RADARSEMARANG.ID, Semarang - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam akun Tiktok-nya pada 6 Mei 2025 mengunggah video candaan untuk menjemput anak-anak yang melawan orangtua, tidak patuh, suka jajan, susah tidur dan bangun, tidak mau mandi, tidak mau makan, dan malas ke sekolah.
Dalam sekejap, video itu banyak digunakan orangtua untuk menakuti-nakuti anak-anak mereka.
Meski di video tidak jelas anak-anak itu akan di jemput kemana, namun masyarakat menyimpulkan anak-anak akan dibawa ke barak militer, sama seperti program Dedi lainnya yang membawa anak-anak bermasalah atau nakal untuk didisiplinkan disana.
Reaksi anak-anak balita yang muncul setelah dipertontonkan video tersebut umumnya seragam: diam, menangis, berteriak-teriak ketakutan, berusaha bersembunyi, menyerahkan hp yang sedang mereka tonton, hingga berjanji untuk segera melakukan tugas-tugas yang diperintahkan orangtuanya.
Bagi orang dewasa, reaksi anak-anak yang muncul di Tiktok dan diberi judul “Kang Dedi Phobia” itu terlihat lucu dan menggemaskan.
Di sela-sela ketakutan dan penyesalan anak, sering muncul ketawa cekikikan orang dewasa yang merasa berhasil memaksa anak mau melakukan hal yang diperintah orangtua.
Namun bagi anak-anak, ketakutan itu nyata.
Program pembinaan siswa nakal di barak militer yang digagas oleh Dedi Mulyadi, selaku Guberner Jawa Barat telah tersebar luas didalam maupun diluar wilayah Jabar.
Terlaksanakanya program pembinaan tersebut sangat membantu para orang tua di Jabar yang mengalami kesulitan untuk mengatasi anak-anak mereka yang sulit diatur.
Meskipun tidak sedikit juga wali murid serta pihak-pihak yang menunjukkan ketidak setujuan atas program ini.
Adapun kriteria siswa nakal yang akan mengikuti pembinaan di barak militer adalah mereka yang sering kali bermain game, bermain hp, bermalas-malasan, sering membolos sekolah, sering berkelai, terlibat dalam aksi tawuran, sering merokok, hingga minum-minuman keras.
Di zaman sekarang, tidak hanya remaja dan orang dewasa saja yang kecanduan dengan benda persegi panjang yang memungkinkan siapapun untuk mengakses berbagai hal melalui internet itu, melainkan juga anak-anak kecil yang masih belum masuk sekolah hingga di tingkkat SD.
Hal tersebut kini menjadi trend bahkan dikenal luas dengan istilah ‘Kang Dedi Phobia Core’.
Dalam beberapa video yang diunggah oleh warganet, anak-anak kecil yang tadinya sibuk bermain ponsel tiba-tiba saja menyerahkan hp tersebut kepada orang tua mereka setelah mendengar suara Kang Dedi Mulyadi KDM dalam video.
Kebanyakan video yang dibagikan warganet di media sosial menunjukkan anak-anak kecil yang menangis sembari meminta agar orang tua mereka berhenti menghubungi pak gubernur Jawa Barat itu.
Sebagian orangtua di Indonesia masih menggunakan metode menakut-nakuti sebagai cara mendisplinkan atau mengatur anak.
Jika sekarang sosok yang digunakan untuk menakuti-nakuti adalah Gubernur Jabar yang akrab dipanggi Kang Dedi atau Pak Dedi, di masa lalu polisi dan dokter yang jadi sasaran.
Jika anak nakal, tidak mau menurut orangtua, maka ancamannya akan dilaporkan ke polisi.
Bila anak tidak mau minum obat saat sakit, maka ancamannya akan disuntik oleh dokter.
Pada sebagaian anak, ancaman itu membuat mereka benar-benar mengembangkan phobia atau ketakutan saat dewasa, saat bertemu polisi atau harus disuntik tenaga kesehatan.
Phobia itu terbentuk jika paparan atau pengalaman terhadap hal-hal yang menakutkan itu terjadi berulang kali tanpa diimbangi penjelasan atau pendampingan emosional orangtua sehingga anak menyimpan ketakutan itu dalam jangka panjang.
Tak hanya pendampingan orangtua, respons orangtua atas ketakutan anak juga penting.
Jika orangtua tidak mampu menetralkan ketakutan anak, tidak menjelaskan bahwa itu hanya gurauan, maka ketakutan anak akan tertanam lebih dalam.
Selain itu, anak dengan kearakter lebih sensitif secara emosional akan lebih mudah terancam hingga lebih mudah mengembangkan pobhia saat dewasa.
Meski menakut-nakuti cepat dan efektif membuat anak mematuhi perintah orangtua, namun metode ini memiliki dampak panjang yang kompleks.
Saat anak sudah mengenal sekolah, pergaulannya meluas, maka anak akan menyadari bahwa selama ini mereka dibohongi orangtua.
Sebagian anak bisa memaafkan orangtua mereka, namun ada juga yang mempelajari cara itu untuk menakut-nakuti anak lain.
Perasaan dibohongi orangtua itu bisa membuat anak mengembangkan kepribadian yang insecure alias tidak aman.
Akibatnya saat dewasa, mereka tumbuh menjadi orang yang sulit membangun hubungan sehat dengan orang lain.
Mereka sulit percaya orang lain, termasuk dengan otoritas, pasangan, bahkan sulit percaya dengan diri sendiri.
Persoalan ini bisa merembet ke mana-mana karena dari trauma ditakut-takuti saat kanak-kanak juga bisa menciptakan sosok dewasa yang suka memberontak.
MNemiliki pola pikir ekstrem baik ekstrem kiri maupun kanan, dan sulit bekerja pada orang atau lembaga lain.
Mereka juga sulit berkembang, kurang berani mengambil tantangan, hingga menjadi pribadi yang sulit berinovasi. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi