Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Upaya Danantara Akhiri Era Inefisiensi BUMN dan Jadi Mesin Utama Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Agus AP • Jumat, 8 Mei 2026 | 08:57 WIB
Upaya Danantara Akhiri Era Inefisiensi BUMN dan Jadi Mesin Utama Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Upaya Danantara Akhiri Era Inefisiensi BUMN dan Jadi Mesin Utama Pertumbuhan Ekonomi Nasional

 

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG  — Kelahiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bukan sekadar perubahan nomenklatur dalam struktur pemerintahan.

Akan tetapi, kelahiran lembaga yang menjadi superholding Badan Usaha Milik Negara (BUMN)   tersebut   menjadi   sebuah   revolusi   fundamental untuk   mengakhiri  era inefisiensi pengelolaan aset negara.

Hal tersebut menjadi bahasan utama dalam Debat Publik bertajuk ‘Pertaruhan Besar Negara via Danantara pada Restrukturisasi BUMN’ oleh Nagara Institute-Akbar Faizal Uncensored (AFU) di Oak Tree - Mahoni Ballroom Semarang, Kamis (7/5/2026).

Para pakar ekonomi dan kebijakan publik membedah betapa krusialnya peran BPI Danantara sebagai institusi super yang akan mengonsolidasikan aset ribuan entitas BUMN menjadi satu kekuatan ekonomi tunggal yang kompetitif di kancah global.

Langkah   tersebut   dipandang  sebagai   jawaban  atas   kegelisahan  publik   selama bertahun-tahun terhadap gemuknya birokrasi BUMN, tumpang tindih, dan seringkali terjebak dalam kepentingan non-bisnis yang merugikan produktivitas nasional.

Proyeksi Pertumbuhan

Kepala Pusat Ekonomi Makro & Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, memberikan landasan optimisme melalui analisis makroekonomi yang mendalam.

Menurutnya,  BPI  Danantara  adalah  jangkar  utama  bagi  arsitektur  baru  ekonomi Indonesia yang lebih lincah dan berdaya saing.

Dengan aset gabungan yang mencapai Rp1.650 triliun, Danantara memiliki kekuatan finansial yang setara dengan hampir separuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Rizal  menekankan bahwa  efisiensi  yang  lahir  dari  restrukturisasi  ini  bukan  hanya tentang penghematan, melainkan tentang penciptaan nilai tambah yang akan menggerakkan seluruh mesin ekonomi.

Dalam pandangannya, Ia secara eksplisit menyatakan bahwa “Danantara menjadi langkah strategis untuk merestrukturisasi aset dan investasi BUMN agar lebih produktif, serta berpotensi menjadi mesin investasi nasional baru untuk memperkuat hilirisasi dan industrialisasi yang pada akhirnya mendorong PDB naik sebesar 1,6 persen.”

Efisiensi dan Simplifikasi

Dukungan terhadap  transformasi tersebut  juga mendapat penguatan oleh analisis Wijayanto Samirin, Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Paramadina.

Ia  menyoroti fenomena ‘redundansi’  atau  tumpang tindih  unit  usaha  BUMN  yang selama ini menjadi parasit bagi pertumbuhan perusahaan.

Banyak BUMN yang memiliki anak dan cucu perusahaan di sektor yang sama, seperti logistik, hotel, hingga properti, justru saling mematikan alih-alih bersinergi.

BPI Danantara hadir untuk merapikan kekacauan tersebut di bawah satu manajemen profesional dengan mandat jelas untuk melakukan pembersihan dan simplifikasi.

Wijayanto mengibaratkan BPI Danantara sebagai penyelamat aset negara yang selama ini terabaikan kualitas pengelolaannya.

“Danantara ini seperti keranjang berisi telur-telur BUMN; dulu berserakan, tapi sekarang di dalam satu keranjang sehingga lebih gampang menjaganya, meski kita tetap harus mengawal bersama agar tidak terjadi penyalahgunaan yang bisa merugikan negara,” tegasnya.

Kendati narasi pembangunan yang BPI Danantara bawa sangat kuat, Debat Publik Nagara Institute-AFU di Semarang memberikan ruang bagi masukan konstruktif guna memperkuat fondasi kelembagaan.

