Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Saatnya Perbanyak Santri Sarjana NU di Bidang Sains, Teknologi, hingga Pertanian

Ida Nor Layla • Senin, 27 Oktober 2025 | 18:50 WIB
SARASEHAN DARING : Sambungrasa Diaspora NU dari Lima Benua bertema “Dedikasi Diaspora Sarjana NU untuk Indonesia Maju’ yang dilaksanakan ISNU Jateng Jumat 24 Oktober 2025.
SARASEHAN DARING : Sambungrasa Diaspora NU dari Lima Benua bertema “Dedikasi Diaspora Sarjana NU untuk Indonesia Maju’ yang dilaksanakan ISNU Jateng Jumat 24 Oktober 2025.

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Enam sarjana Nahdlatul Ulama (NU) yang kuliah di lima benua, yakni Mesir, Finlandia, Belanda, Amerika, Jepang, dan Australia, kompak mengharapkan para santri lebih meningkatkan kemampuannya tak hanya di bidang ilmu agama saja, tapi ilmu umum seperti sains, teknologi, hingga pertanian. Selain itu, harus bisa menghapus dikotomi antara ilmu agama dan non ilmu agama, karena semua ilmu Adalah milik Allah SWT.

Hal tersebut mengemuka dalam sarasehan daring Sambungrasa Diaspora NU dari Lima Benua bertema “Dedikasi Diaspora Sarjana NU untuk Indonesia Maju’ yang dilaksanakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Tengah (Jateng) pada Jumat 24 Oktober 2025 pukul 13.00 – 17.00 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Sarasehan daring dalam rangka memperingati satu dasawarsa Hari Santri Nasional (HSN) 2025 ini menghadirkan narasumber enam sarjana NU yang sedang menempuh Pendidikan di luar negeri, di antaranya Rifki Irawan dari Australia, Muhammad Syahril Imron dari Belanda, Agus Hidayatullah dari Mesir, Lien Iffah Naf’atu Fina dari Amerika Serikat, Muchammad Tholchah dari Finlandia, dan Achmad Gazali dari Jepang. 

Dalam kesempatan tersebut sambutan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng diwakili Prof DR Musa Hadi, Pengurus Pusat (PP) ISNU diwakili Wardi Taufik, dan Ketua ISNU Jateng sendiri Dr Fakhrudin Azis.

M Syahril Imron yang pernah nyantri di berbagai pondok pesantren di Indonesia sedang menempuh Pendidikan di bidang teknologi pertanian, pangan, dan lingkungan di Belanda ini mengungkapkan, ada sekitar 400 mahasiswa Indonesia di Belanda. Namun mahasiswa dengan background santri memang perlu diperbanyak lagi. 

Syahril sangat bangga, Indonesia merupakan negara yang sangat kaya ragam pangan local di banding negara lain. Ada puluhan ribu jenis umbi-umbian dengan perbedaan nutrisi di dalamnya.

Namun pengelolaan dan pemanfaatannya masih sangat kurang. Karena itu, narasi pertanian Indonesia perlu disampaikan secara intelektual agar menarik minat generasi muda, terutama para santri. Ini penting, pondok pesantren (Ponpes) perlu melakukan pengelolaan pengolahan hasil pertanian lebih variative. Jadi tidak hanya menjual mentah, agar memiliki nilai jual dan nilai ekonomi tinggi. “Pesantren dalam konteks ini, bagaimana bisa berbasis pertanian,” harapnya.

Achmad Gazali yang saat ini menempuh kuliah di Jepang mengharapkan perlunya pesantren meningkatkan pendidikan sains dan teknologi dan Pendidikan karakter, terutama terkait kedisiplinan soal waktu. 

Jumlah ilmuwan di bidang agam dan sosial sangat tinggi, tapi ilmuwan di sains dan teknologi yang jebolan pesantren masih kecil. Kendati begitu, ISNU harus punya database sebagai referensi untuk memberikan karpet merah kepada diaspora yang ahli di bidang sains dan teknologi ini. Kendati jumlahnya masih sangat kecil.

