Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

13 Tradisi Menyambut Ramadan 2025 di Indonesia, Mulai Dugderan, Padusan, Dhandangan, Baratan hingga Mattunu Solong, Tempatmu yang Mana?

Falakhudin • Minggu, 16 Februari 2025 | 12:16 WIB
WARGA Kalirejo Ungaran Timur sedang Melaksanakan Nyadran untuk menyambut Bulan Ramadan 2025 di Makam Bukit Senali pinggir Tol Semarang -Solo.
WARGA Kalirejo Ungaran Timur sedang Melaksanakan Nyadran untuk menyambut Bulan Ramadan 2025 di Makam Bukit Senali pinggir Tol Semarang -Solo.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Ada sejumlah tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia, dalam menyambut Ramadan.

Tradisi menyambut Ramadan di Indonesia telah dilakukan secara turun temurun hingga sekarang.

Tradisi tersebut biasanya berlangsung meriah dan selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat. 

Baca Juga: Sambut Ramadan 2025 Warga Kalirejo Ungaran Timur Antusias Gelar Nyadran 3 Kali, Ini Sejarah, Prosesi, Makna, Tujuan Nyadran

 

Berikut ini adalah sejumlah tradisi menyambut Ramadan di Indonesia.

 1. Dugderan Semarang

Dugderan adalah tradisi perayaan menyambut bulan Ramadan oleh umat Islam di Semarang, Jawa Tengah.

Tradisi Dugderan diselenggarakan setiap tahun.

 

Pada awalnya, tradisi dugderan dilakukan oleh pemerintah untuk menyamakan penentuan awal puasa dan hari raya.

Tradisi dugderan juga sebagai ungkapan rasa rindu masyarakat terhadap bulan Ramadan.

Pelaksanaan tradisi dugderan dilakukan sejak pagi hingga menjelang senja, yaitu sekitar pukul 08.00 WIB hingga Maghrib.

Tradisi diawali dengan pasar kaget dilanjutkan dengan karnaval, seperti warak ngendog yang diikuti arak-arakan mobil.

Warak ngendog adalah binatang rekaan bertubuh kambing, berkepala naga, dan sisiknya terbuat dari kertas warna-warni.

 

Binatang rekaan tersebut dilengkapi dengan telur rebus yang disebut endog.

Acara dilanjutkan dengan halaqah mengenai pengumuman awal mulai puasa yang dengan ditandai oleh pemukulan bedug.

Kemudian tradisi diakhiri dengan pembacaan doa bersama-sama. 

Dugderan telah dilakukan sejak tahun 1881 M.

 

Menurut cerita, pada zaman dahulu umat Islam memiliki perbedaan penentuan terkait permulaan puasa.

2. Nyadran Jawa Tengah 

Tradisi nyadran biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta menjelang Ramadan, tepatnya bulan Syaban.

Budaya yang telah dilakukan ratusan tahun ini, antara lain berupa membersihkan makam leluhur maupun orang tua, membuat dan membagikan makanan tradisional, dan berdoa serta selamatan di sekitar area makam.

Dalam kalender Jawa, bulan ramadan disebut juga sebagai bulan Ruwah.

Sehingga, tradisi nyadran juga dikenal sebagai acara Ruwah.

Tradisi nyadran merupakan hal yang penting untuk masyarakat jawa. 

Baca Juga: Keutamaan Sahur Untuk Meningkatkan Keberkahan Puasa dan Dampak Puasa Tanpa Sahur

 

Para pewaris tradisi nyadaran akan menjadikan tradisi sebagai momentum untuk menghormati leluhur dan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Nyadran biasanya dilakukan sekitar satu bulan sebelum puasa atau pada tanggal 15,20, dan 23 Ruwah.

3. Padusan Jawa Tengah 

Padusan adalah tradisi menyambut ramadan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini dilakukan dengan cara berendam atau mandi di sumur-sumur maupun sumber mata air.

 

Makna padusan adalah menyucikan diri serta membersihkan jiwa dan raga dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.

Dalam makna yang lebih dalam, padusan juga sebagai media untuk merenung dan instropeksi dari berbagai kesalahan yang telah diperbuat pada masa lalu.

4. Dhandhangan Kudus 

Dhandhangan adalah festival sebagai tanda dimulainya ibadah puasa pada bulan Ramadan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Kata dhandhangan adalah onomatope atau tiruan bunyi dari suara bedug khas Masjid Manara Kudus.

