RADARSEMARANG.ID – Beras menjadi makanan pokok yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir di setiap rumah tangga, nasi selalu hadir sebagai sumber energi utama dalam menu harian.
Namun, di balik perannya yang sangat penting, beras putih yang umum dikonsumsi ternyata memiliki keterbatasan dari sisi kandungan zat gizi mikro.
Setelah melalui proses penggilingan, sebagian vitamin dan mineral alami yang terdapat pada padi ikut berkurang, sehingga beras lebih banyak berfungsi sebagai penyedia karbohidrat dibandingkan sumber nutrisi lengkap.
Kondisi tersebut menjadi perhatian para ahli pangan dan kesehatan karena kekurangan zat gizi mikro masih menjadi salah satu tantangan besar di Indonesia, terutama dalam upaya menekan angka stunting, anemia, serta berbagai masalah gizi lainnya.
Berbagai studi menunjukkan bahwa tubuh manusia tidak hanya membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi, tetapi juga memerlukan vitamin dan mineral seperti zat besi, zinc (seng), vitamin A, asam folat, hingga vitamin B kompleks untuk menunjang pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menjaga fungsi organ agar tetap optimal.
Kekurangan zat-zat tersebut dalam jangka panjang dapat berdampak terhadap tumbuh kembang anak, kesehatan ibu hamil, hingga produktivitas masyarakat secara keseluruhan.
Menjawab tantangan tersebut, para peneliti mengembangkan dua inovasi penting dalam dunia pangan, yakni beras biofortifikasi dan beras fortifikasi. Meski sama-sama bertujuan meningkatkan kualitas gizi beras, keduanya memiliki konsep dan proses pengembangan yang berbeda.
Baca Juga: Pemprov Jateng Perkuat PAUD Lewat Modul EMAS dan Pendampingan Psikolog
Beras biofortifikasi merupakan hasil inovasi yang meningkatkan kandungan gizi sejak tanaman masih berada di lahan pertanian. Dengan kata lain, proses peningkatan vitamin maupun mineral dilakukan melalui pemuliaan tanaman atau teknologi rekayasa genetik sehingga nutrisi telah terbentuk secara alami di dalam bulir padi sebelum dipanen.
Di Indonesia, salah satu contoh pengembangan beras biofortifikasi adalah varietas Inpari IR Nutri Zinc yang dikembangkan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Padi Kementerian Pertanian.
Varietas unggul baru tersebut resmi diperkenalkan pada 2019 dan memiliki kandungan zinc mencapai sekitar 34 ppm atau sekitar 25 persen lebih tinggi dibandingkan varietas beras biasa.
Peningkatan kandungan zinc tersebut dinilai penting mengingat mineral ini memiliki peran besar dalam mendukung sistem kekebalan tubuh, mempercepat pertumbuhan anak, membantu proses penyembuhan luka, hingga menjaga fungsi metabolisme.
Anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui menjadi kelompok yang paling membutuhkan asupan zinc dalam jumlah cukup setiap harinya.
Keunggulan lain dari beras biofortifikasi adalah kandungan gizinya telah terbentuk secara alami sehingga tidak memerlukan proses penambahan vitamin maupun mineral setelah masa panen.
Petani juga dapat membudidayakan varietas tersebut seperti halnya padi pada umumnya tanpa membutuhkan teknologi pengolahan tambahan.
Meski demikian, pengembangan beras biofortifikasi juga memiliki tantangan. Dibutuhkan waktu penelitian yang panjang untuk menghasilkan varietas baru yang stabil dan memiliki produktivitas tinggi.
Selain itu, penerimaan masyarakat terhadap varietas hasil pemuliaan maupun rekayasa genetik masih menjadi tantangan tersendiri. Ketersediaan beras biofortifikasi di pasaran pun hingga kini belum sebanyak beras konvensional sehingga akses masyarakat masih relatif terbatas.
Sementara itu, pendekatan berbeda dilakukan melalui pengembangan beras fortifikasi. Jika biofortifikasi dilakukan sejak tanaman masih tumbuh, fortifikasi dilakukan setelah padi dipanen dan diolah menjadi beras. Dalam proses ini, beras diperkaya dengan berbagai zat gizi mikro menggunakan teknologi pangan modern.
