RADARSEMARANG.ID — Menjadi santri adalah sa’yun syāmil, perjuangan yang utuh yang menggabungkan sekurang-kurangnya tiga elemen utama, yaitu thalabul ‘ilmi, tazkiyatun nafs, dan jihād fi sabīlillāh.
Orang menjadi santri itu kalau dia mau menggerakkan dirinya untuk thalabul ‘ilmi, mencari ilmu—dulu disebut menuntut ilmu, tapi kita khawatir nanti dianggap ilmu ini punya salah sehingga dituntut-tuntut, maka kita maknai dengan mencari ilmu, tazkiyatun nafs, membersihkan jiwa.
Karena lebih dari sekadar mereka yang belajar di dalam lingkungan lembaga-lembaga sekuler atau di dalam lingkungan lembaga-lembaga pendidikan yang dikatakan formal atau lebih modern, santri itu belajar tidak hanya dengan mengisi akalnya saja, tapi juga diiringi dengan riyadlah untuk membersihkan jiwanya.
Jadi kalau cuma belajar dengan menyerap ilmu pengetahuan saja, itu belum santri.
Santri adalah orang yang belajarnya dibarengi dengan tirakat.
Ini karena dedikasi total kepada ilmu sehingga ilmu itu betul-betul diperjuangkan secara lahir dan batin.
Dan elemen utama yang ketiga, jelas adalah jihad fī sabīlillāh, karena seluruh keberadaan kita semua sebagai makhluk ini adalah untuk menghamba kepada Allah subhānahu wa ta’ālā, dan puncak dari penghambaan itu adalah jihad fī sabīlillāh.
Pada tahun ini Kemenag mengambil tema atau tagline Hari Santri Nasional 2025: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.
Baca Juga: Tabel Baru Gaji Pensiunan Cair Oktober 2025 Sesuai Golongan dan Masa Kerja ASN
Kenapa temanya itu? Karena Hari Santri itu sendiri ditetapkan dengan merujuk kepada Resolusi Jihad yang diumumkan oleh Nahdlatul Ulama pada tanggal 22 Oktober 1945.
Resolusi jihad adalah seruan Perang Sabil untuk menolak upaya penjajah untuk kembali menjajah Tanah Air ini, untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Maka semangat dasar dari Hari Santri adalah semangat untuk mempertahankan, menjaga, membela, dan terus memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia, cita-cita Negara Proklamasi.
Presiden Prabowo Subianto pada suatu kesempatan mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia itu diproklamasikan di Jakarta dan ujian pertama terjadi di Surabaya, yaitu dengan Perang Surabaya menghadapi Sekutu yang membawa NICA datang untuk menjajah kembali di Indonesia ini.
Baca Juga: Dekati Warga, Menkeu Purbaya Luncurkan No WA Lapor Pak Purbaya
Dan bisa dikatakan yang mengerjakan ujiannya itu adalah santri.
Hari Santri 2025 Jadi Libur Nasional atau Tanggal Merah?
Sebagaimana diatur dalam Keppres Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri, hari peringatan untuk mengenang jasa ulama dan santri ini bukanlah hari libur nasional.
“Hari Santri bukan merupakan hari libur,” demikian tertulis dalam diktum kedua Keppres 22/2015 itu.
Oleh karenanya, berdasarkan Keppres 22/2015, Hari Santri tidak termasuk dalam tanggal merah di kalender.
Dalam Surat Keputusan Bersama atau SKB 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025, juga tidak ada peringatan Hari Santri sebagai salah satu libur/cuti bersama.
Pada tanggal tersebut, sekolah ataupun kantor pemerintahan tetap beraktivitas sebagaimana biasanya.
Juga sektor swasta juga dapat bekerja sebagaimana biasanya.
Akan tetapi, peringatan Hari Santri akan dilakukan, khususnya oleh instansi di bawah Kementerian Agama (Kemenag) RI. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi