Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Fenomena Aphelion 2025 Terjadi Lagi, Suhu Lebih Dingin Berikut Penjelasannya

Falakhudin • Selasa, 8 Juli 2025 | 12:02 WIB
Fenomena Aphelion 2025 Terjadi Lagi, Suhu Lebih Dingin Berikut Penjelasannya
Fenomena Aphelion 2025 Terjadi Lagi, Suhu Lebih Dingin Berikut Penjelasannya

RADARSEMARANG.ID — Masyarakat Indonesia akan mengalami sebuah fenomena astronomi menarik yang disebut Aphelion.

Ini adalah momen ketika Bumi berada di titik terjauh dalam orbitnya terhadap Matahari, sekitar 152,1 juta kilometer.

 

Fenomena ini terjadi karena orbit Bumi mengelilingi Matahari berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna.

Akibatnya, terdapat dua titik ekstrem dalam lintasan tersebut:

Aphelion (jarak terjauh) dan Perihelion (jarak terdekat), yang biasanya terjadi pada awal Januari.

Salah satu mitos yang sering beredar adalah bahwa jarak Bumi dari Matahari menjadi penyebab pergantian musim.

 

Faktanya, kemiringan sumbu rotasi Bumi lah yang menentukan musim di berbagai belahan dunia, bukan jaraknya dari Matahari.

Oleh karena itu, meski saat Aphelion posisi Bumi lebih jauh, beberapa wilayah justru sedang mengalami musim panas—terutama di belahan Bumi utara.

Secara umum, fenomena Aphelion tidak memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari.

Perubahan suhu global akibat perbedaan jarak ini sangat kecil dan tidak terasa secara langsung.

Namun bagi para pengamat langit dan pencinta astronomi, Aphelion adalah momen menarik yang menandai dinamika luar angkasa yang luar biasa.

 

Meskipun tidak menghasilkan fenomena visual dramatis seperti gerhana, Aphelion bisa menjadi pengingat akan keteraturan alam semesta.

Jika cuaca cerah, langit dini hari pada 8 Juli bisa menjadi waktu yang tepat untuk menikmati suasana langit dan merenungkan betapa kecilnya kita dalam sistem tata surya yang luas ini. 

Fenomena astronomi tahunan ini kerap menjadi perbincangan karena dianggap memengaruhi suhu udara di Bumi.

Namun, benarkah aphelion menyebabkan Bumi terasa lebih dingin?

Dalam fenomena Aphelion 2025 ini, jarak antara Bumi dan Matahari mencapai sekitar 152 juta kilometer, lebih jauh dibandingkan jarak terdekatnya saat perihelion pada Januari yang hanya sekitar 147 juta kilometer.

 

Meskipun demikian, para ahli menegaskan tidak ada dampak berbahaya bagi kehidupan manusia akibat peristiwa ini.

Aphelion merupakan momen ketika Bumi berada di titik paling jauh dari Matahari dalam lintasan orbitnya yang berbentuk elips.

Saat berada di titik ini, kecepatan revolusi Bumi melambat, namun tidak memengaruhi suhu secara drastis.

 

Menurut penjelasan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), aphelion tidak menyebabkan perubahan suhu ekstrem atau gangguan cuaca signifikan di permukaan Bumi.

“Faktor utama yang memengaruhi suhu dan musim di Bumi adalah kemiringan sumbu rotasi, bukan jarak Bumi terhadap Matahari,” jelas BRIN dalam keterangannya.

Oleh karena itu, meskipun Bumi saat ini lebih jauh dari Matahari, belahan Bumi utara tetap mengalami musim panas, sesuai dengan posisi kemiringan Bumi terhadap Matahari.

 

 

Fenomena aphelion tidak dapat diamati secara langsung karena tidak terjadi perubahan visual pada cahaya Matahari.

Bumi tetap menerima intensitas sinar Matahari seperti biasa.

Selain itu, fenomena ini juga tidak berdampak pada panjang hari secara signifikan, karena selisih waktu yang terjadi sangat kecil.

Aphelion menjadi pengingat bahwa orbit Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, tetapi elips, dan menjadi salah satu bukti dari hukum Kepler tentang gerak planet dalam tata surya.

 

Seiring dengan berlangsungnya aphelion, sebagian wilayah Indonesia mengalami cuaca ekstrem pada Juli 2025, seperti hujan lebat dan gangguan musim kemarau. Namun, fenomena ini tidak berkaitan dengan aphelion.

Para peneliti menyebutkan bahwa cuaca tidak menentu ini dipicu oleh melemahnya Monsun Australia, yang seharusnya membawa udara kering ke wilayah Indonesia.

Fenomena Aphelion 2025 Terjadi Lagi, Suhu Lebih Dingin Berikut Penjelasannya
Fenomena Aphelion 2025 Terjadi Lagi, Suhu Lebih Dingin Berikut Penjelasannya

 

Selain itu, faktor atmosfer skala besar seperti gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby turut menyebabkan ketidakstabilan cuaca.

 

Akibatnya, fase peralihan musim kemarau menjadi tidak normal, yang memicu hujan deras di sejumlah wilayah.

Hal ini merupakan bagian dari siklus tahunan orbit Bumi, dan telah terjadi sejak miliaran tahun silam. (fal)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#monsun australia #Musim Kemarau Belitung #pergantian musim #Gelombang Rossby Ekuator #aphelion menyebabkan Bumi terasa lebih dingin #Aphelion adalah #BPJS KETENAGAKERJAAN #Musim kemarau darurat kebakaran #gelombang rossby #jarak bumi dan matahari #cek BSU #Honorer R1 R2 R3 R4 #fenomena aphelion 2025 #Aphelion 2025 #Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) #badan riset dan inovasi nasional #Radar Semarang #Aphelion Dan Cuaca Indonesia #Fenomena astronomi tahunan #salatiga #perihelion #Perbedaan R2 R3 R4 #BSU Tahap 2 Cair #MUSIM KEMARAU #aphelion #msbreewc #gelombang Madden Julian Oscillation #Ciri Ciri Aphelion #Dampak Aphelion #musim kemarau basah #bsu kemnaker go id cek bantuan #cek pencairan bsu lewat hp #fenomena aphelion #Musim Kemarau Berkepanjangan #Musim Kemarau 2025 #tenaga honorer menjadi outsourcing