RADARSEMARANG.ID, PEMANFAATAN sumber daya yang tinggi selaras dengan tingginya jumlah sampah yang dihasilkan.
Sampah merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 3,2 persen dari total emisi karbondioksida (CO2).
Dalam 5 tahun terakhir, Asia mengalami empat kali peningkatan jumlah sampah padat perkotaan dibandingkan benua lain.
Indonesia masuk ke dalam peringkat pertama di kawasan Asia Tenggara yang menghasilkan sampah 65 juta per tahun pada tahun 2023 dan penghasil emisi gas rumah kaca. Sehingga rawan terhadap perubahan iklim.
Indonesia membuang sampah padat perkotaan dengan metode open dumping. Pengelolaan sampah dengan metode tersebut masih menjadi masalah utama.
Hal ini karena meningkatnya penumpukan sampah yang tidak dikelola baik oleh pemerintah.
Dalam beberapa bulan terakhir, tempat pembuangan akhir (TPA) pada beberapa tempat seperti Rawa Kucing, Jatibarang, dan Suwung yang disebabkan cuaca panas yang ekstrim memicu penumpukan gas metana.
Khususnya pada sampah plastik dan menimbulkan cipratan api hingga terjadi kebakaran. Metode ini juga berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan sekitar dikarenakan senyawa berbahaya seperti dioksin dan logam berat berbahaya seperti nikel dan kadmium.
Air lindi yang dihasilkan dari TPA tersebut dapat mencemari air tanah. Sehingga secara langsung mempengaruhi asupan air maupun rumah tangga bagi masyarakat.
Tidak hanya itu, berkembang biaknya hewan pengerat dan serangga di sekitar TPA dapat meningkat resiko penularan penyakit ke masyarakat melalui kontak langsung berupa gigitan.
Fenomena sampah laut di Indonesia juga merupakan akibat pembuangan sampah yang tidak terkontrol pengawasannya. Menyebabkan pelepasan sampah tersebut ke badan air seperti sungai, danau, dan lautan.
Pengomposan merupakan suatu teknologi yang dapat digunakan sebagai alternatif pengurangan jumlah sampah padat perkotaan yang menumpuk pada TPA dan sebagai pengganti teknologi open dumping.
Teknologi ini sangat relatif aman dipakai. Karena mengubah sampah yang dapat terurai menjadi produk yang bermanfaat dan aman seperti pupuk hayati.
Teknologi ini juga berperan dalam melindungi air bawah tanah dari cemaran air lindi.
Selain itu, pengomposan berguna dalam bioremediasi, pengendalian hayati terhadap penyakit pada tanaman, mengendalikan restorasi lahan basah maupun erosi, dan meningkatkan biodiversitas tanah.
Penataan yang tepat diperlukan terhadap lokasi dan komposisi pengomposan dengan tujuan teknologi tersebut dapat efisien dan berkualitas tinggi.
Kadar air, aerasi, dan suhu merupakan faktor lingkungan perlu diperhatikan. Kualitas akhir kompos ditentukan dari rasio C/N sekitar 25-30.
Emisi gas yang dihasilkan dari hasil pengomposan juga perlu dicermati dengan pemilihan zat aditif serta mikroba yang tepat dan kondisi awal substrat dalam pengomposan.
Keberhasilan dalam pengolahan sampah dengan menggunakan teknologi pengomposan perlu diiringi perilaku masyarakat.
Seperti memilah maupun mengurangi sampah secara mandiri. Pembuatan bank sampah juga perlu dibentuk dengan tujuan kebermanfaatan berkelanjutan.
Manfaat bank sampah yaitu dapat mengurangi penumpukan sampah di TPA serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang sehat dan bersih.
Manfaat lain dalam sisi ekonomi berupa penghasilan tambahan bagi masyakarat sekitar dengan pemanfaatan sampah yang bisa dibuat sebagai produk bermanfaat.
Pemerintah diharuskan terlibat dalam pengolahan sampah sebagai pihak pengambil keputusan berupa penerapan regulasi seperti perluasan lahan pengomposan.
Pemerintah perlu menambah alokasi anggaran terkait pengolahan sampah baik dari anggaran negara maupun daerah serta kolaborasi dengan swasta.
Selanjutnya, pemerintah perlu menetapkan pajak sampah bagi wisatawan asing. Karena permasalahan sampah tidak bisa hanya diselesaikan pengomposan saja.
Namun dibutuhkan keterlibatan antara masyarakat, pemerintah, dan swasta. Sehingga pengelolaan sampah yang komprehensif di Indonesia dapat tercapai. (*/fth)
Oleh : Rizky Danang Susetyo, S.Si., M.Si. Mahasiswa Program Studi Doktor Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Editor : Tasropi