Resonansi bedug tersebut menimbulkan bunyi nyaring, Dang!.

 

Bunyi bedug menjadi awal datangnya bulan puasa yang kemudian disebut Dhandhangan.

Pada awalnya, dhandhangan merupakan tempat berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus setiap menjelang ramadan. 

Mereka menunggu pengumuman dari Sunan Kudus mengenai penentuan awal puasa.

Rangkaian tradisi dhandhangan yang biasa dilakukan, adalah pasar malam yang digelar sepuluh hari menjelang ramadan, kirab, dan puncaknya adalah memukul bedug Masjid Menara Kudus sebagai tanda awal bulan puasa.

 

5. Arwah Jamak Demak 

Arwah jamak adalah tradisi pembacaan doa untuk orag tua, sanak saudara, dan leluhur yang telah meninggal dunia. 

Doa tersebut dibacakan menjelang datangnya bulan Ramadan maupun sepuluh hari terakhir pada malam ganjil di bulan puasa ramadan.

6. Baratan Jepara 

Baratan adalah tradisi masyarakat Jepara yang berupa arak-arakan lampion setiap 15 Syaban atau 15 hari sebelum puasa Ramadan. 

Tradisi baratan berkaitan dengan peristiwa pembunuhan Sultan Hadirin, suami Ratu Kalinyamat, yang dilakukan oleh Aryo Panangsang.

Konon pada saat menyambut iring-iring rombongan yang membawa jenazah Sultan Hadirin.

 

Masyarakat membawa impes atau lampion sepanjang perjalanan sebagai penghormatan.

Peristiwa tersebut bertepatan dengan Nisfu Syaban. 

Adapun kata ‘baratan’ berasal dari sebuah kata bahasa Arab, yaitu “bara’ah” yang berarti keselamatan atau “berkah” yang berarti keberkahan.

Tradisi baratan dilakukan setiap tanggal 15 ruwah (kalender Jawa) yang bertepatan dengan malam Nisfu Syaban.

 

Sebelum pawai, masyarakat akan membaca surat yasin sebanyak tiga kali dan membaca doa Nisfu Syaban yang dipimpin oleh ulama atau kyai di masjid atau mushola. 

Kemudian, acara dilanjutkan dengan makan (bancaan) puli (makanan yang terbuat dari beras) bersama-sama dan melepas arak-arakan. 

7. Nyorog Jakarta

Masyarakat asli Jakarta atau suku Betawi memiliki banyak tradisi yang masih dilestarikan sampai sekarang.

Salah satunya adalah tradisi Nyorog atau kegiatan memberikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua.

Baik itu orang tua atau mertua yang sudah berbeda rumah, maupun ke tokoh daerah setempat. 

Tradisi Nyorog tidak semerta-merta sebagai kegiatan berkirim makanan saja.

 

Justru, tradisi menyambut Ramadan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, sekaligus menjalin silaturahmi guna mempererat tali persaudaraan antar sesama. 

8.  Cucurak Jawa Barat

Selanjutnya ada tradisi Cucurak atau dalam bahasa Sunda diartikan sebagai bersenang-senang dan berkumpul bersama keluarga besar dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Selain berkumpul, tradisi Cucurak biasanya diisi dengan makan bersama beralas daun pisang sambil duduk lesehan.

 

Menu yang disajikan mulai dari nasi liwet, tempe, ikan asin, serta sambal dan lalapan.

Menurut kepercayaan masyarakat Sunda, tradisi Cucurak tidak hanya sebagai kegiatan kumpul-kumpul dan makan bersama saja.

Tapi menjadi momen silaturahmi dan ajakan untuk saling bersyukur atas segala rezeki yang diberikan oleh Tuhan.

 

9. Marpangir Sumatra Utara

Beberapa daerah di Sumatra Utara memiliki tradisi menyambut Ramadan yang dikenal dengan Marpangir.

Tradisi mandi secara tradisional menggunakan dedaunan atau rempah.

 

Seperti daun pandan, daun serai, bunga mawar, kenanga, jeruk purut, daun limau, akar wangi, dan bunga pinang sebagai wewangian.

Tradisi Marpangir dilakukan masyarakat Sumatra Utara sebagai bentuk membersihkan diri sebelum masuk bulan Ramadan.

10. Malamang Sumatra Barat

Tradisi menyambut Ramadan berikutnya rutin dilakukan masyarakat Sumatra Barat.

Masyarakat lokal akan melakukan Malamang sebagai tradisi menyambut Ramadan dengan penuh suka cita.