“20 tahun ke depan, membutuhkan banyak sarjana sains dan teknologi. Karena itu, kita perlu menyatikan sarjana sains dan teknologi kita untuk mendongkrak kemajuan bangsa kita,” harapnya.

Sedangkan Lien Iffah Naf’atu Fina yang sedang menempuh Pendidikan S3 di Amerika menyoroti pergeseran pemahaman warga Amerika terhadap Islam. Dulu menganggap Islam dulu adalah teroris dan radikal. Tapi sekarang mereka menganggap tudingan Islam radikal dan teroris itu hanya propaganda media barat. Kini Islam dan genosida Israel atas warga Gaza Palestina telah memberikan basis moral yang kuat, sehingga Islam sedang naik daun di Amerika.

“Banyak yang melek dan melihat Islam sebagai kekuatan moral untuk melawan ketidakadilan di dunia ini,” tandasnya.

Meski begitu, Lien juga menyoroti masih adanya dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama dalam praktik kehidupan, padahal kedua ilmu itu miliknya Allah SWT semua.  “Kita perlu mendobrak dikotomi ilmu umum dan ilmu agama. Padahal semua ilmu Adalah ilmune Gusti Allah,” katanya.

Namun ada yang yang membuat Lien prihatin, adanya kejumudan atau kemandekan dalam perkembangan pemikiran Islam di tanah air. Bahkan perkembangan pemikiran Islam telah mentok di era 90-an, yang dulu akrab dengan pemikiran Fazlur Rahman, Amina Wadud Muhsin, dan lainnya.

Sedangkan Muchammad Tholchah dari Finlandia menilai sistem pendidikan di Finlandia selama ini dinarasikan terlalu positif di Indonesia. Hanya karena indeks survei PISA nomor 1. Padahal PISA tak bisa dijadikan satu-satunya parameter. Dan tak semua sistem pendidikan di Finlandia cocok diterapkan di Indonesia. Apalagi basis budaya yang sangat berbeda antara Indonesia dan Finlandia.

“Sistem pendidikan Finlandia selalu dinarasikan, dengan pola yang mirip. Yakni, selalu praktik, guru S2 semua, belajar singkat maka siswa pintar, fokusnya di praktik dan praktik. Padahal kita tak selesai di praktik saja. Bahkan saat sistem itu dibawa ke Indonesia, tidak bisa menghasilkan output yang sama,” katanya.

Perlu diketahui, ada hal yang lebih fundamental di Finlandia. Kebanyakan penduduknya ateis, tingkat bunuh diri remaja sangat tinggi, pajak sangat tinggi, bahasa lokal dijadikan syarat untuk melamar kerja.

Selain itu, secara geografis di bumi bagian utara ini, waktu salat dan puasa berubah sangat drastic setiap hari. Asar jam 6, magrib 12,30, jam 2 pagi sudah subuh. Bahkan dua minggu tidak ketemu malam.

Di Finlandia, pengambilan keputusan jadi otoritas anak. Maka orang tua tak boleh memaksa anaknya, termasuk dalam menganut agama tertentu. Sedangkan di Indonesia, anak-anak menjadi sub ordinat orang tuanya.

Bahkan di Finlandia ada fenomena pelemahan identitas. Anak usia 16 tahun usia SMA, sudah tidak mendapatkan pelajaran agama. Anak-anak diaggap sudah bisa menentukan agamanya sendiri. “Bahkan pengadilan di Finlandia bisa memenangkan gugatan anak, karena tak mau disuruh salat oleh orang tuanya. Ini menjadi tantangan yang luar biasa bagi kalangan muslim,” katanya.

Bahkan termasuk konsep Merdeka Belajar di Indonesia gagal total, jika meniru Finlandia. “Kita belum siap, karena beda budaya,” tandasnya

Kendati begitu, Tholchah yang backgroundnya memang Islam Studies atau Pendidikan Agama Islam (PAI) juga menyoroti adanya over supply sarjana PAI. Bahkan, banyak yang tak terserap secara linier. “Akhirnya sarjana PAI bisa di segala bidang. Tapi kalau disuruh baca kitab kuning, nanti dulu,” katanya.

