Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Inflasi Medis Capai 17,8 Persen, Allianz Edukasi Pentingnya Asuransi Kesehatan Berkelanjutan

Lutfi Hanafi • Rabu, 8 Juli 2026 | 18:11 WIB
Untitled design - 2EDUKASI : Allianz Indonesia mengedukasi masyarakat tentang pentingnya proteksi kesehatan berkelanjutan di tengah meningkatnya inflasi medis dan biaya pengobatan yang tinggi.  (DOK. ALLIANZ)
Untitled design - 2EDUKASI : Allianz Indonesia mengedukasi masyarakat tentang pentingnya proteksi kesehatan berkelanjutan di tengah meningkatnya inflasi medis dan biaya pengobatan yang tinggi. (DOK. ALLIANZ)

RADARSEMARANG.ID, Jakarta – Kenaikan biaya layanan kesehatan yang melampaui laju inflasi umum, kini menjadi ancaman baru bagi ketahanan finansial keluarga Indonesia.

Allianz Indonesia mengajak masyarakat memahami pentingnya perlindungan kesehatan yang berkelanjutan.

Berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026, inflasi medis Indonesia diperkirakan mencapai 17,8 persen pada 2026.

Angka tersebut jauh melampaui rata-rata kawasan Asia sebesar 12,5 persen, sekaligus menjadi yang tertinggi di kawasan.

Kondisi ini mencerminkan semakin besarnya tantangan yang harus dihadapi masyarakat ketika membutuhkan layanan kesehatan, khususnya untuk penanganan penyakit kritis.

Melalui Media Workshop yang digelar beberapa waktu kemarin, bertema ‘Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis’, Allianz Indonesia menghadirkan perspektif medis dan industri asuransi untuk memberikan pemahaman mengenai faktor-faktor yang mendorong lonjakan biaya kesehatan.

Kenaikan tersebut tidak hanya dipengaruhi inflasi, tetapi juga perkembangan teknologi medis, mahalnya obat-obatan dan alat kesehatan, hingga faktor ekonomi makro seperti ketergantungan terhadap produk impor.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan, penyakit tidak menular, terutama penyakit jantung, masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Bahkan, kasus penyakit jantung kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

Menurutnya, berbagai faktor seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, stres, pola makan tidak sehat hingga kebiasaan merokok menjadi pemicu meningkatnya risiko penyakit tersebut.

Ia menjelaskan, penanganan penyakit jantung membutuhkan biaya yang besar, mulai dari pemeriksaan awal, tindakan medis, penggunaan alat kesehatan hingga terapi obat dalam jangka panjang.

Dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas ekonomi keluarga.

Banyak faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini. Namun ketika risiko itu terjadi, penanganannya seringkali membutuhkan tindakan yang kompleks dan biaya yang tidak sedikit.

“Karena itu, penerapan gaya hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta kesiapan memiliki perlindungan kesehatan menjadi sangat penting," ujarnya.

Ia menambahkan, kemajuan teknologi kedokteran memang mampu meningkatkan kualitas diagnosis dan keberhasilan pengobatan pasien. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi yang semakin modern turut mendorong kenaikan biaya pelayanan kesehatan.

Sementara itu, Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana, menilai lonjakan biaya medis menjadi tantangan bagi seluruh ekosistem layanan kesehatan, termasuk industri asuransi.

Menurutnya, tekanan terhadap biaya kesehatan tidak hanya berasal dari inflasi dan perkembangan teknologi medis, tetapi juga dipengaruhi kondisi ekonomi global.

Pelemahan nilai tukar rupiah, misalnya, turut berdampak karena sebagian besar obat dan alat kesehatan masih bergantung pada impor.

Data Allianz Indonesia menunjukkan rata-rata biaya perawatan berbagai penyakit kritis selama periode 2020-2025 mengalami kenaikan signifikan.

Biaya perawatan penyakit jantung meningkat hingga 219 persen, kanker naik 179 persen, sedangkan stroke melonjak 169 persen.

Sepanjang 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah juga telah membayarkan klaim dan manfaat senilai Rp6,3 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 3,7 triliun merupakan klaim kesehatan.

"Ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap layanan kesehatan berkualitas saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan berkelanjutan dalam jangka panjang," kata Rina.

Ia menegaskan, penyesuaian yang dilakukan industri asuransi kesehatan merupakan bagian dari upaya menjaga kecukupan manfaat agar nasabah tetap memperoleh perlindungan sesuai kebutuhan di tengah perubahan lanskap biaya medis.

Menurutnya, perlindungan kesehatan sudah semestinya menjadi bagian dari strategi perencanaan keuangan keluarga.

Sebab, dampak penyakit kritis tidak berhenti pada biaya rawat inap, tetapi juga mencakup pengobatan lanjutan, rehabilitasi hingga pemulihan yang membutuhkan biaya besar dalam waktu panjang.

"Risiko kesehatan dan biaya perawatan diperkirakan akan terus meningkat. Karena itu, masyarakat perlu memiliki pemahaman dan kesiapan yang lebih baik agar tetap dapat mengakses layanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa harus mengorbankan kestabilan finansial keluarga di masa depan," pungkasnya. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#inflasi medis #asuransi kesehatan #Allianz