Salah satu poin yang paling menjadi penekanan adalah mengenai pentingnya menjaga BPI Danantara dari jeratan kepentingan politik praktis, lantaran di masa lalu seringkali menghambat kinerja BUMN. 

Transparansi  bukan  lagi  pilihan,  melainkan  syarat  mutlak  bagi  keberlanjutan  BPI Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) nomor satu dunia.

Transparansi Tanpa Kompromi

Ekonom Senior Bright Institute,  Awalil Rizky,  menyoroti bahwa publik  memerlukan bukti nyata berupa data angka dan proyek definitif yang dapat diakses guna membangun kepercayaan investor.

Awalil  memberikan peringatan  keras  nan  suportif,  keberhasilan  lembaga  tersebut sangat bergantung keberanian  pengelola menutup  pintu  bagi diskresi  politik  yang merusak.

“Jika Danantara mau sukses, intervensinya harus seminimal mungkin dan hanya boleh lewat peraturan, bukan diskresi; Danantara harus transparan agar publik bisa ikut membela kinerjanya di masa depan,” ungkapnya.

Sejalan dengan hal tersebut, dimensi akuntabilitas fiskal juga menjadi perhatian utama agar BPI Danantara tidak menciptakan kekosongan dalam penerimaan negara jangka pendek.

Guru Besar Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), Prof. Akhmad Syakir Kurnia, mengingatkan bahwa pengalihan dividen dari BUMN ke kas BPI Danantara harus diikuti dengan peningkatan kinerja yang eksponensial agar masyarakat tidak merasa kehilangan manfaat publik yang biasanya disalurkan melalui APBN.

Prof. Akhmad Syakir Kurnia menekankan, keberanian pemerintah dalam membentuk BPI  Danantara harus  dibarengi dengan keberanian  untuk  membuka diri  terhadap pengawasan publik yang lebih ketat. Hal tersebut karena BPI Danantara bertanggung jawab langsung kepada Presiden. “Harapan boleh saja dilambungkan setinggi langit mengenai penataan kelembagaan ini, namun sejarah ekonomi ekstraktif memaksa kita untuk tetap kritis karena ruang untuk  meminta  transparansi  publik  terasa  sudah  mengkhawatirkan secara  desain undang-undang,” tuturnya. 

 

Fokus Masa Depan

Kini,  BPI  Danantara  sedang  bergerak  cepat  dengan  memprioritaskan penyusunan laporan keuangan konsolidasian yang diaudit sebagai standar baru transparansi.

Langkah tersebut merupakan tonggak sejarah bagi BUMN di Indonesia, di mana untuk pertama kalinya seluruh aset negara akan dipotret secara jujur, tanpa adanya praktik window dressing atau manipulasi laporan keuangan yang sering kali menutupi kerugian di masa lalu.

Konsolidasi tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan valuasi aset negara hingga 40 persen dan memberikan penghematan biaya operasional hingga Rp60 triliun per tahun.

Dengan penghematan sebesar ini, BPI Danantara memiliki kapasitas yang cukup untuk membiayai proyek-proyek strategis nasional, mulai dari ketahanan energi hingga kedaulatan pangan, tanpa harus selalu bergantung pada suntikan modal negara.

Debat Publik Nagara Institute-AFU di Semarang pun menghadirkan kesimpulan: BPI Danantara adalah solusi bagi kebuntuan restrukturisasi BUMN yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Dengan kepemimpinan yang berorientasi pada hasil bisnis (business-driven) dan komitmen kuat untuk meninggalkan pola-pola manajemen lama yang birokratis, BPI Danantara berada  di  posisi yang tepat  untuk  menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju negara maju.

Kehadiran BPI Danantara merupakan bukti nyata bahwa Indonesia berani melakukan transformasi besar demi memastikan aset negara dikelola oleh tangan-tangan profesional terbaik,  menjamin efisiensi  maksimal,  dan  pada  akhirnya  memberikan kemakmuran yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tantangan ke depan memang besar, namun dengan pengawalan ketat dari akademisi, praktisi, dan publik, BPI Danantara adalah pertaruhan yang tidak hanya layak diambil, tetapi juga wajib dimenangkan oleh negara.

Editor : Agus AP
#Mesin Utama #Era Inefisiensi BUMN #Pertumbuhan Ekonomi Nasional #Danantara