Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cegah Ganguan Kelistrikan selama Ramadan, PLN Gencarkan Sosialisasi Jarak Aman terhadap Jaringan Listrik

Ida Nor Layla • Rabu, 11 Maret 2026 | 21:32 WIB

SOSIALISASI : PLN UPT Salatiga melakukan koordinasi pengamanan Jarak Bebas Tegangan Jaringan Listrik atau ROW pada lokasi pekerjaan pihak lain.
SOSIALISASI : PLN UPT Salatiga melakukan koordinasi pengamanan Jarak Bebas Tegangan Jaringan Listrik atau ROW pada lokasi pekerjaan pihak lain.

RADARSEMARANG.ID, Salatiga  – PLN melalui Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Salatiga melakukan koordinasi pengamanan Jarak Bebas Tegangan Jaringan Listrik atau Right of Ways (ROW) pada lokasi pekerjaan pihak lain.

Kali ini terdapat kegiatan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang berada di Bentang (Span) 21–22 Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Sragen–Ngawi yang mendekati ROW Jaringan SUTT tersebut.

Kegiatan koordinasi ini dilaksanakan pada Rabu 11 Februari 2026, melibatkan pihak PLN ULTG Surakarta, kontraktor pembangunan, serta pihak terkait guna memastikan aktivitas pembangunan tetap memenuhi standar keselamatan ketenagalistrikan.

Koordinasi dilakukan setelah dilakukan evaluasi teknis terhadap kondisi eksisting di lokasi pembangunan yang berada di bawah jalur transmisi.

Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, tinggi konduktor tercatat 14,5 meter, sementara rencana tinggi bangunan mencapai 8,5 meter dengan penggunaan crane setinggi 10 meter dalam proses konstruksinya.

Saat ini arus yang mengalir pada konduktor tercatat sekitar 50 ampere dari kapasitas maksimal 600 ampere.

Berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2025, jarak aman minimum antara bangunan dan jaringan transmisi ditetapkan 5 meter.

Namun mempertimbangkan faktor keselamatan tambahan serta kondisi operasional jaringan, PLN menerapkan safety factor sehingga jarak aman yang digunakan dalam pengamanan menjadi 7 meter.

Dari hasil analisis tersebut, terdapat potensi risiko gangguan apabila pembangunan tetap menggunakan desain awal.

Untuk itu, PLN bersama pihak kontraktor melakukan pembahasan teknis guna mencari solusi yang tetap mendukung kelancaran pembangunan sekaligus memastikan keamanan sistem transmisi.

Sebagai hasil koordinasi, PLN dan kontraktor sepakat melakukan penyesuaian desain bangunan, khususnya pada bagian atap.

Desain awal yang memiliki ketinggian sekitar 8,5 meter diubah menjadi 5 meter, sehingga jarak aman antara bangunan dengan konduktor meningkat menjadi 9,5 meter.

Penyesuaian ini dinilai mampu memberikan ruang aman yang memadai bagi operasional jaringan transmisi serta aktivitas konstruksi di bawahnya.

Manager PLN UPT Salatiga, Ardylla Rommyonege, menjelaskan bahwa langkah koordinasi ini merupakan bagian dari upaya preventif PLN dalam menjaga keandalan jaringan sekaligus memastikan keselamatan masyarakat dan pekerja konstruksi.

KOORDINASI : PLN UPT Salatiga melakukan koordinasi pengamanan Jarak Bebas Tegangan Jaringan Listrik atau ROW pada lokasi pekerjaan pihak lain.
KOORDINASI : PLN UPT Salatiga melakukan koordinasi pengamanan Jarak Bebas Tegangan Jaringan Listrik atau ROW pada lokasi pekerjaan pihak lain.

“Setiap aktivitas pembangunan yang berada di sekitar jalur transmisi perlu memperhatikan ketentuan jarak bebas tegangan atau ROW. Melalui evaluasi teknis yang kami lakukan, penyesuaian desain bangunan menjadi langkah paling aman agar jarak antara konduktor dan bangunan tetap memenuhi standar keselamatan serta tidak menimbulkan potensi gangguan pada sistem transmisi,” ujar Rudi.

Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan berbagai pihak menjadi kunci penting dalam menjaga keberlangsungan pembangunan tanpa mengabaikan aspek keselamatan kelistrikan.

“Dengan komunikasi yang baik antara PLN dan kontraktor, solusi teknis dapat ditemukan secara cepat dan tepat. Hal ini memastikan pekerjaan konstruksi tetap berjalan, sementara keandalan sistem transmisi juga tetap terjaga,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT), Handy Wihartady, menegaskan bahwa PLN terus mengedepankan kepemimpinan yang proaktif dalam menjaga keandalan infrastruktur kelistrikan sekaligus mendukung pembangunan di berbagai daerah.

“PLN memiliki tanggung jawab untuk memastikan sistem transmisi tetap beroperasi secara andal dan aman. Di sisi lain, kami juga mendukung berbagai program pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, pendekatan kolaboratif dan solusi berbasis keselamatan menjadi prinsip utama kami dalam setiap pengelolaan ruang di sekitar jaringan listrik,” ujar Handy.

Menurutnya, kepemimpinan dalam pengelolaan sistem kelistrikan tidak hanya berfokus pada operasional jaringan, tetapi juga pada kemampuan membangun sinergi dengan berbagai pihak.

“Kami mendorong seluruh unit untuk selalu mengedepankan komunikasi, kolaborasi, dan pengambilan keputusan berbasis keselamatan. Dengan demikian, pembangunan dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat,” tambahnya.

Melalui koordinasi pengamanan ROW ini, PLN UIT JBT menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keselamatan dan keandalan sistem transmisi, sekaligus memastikan bahwa setiap aktivitas pembangunan di sekitar jaringan listrik tetap memenuhi standar teknis dan regulasi yang berlaku. (*/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Listrik Andal #PLN UPT Salatiga #pln uit jbt #sosialisasi jarak aman