Pihaknya berharap beasiswa santri di Kemenag RI perlu diperluas dengan kerjasama Kemenlu. Dengan demikian, sarjana PAI bisa menjadi diplomat terutama di benua Eropa, Rusia, sekaligus menjadi guru ngaji. “Lebih efektif, moderasi beragama diterapkan di luar negeri,” tandasnya.

Sedangkan Agus Hidayatullah yang sedang kuliah bersama 17 ribu mahasiswa di Mesir mengajak para anggota ISNU untuk lebih positif memaknai dinamika di Indonesia seberat apapun kondisinya. Terpenting adalah tetap meningkatkan dan memberdayakan sumber daya manusia (SDM) atau generasi mudanya.

“Memang banyak kekurangan, tapi banyak juga kelebihan dan kebijaksanaan. ISNU bisa menjadi corong dan menyampaikan counter atas berbagai persoalan yang mengemuka dengan penuh optimisme,” harapnya.

Sementara itu, dalam pembukaan acara, Ketua ISNU Jateng Fakhrudin Azis mengharapkan santri sarjana NU tak boleh absen dalam pembangunan demi kemajuan Indonesia. Meski ada kompleksitas persoalan, maka harus dilihat sebagai tantangan.

“Kompleksitas bukan musibah, tapi tantangan. Bagaimana kompleksitas ini menggugah semangat kita untuk berkontribusi secara riil dalam Pembangunan,” harapnya.

Kendati begitu, yang menjadi problem serius adalah minimnya literasi, angka kemiskinan masih cukup tinggi 8,74 persen. Ini sangat kontras dengan kondisi alam yang kaya dengan sumber daya alam (SDA). Harusnya SDA bisa berdampak positif terhadap kesejahteraan rakyat. "Karena itulah, pendidikan menjadi aset, modal untuk menciptakan pembangunan,” katanya.

Karena itulah, pihaknya berharap melalui acara sambungrasa akan terbangun sinergi antara diaspora dari berbagai belahan dunia. Bagaimana merumuskan pemikiran untuk membenahi kompleksitas persoalan bangsa ini.

“Kami berharap, ke depan akan ada relasi sinergis antara para santri sarjana. Termasuk membuka jejaring untuk beasiswa bagi para santri dan para sarjana. Lalu membuat maping, agar pengabdian sarjana lebih terukur,” harapnya.

Sedangkan program jangka pendek, imbuhnya, ISNU Jateng akan melakukan ISNU Goes to Campus, scholarship dan entrepreneurship. “Kami ingin para sarjana punya informasi yang memadai tentang beasiswa sekolah lanjutan. Terkait agenda entrepreneurship, agar para sarjana dapat stimulus finansial,” katanya.

Prof Musahadi yang mewakili PWNU Jateng mengharapkan para santri sarjana NU ini bisa melakukan counter discourse dengan narasi yang baik. Terkait persoalan yang ada, perlu disikapi juga dengan membangun networking dan sinergi.

Tunjukkan dedikasi dan kontribusi diaspora sarjana NU untuk Indonesia maju di masa mendatang. “Perlu diketahui, dunia pesantren sedang panen doktor dan professor,” ingatnya.

Wardi Taufik yang mewakili PP ISNU mengharapkan para santri dan sarjana ISNU untuk mengambil peran memperkokoh jejaring agar bisa menghadirkan bentuk yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.

“Gus Dur telah meretas jejaring yang diperkuat oleh KH Hasyim Muzadi. Mari kita kuatkan dengan jejaring yang lebih sistematis. NU belum punya database yang terpusat untuk membangun kekuatan secara sistematis. Kita kuatkan di aksi, sehingga melahirkan narasi yang tepat dan menginspirasi banyak orang,” katanya.

Terkait diaspora, menurutnya itu Adalah para sarjana NU lahir dari rahim pesantren dan menyeberang laut berdiaspora. “Mereka bukan hanya perantau, tapi duta ilmu. Nanti saat pulang ke tanah air, bisa membawa dampak untuk membangun bangsa, berdampak kepada msyarakat. (ida)

Editor : Ida Nor Layla
#ISNU Jateng #sarjana NU #diaspora santri sarjana NU