bagian dari pengobatan presisi.
5. Pencegahan Penularan
Pemahaman tentang genetika individu juga dapat membantu dalam merancang strategi pencegahan yang lebih spesifik, terutama pada komunitas-komunitas yang beresiko terpapar TB.
Pengobatan presisi untuk TB masih dalam pengembangan dan penelitian secara aktif.
Kemajuan dalam pemahaman tentang genetika M. tuberculosis dan respon individu terhadap obat-obatan akan terus memperkuat pendekatan ini.
Implementasi pengobatan presisi memerlukan sumber daya dan infrastruktur di tingkat global untuk memastikan akses dan keberlanjutan pengobatan yang tepat sasaran.
Hepatitis
Terdapat dua jenis utama penyakit hepatitis yang umum yaitu Hepatitis B dan C, masing-masing memiliki tantangan dan potensi pengobatan presisi yang berbeda.
Beberapa aspek yang dapat dipertimbangkan dalam pengobatan presisi:
1. Identifikasi Genetik Virus
Analisis genetik hepatitis dapat membantu memahami variasi genetic yang mungkin mempengaruhi resistensi obat.
Pengobatan presisi dapat mempertimbangkan mutasi virus yang dapat mempersulit pengobatan.
2. Vaksinasi
Untuk Hepatitis B, vaksinasi dapat dianggap sebagai bentuk pencegahan yang efektif.
Pengobatan presisi juga dapat meningkatkan pemahaman tentang respon vaksinasi individu.
3. Penggunaan Obat Antiviral yang Disesuaikan
Berdasarkan informasi genetik, dokter dapat memilih obat antiviral yang lebih spesifik dan efektif.
Beberapa obat antiviral untuk hepatitis dirancang untuk menargetkan siklus hidup virus.
4. Fakto Risiko dan Komorbiditas
Pengobatan presisi mempertimbangkan faktor risiko dan komorbiditas yang mempengaruhi respon terhadap pengobatan.
5. Terapi Kombinasi
Pengobatan presisi terkadang melibatkan penggunaan terapi kombinasi yang dirancang untuk menargetkan beberapa langkah siklus hidup virus atau untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.
Dalam pengobatan presisi hepatitis diperlukan kerjasama dengan tim kesehatan, menjalani pemeriksaan secara teratur untuk memantau respon terhadap pengobatan dan memastikan manajemen yang efektif dalam pengelolaan hepatitis.
Pengobatan presisi untuk penyakit infeksi diharapkan dapat menjadi terobosan dalam dunia kesehatan.
Diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami lebih dalam mengenai keragaman genetik dan respon individu terhadap infeksi dengan harapan dapat merancang terapi yang lebih spesifik dan efektif.
Keterlibatan Pasien dalam pengobatan presisi sangat penting untuk meningkatkan hasil perawatan.
Seiring dengan kemajuan pengobatan presisi, perlu diperhatikan masalah etika dan privasi data.
Langkah-langkah penting harus diambil untuk melindungi informasi genetik individu dan memastikan bahwa penggunaan data sesuai dengan norma etika.
Penting untuk terus memantau perkembangan dalam pengobatan presisi dan memastikan penerapannya membawa manfaat maksimal bagi pasien serta mempertimbangkan dampak sosial, etika dan keadilan. (*/web/tas)
* Rina Isnawati, Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Biologi UGM dan Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN
Editor : Tasropi