RADARSEMARANG.ID, Semarang — Langkah yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan mengirim siswa nakal ke barak militer menuai pro kontra.
Menyikapi hal tersebut, Dedi Mulyadi kembali menjelaskan soal program yang digulirkannya di Jawa Barat dan mulai diterapkan di Purwakarta.
Dedi Mulyadi menyampaikan saat ini terdapat pro kontra terkait gagasannya, mulai dari larangan study tour, larangan wisuda, perpisahan dengan biaya tinggi dan mengganti dengan perayaan sederhana tetapi berkesan, sampai kebijakan mengirim siswa yang terlibat kenakalan untuk dibina di barak tentara.
Dedi Mulyadi mengungkap alasan di balik program yang tengah bergulir terkait kenakalan remaja yang saat ini dianggap sudah mengkhawatirkan.
Bahkan sejak dulu Dedi Mulyadi yang merupakan anggota DPR RI itu sering menangani korban yang mengalami luka hingga harus dirawat di rumah sakit dengan biaya puluhan juta.
Saya nih sudah berapa puluh menangani orang tawuran harus membiayai ke rumah sakit biayanya puluhan juta udah banyak banget, untuk itu saya mengambil tindakan-tindakan yang memang semestinya dilakukan,” ujar Dedi Mulyadi dalam keterangannya dilansir dari Instagram @dedimulyadi71.
Terlebih kata Dedi dalam kasus yang dihadapinya beberapa waktu lalu orang tunya sudah tidak sanggup lagi dan ditangani oleh kepolisian tetapi karena masih remaja banyak yang dikembalikan kepada orang tuanya.
“Tetapi orang tuanya gak sanggup dan karena gak sanggup ya kita tangani, karena negara harus bisa menangani pada akhirnya kami menyepakati untuk keinginan dibangun pola pendidikan kedisiplinan meninggalkan berbagai perilaku buruk di komplek tentara,” ungkap Dedi Mulyadi soal alasan keputusan mengirim siswa nakal ke barak militer.
Gubernur Jawa Barat menjelaskan di markas TNI anak-anak diajarkan kedisiplinan dan pola hidup yang lebih teratur.
“Diajarin apa sih? Diajarin tidur jam 8 malem, diajarin bangun jam 4 agar tidurnya 8 jam, mandi, kemudian solat subuh, kamarnya harus rapi kaya tentara, setelah itu nyapu di halaman, sarapan, olahraga, setelah itu masuk ke ruang pembelajaran normal belajar seperti siswa yang lain,” jelas Gubernur Jabar.
Siswa yang menjalani pendidikan di markas TNI kata Dedi Mulyadi tetap mengikuti pembelajaran seperti biasa hanya saja tempatnya tidak di kelas atau sekolah seperti biasanya.
Selain itu mereka juga belajar keterampilan, sepakbola, voli, dan berbagai kegiatan olahraga lainnya termasuk memahami pertanian, kelautan, kewirausahan.
“Ini arah kebijakannya jadi gak ada latihan perang, kemudian setelah itu akan terbentuk karakter disiplin dan rasa cinta pada orang tua, pada sesama, pada negara,” ujar Gubernur Jawa Barat.
Dedi Mulyadi menyadari langkah yang diambilnya dalam mengatasi persoalan kenakalan remaja akan ada pro dan kontra.
Namun, Dedi menilai hal itu sebagai bagian dari rasa sayang.
“Yang mendukung menyayangi saya, yang mengkritik saya juga menyayangi saya karena sahabat yang baik adalah yang selalu mengingatkan,” kata Dedi Mulyadi.
Gubernur Jabar juga mengajak masyarakat untuk turut serta berperan dalam menangani kenakalan remaja terutama di lingkungannya.
Dedi mengajak masyarakat jika ingin membantu Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menyelesaikan seluruh problem tersebut.
“Andaikata di antara bapak dan ibu ada yang punya kemampuan memahami pendidikan anak, menyelesaikan problem remaja yang nakal dengan tangan terbuka kami menunggu ulurannya untuk mengambil anak-anak Jawa Barat yang bermasalah ini, bapak dan ibu mendidiknya di lingkungan rumahnya maupun lingkungan pendidikannya,” tegasnya. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi