RADARSEMARANG.ID - 'Nenek moyangku seorang pelaut' merupakan sebuah potongan lagu dan frasa populer yang kerap dinyanyikan anak-anak di Indonesia.
Istilah ini bukanlah isapan jempol semata, dengan kondisi geografis kepulauan Nusantara yang membentang dari Peninsula Malaya hingga Pesisir Australia.
Menjadikan nenek moyang bangsa ini kuat dan tangguh menaklukkan ganasnya ombak di lautan. Nusantara terkenal dengan banyaknya pelaut-pelaut hebat sehingga menjadikan bangsa ini salah satu kekuatan maritim terkuat pada masa itu.
Dengan armada angkatan laut yang sangat besar, nenek moyang kita berhasil menjelajahi samudera luas hingga mencapai Afrika Selatan dan diperkirakan berhasil melakukan kontak dengan bangsa Indian-Amerika sebelum Christoper Columbus mengklaim menemukan daratan tersebut.
Sebagai bangsa yang kuat dalam dunia maritim, para pelaut Nusantara disegani dan ditakuti oleh banyak pihak karena kekuatan prajurit serta ukuran kapalnya yang fantastis.
Pada abad ke-8, permaritiman Nusantara pun mencapai puncak kejayaannya ketika orang-orang Jawa berhasil membuat kapal terbesar dalam sejarah dunia. Orang Jawa menyebutnya “jung”, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti perahu.
Alfonso Albuquerque seorang pengelana asal Portugis mencatat kalau jung itu memiliki empat tiang layar. Bobot muatannya sekitar 600 ton. Sedangkan yang terbesar tercatat dimiliki Kerajaan Demak dengan bobot mencapai 1.000 ton.
Dengan kapasitas lebih dari 10.000 kargo (sekitar 250-1000 ton). Yang terbesar lebih dari 50 meter panjangnya. Tingginya di atas air 4 hingga 7 meter.
Begitu besarnya kapal ini menciptakan kengerian bagi orang-orang asing yang pernah menjumpai secara langsung betapa megahnya Jung Java.
Kapal ini dijuluki oleh orang-orang Eropa sebagai ' Gargantua' sebuah makhluk mitologi berwujud raksasa pemakan manusia yang diserap dari budaya Afrika Utara.
Gaspar Correia, seorang penjelajah Portugis menceritakan tentang kapal raksasa dari Jawa yang tidak mempan ditembak meriam terbesar. Dari empat lapis papan kapal, hanya dua saja yang bisa ditembus.
Bahkan besar ukuran kapal Jung Java ini mengalahkan Flor De La Mar, sebuah kapal kebanggaan yang terbesar dan paling diagungkan di Portugis kala itu.
Baca Juga: Sejarah Gedung Kuning Ungaran, Bukti Kejayaan Hindia Belanda di Kota Serasi
Meskipun awalnya digunakan untuk keperluan militer, namun lambat laun Kerajaan Majapahit juga memfungsikan Jung Java sebagai kapal dagang.
Hal ini terbukti dari catatan milik Duarte Barosa, Jung Jawa dipergunakan untuk melakukan perdagangan dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah.
Barang komoditas dagangan yang dibawa serta adalah beras, daging sapi, kambing, babi, bawang, senjata tajam, emas, sutra, kamper, hingga kayu gaharu.
Sayangnya, keagungan Jung Java tidak bertahan selamanya. Kegagalan regenerasi Mataram dan berkuasanya Amangkurat I yang berhubungan dekat dengan VOC menjadi titik awal kehancuran Jung Java.
Amangkurat I menutup banyak pelabuhan-pelabuhan pesisir serta menghancurkan banyak jung-jung raksasa untuk menghindari pemberontakan yang tidak setuju dengan keputusannya.
Kini Jung Java hanya bisa dikenang sebagai warisan dan spirit kebudayaan di masa lampau tentang keagungan maritim Nusantara yang dulu pernah tidak tertandingi.
Source: Indonesian Government.id, National Geographic
Editor : Baskoro Septiadi