Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kasus Cherry Lai Brandoville Dapat Kecaman dari Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif, Begini Pengakuan Korban

Aris Hariyanto • Selasa, 17 September 2024 | 13:36 WIB
Kasus Cherry Lai Brandoville Dapat Kecaman dari SINDIKASI.
Kasus Cherry Lai Brandoville Dapat Kecaman dari SINDIKASI.

RADARSEMARANG.ID - Kasus Cherry Lai Brandoville atas dugaan kekerasan terhadap mantan karyawannya telah mendapat kecaman dari Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif.

Keterangan tersebut telah disampaikan melalui sebuah utas di media sosial X yang disampaikan oleh akun @SINDIKASI_ belum lama ini.

“SINDIKASI kecam dugaan kekerasan di lingkungan kerja Brandoville Studio,” bunyi awal utas di postingan tersebut.

Menurut keterangannya, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) telah berkomunikasi dengan korban.

Seperti dikabarkan sebelumnya, salah satu korban yang diketahui bernama Christa Sydney adalah mantan karyawan Brandoville Studios.

Berdasarkan keterangan yang diberikan, korban mengalami berbagai perlakuan yang tidak manusiawi dalam kasus kekerasan Brandoville.

Termasuk diantaranya mencakup masalah gaji serta tekanan untuk mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan oleh BV Academy.

Selain itu, proses pengajuan cuti keagamaan bagi korban juga mengalami kendala yang signifikan.

Bahkan, terdapat seorang karyawan yang sedang hamil diketahui mengalami pendarahan akibat tuntutan kerja yang berlebihan.

Keadaan korban semakin parah saat dalam kondisi sakit dipaksa bekerja, meski perintahnya berasal dari tim kerja, bukan dari atasan langsung.

Selain pemaksaan keyakinan agama, pekerja juga mengalami penyiksaan fisik hingga ancaman pembunuhan yang menghantui pekerja setiap harinya.

Masih menurut pengakuan korban, perundungan menjadi rutinitas di Brandoville Studios, sementara mereka dipaksa lembur tanpa bayaran.

Dalam tekanan, banyak pekerja terpaksa mengundurkan diri, tetapi selalu dihadapkan pada ancaman teror yang mengintimidasi.

Setelah mendengarkan cerita korban, SINDIKASI mengecam dan mengutuk keras dugaan kekerasan yang terjadi di Brandoville Studios.

Divisi Advokasi SINDIKASI, Mia Rosmati mengatakan "Kasus ini bukan hanya mencerminkan buruknya kondisi kerja di industri kreatif”.

“Tetapi juga menjadi gambaran lemahnya perlindungan terhadap pekerja di sektor media dan industri kreatif,” lanjutnya.

Selanjutnya, SINDIKASI meminta pihak berwenang segera menindak laporan kekerasan dan memastikan pelaku mendapat sanksi sesuai hukum.

Hal tersebut juga telah disampaikan oleh Koordinator Divisi Gender dan Inklusivitas, Selira Dian.

Menurut Selira Dian, segala bentuk kekerasan, baik itu fisik, verbal, maupun psikologis, tidak dapat ditoleransi di dunia kerja.

Oleh karena itu, SINDIKASI menuntut Brandoville Studios bertanggung jawab atas kondisi kerja yang aman dan sehat bagi karyawan.

SINDIKASI juga meminta investor Brandoville Studios berkomitmen menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan manusiawi.

Selira Dian menambahkan “Kami juga mendesak pemerintah segera meratifikasi Konvensi ILO 190 dan Rekomendasi 206 tentang kekerasan dan pelecehan di dunia kerja”.

“Hal ini agar kasus serupa tidak terulang dan korban mendapatkan keadilan,” tegas Dian.

Editor : Baskoro Septiadi
#BV Academy #Christa Sydney #kasus Cherry Lai Brandoville #pengakuan korban kekerasan Brandoville #kasus kekerasan Brandoville #Brandoville Studios #Sindikasi #mantan karyawan Brandoville #Cherry Lai #Kasus kekerasan Cherry Lai #industri kreatif #investor Brandoville Studios #Kekerasan dan Pelecehan #SINDIKASI kecam dugaan kekerasan di Brandoville #Serikat Pekerja Media