 

Tradisi Malamang dilakukan dengan membuat makanan tradisional lemang.

Di balik kesederhanaan makanan tersebut, tradisi Malamang dilakukan untuk memupuk rasa kebersamaan antar masyarakat Minangkabau.

11. Meugang Aceh

Tradisi menyambut Ramadan di Aceh juga sangat menarik, yakni tradisi Meugang atau Haghi Mamagang.

Sebuah tradisi menyambut Ramadan yang sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, atau sudah berlangsung sejak abad ke-14. 

Tradisi Meugang diisi dengan kegiatan memasak daging sapi, kambing, atau kerbau sehari sebelum bulan Ramadan.

 

Olahan daging tersebut disantap bersama dengan seluruh anggota keluarga, kerabat, atau yatim piatu.

Selain dilakukan saat menyambut Ramadan, tradisi Meugang juga dilaksanakan saat menyambut Idu adha dan Idul fitri. 

12. Mattunu Solong (Sulawesi Barat)

Selanjutnya ada tradisi Mattunu Solong, sebuah tradisi menyambut Ramadan yang dilakukan masyarakat Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

 

Tradisi menyambut Ramadan ini dilakukan dengan menyalakan pelita tradisional yang terbuat dari buah kemiri dan ditumpuk dengan kapuk, lalu dililitkan pada potongan bambu.

Pelita tersebut ditempel di pagar, halaman, anak tangga, pintu masuk, hingga dapur. 

Menurut kepercayaan, tradisi Mattunu Solong bertujuan mendapatkan keberkahan dari Sang Pencipta dalam menyambut bulan suci Ramadan.

 

Selain itu, tradisi ini juga dilakukan sebagai permohonan kepada Tuhan yang Maha Esa agar senantiasa memberikan kesehatan dan umur panjang, sehingga bisa menunaikan ibadah puasa dengan lancar. 

13. Megibung Bali

Umat Muslim yang berada di Kabupaten Karangasem, Bali juga memiliki tradisi menyambut Ramadan yang dinamakan dengan Megibung.

 

Tradisi Megibung dilakukan dengan kegiatan memasak dan makan bersama sambil duduk melingkar. 

Uniknya, tradisi Megibung memiliki tata penataan makanan yang unik.

Nasi akan diletakkan di wadah yang disebut dengan gibungan.

 

Sedangkan, lauknya disajikan di sebuah alas karangan.

Menurut kepercayaan, tradisi Megibung merupakan bentuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan. (fal)

Editor : Baskoro Septiadi
#Warak ngendog adalah #ratu kalinyamat pahlawan nasional #awal mulai puasa #Baratan Jepara #Dhandhangan Kudus #IDUL FITRI #Nyadran Jawa Tengah #tradisi cucurak #Bulan Syaban menurut Ulama #tradisi nyorog jelang ramadhan #masjid menara kudus #Dugderan Semarang #Arwah Jamak #Nyorog Jakarta #surat yasin sebanyak tiga kali #Sultan Hadirin #Bulan Ramadan 1446 H #Kerajaan Aceh Darussalam #nisfu syaban #tradisi Nyorog #Ratu Kalinyamat #sumber mata air #suku betawi #Bulan Syaban merupakan #Warak Ngendog #Aryo Panangsang #tradisi dugderan #Bulan Syaban menurut Ustaz Adi Hidayat #Padusan Jawa Tengah #masyarakat sunda #Mattunu Solong #Bulan Ruwah #tradisi nyadran #Padusan adalah #bulan Syaban 2025 #viral hari ini #sunan kudus #Arwah jamak adalah #tradisi nyorog dan merang #Dhandhangan adalah #Megibung Bali #dhandhangan merupakan #Pasar Malam #bulan Syaban menyiram #ratu kalinyamatan #Bulan Syaban menurur UAH #Tradisi menyambut Ramadan di Indonesia #Dugderan adalah #Tradisi Malamang #Marpangir Sumatra Utara #Tradisi Marpangir #tradisi Meugang atau Haghi Mamagang #Cucurak Jawa Barat #Meugang Aceh #Bulan Syaban adalah bulannya Nabi Muhammad Saw #penentuan awal puasa #ratu kalinyamat jepara #bulan ramadan 2024 #Malamang Sumatra Barat #doa nisfu syaban #Tradisi Megibung #Baratan adalah #sumber mata air alami #Makna padusan adalah #Bulan Ramadan #tradisi baratan #bulan Ramadan 2025 #bulan syaban