Beras fortifikasi umumnya mengandung tambahan zat besi, zinc, asam folat, vitamin B1, vitamin B3, dan vitamin B6. Penambahan nutrisi dilakukan melalui pencampuran butiran beras khusus yang telah diperkaya vitamin dan mineral dengan beras biasa sehingga kandungan gizi nasi yang dikonsumsi masyarakat menjadi lebih lengkap.
Pendekatan ini dinilai lebih cepat dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat karena kandungan vitamin dan mineral dapat disesuaikan dengan kebutuhan program kesehatan nasional.
Baca Juga: Harga Emas Antam Melonjak Rp50.000 Hari Ini, Tembus Rp2,679 Juta per Gram
Oleh sebab itu, beras fortifikasi sering dipandang sebagai salah satu instrumen strategis dalam mendukung berbagai program pemerintah, termasuk percepatan penurunan stunting, pencegahan anemia pada ibu hamil, hingga peningkatan kualitas gizi masyarakat berpenghasilan rendah.
Meski memiliki keunggulan dari sisi kecepatan implementasi, pengembangan beras fortifikasi juga menghadapi sejumlah tantangan. Proses produksinya memerlukan teknologi tambahan sehingga biaya produksi relatif lebih tinggi dibandingkan beras biasa.
Di samping itu, apabila proses pencampuran maupun pengolahannya tidak dilakukan secara optimal, rasa maupun tekstur nasi dapat mengalami sedikit perubahan sehingga memengaruhi penerimaan konsumen.
Para ahli gizi menilai kedua inovasi tersebut sebenarnya tidak perlu dipertentangkan karena memiliki fungsi yang saling melengkapi. Beras biofortifikasi lebih tepat diposisikan sebagai solusi jangka panjang
yang dimulai dari sektor pertanian, sedangkan beras fortifikasi dapat menjadi langkah cepat untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat melalui berbagai program intervensi pemerintah.
Di berbagai negara berkembang, strategi fortifikasi pangan telah lama diterapkan sebagai bagian dari kebijakan kesehatan masyarakat. Organisasi kesehatan dunia juga mendorong pemanfaatan fortifikasi
bahan pangan pokok sebagai salah satu cara efektif menekan kekurangan zat gizi mikro yang masih banyak ditemukan di negara berpendapatan menengah dan rendah.
Bagi Indonesia, keberadaan kedua jenis beras tersebut menjadi peluang besar untuk memperbaiki kualitas konsumsi pangan nasional. Mengingat beras merupakan makanan yang dikonsumsi hampir setiap hari oleh sebagian besar masyarakat,
peningkatan kandungan gizi pada komoditas ini dinilai memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan intervensi melalui makanan tertentu yang hanya dikonsumsi sesekali.
Baca Juga: Cek DTSEN untuk Bansos Beras Agustus 2026, Ini Cara Daftar Offline Jadi Penerima 30 Kg Beras
Selain mengonsumsi beras bergizi, para ahli juga mengingatkan bahwa pemenuhan kebutuhan nutrisi tetap harus dilakukan secara seimbang. Masyarakat dianjurkan melengkapi menu harian dengan sumber protein hewani maupun nabati, sayuran hijau, buah-buahan, susu, serta menjaga pola hidup sehat agar kebutuhan vitamin dan mineral tubuh dapat terpenuhi secara optimal.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kualitas pangan dan kesehatan masyarakat, inovasi beras fortifikasi maupun biofortifikasi menjadi bukti bahwa sektor pertanian dan teknologi pangan terus berkembang untuk menjawab tantangan zaman.
Dengan dukungan riset, kebijakan pemerintah, serta penerimaan masyarakat, kedua inovasi ini berpotensi menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan bebas dari masalah kekurangan gizi.
Sebagai informasi, beras biofortifikasi merupakan beras yang kandungan gizinya ditingkatkan melalui proses pemuliaan tanaman atau rekayasa genetik sejak masa budidaya, sedangkan beras fortifikasi adalah beras yang memperoleh tambahan vitamin dan mineral setelah proses penggilingan melalui teknologi pangan.
Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan asupan zat gizi mikro masyarakat, membantu menurunkan risiko stunting, anemia, dan kekurangan gizi lainnya, sekaligus mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga kualitas nutrisi.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi