RADARSEMARANG.ID - Dunia konservasi alam liar di Indonesia baru saja mendapati fakta pahit tentang kelestarian salah satu binatang paling langka di dunia yang ada di Indonesia.
Sebanyak 26 ekor Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) dinyatakan hilang dari Taman Nasional Ujung Kulon, satu-satunya tempat konservasi untuk spesies badak ini.
Seluruh individu Badak Jawa yang dinyatakan hilang sudah dikonfirmasi oleh Polres Banten terkait perburuan liar dan penjualan cula badak.
Polisi telah memetakan dua sindikat pelaku pemburuan, dengan beberapa orang masih dalam status DPO ( Daftar Pencarian Orang ).
Namun otak dari perburuan Badak Jawa ini sudah tertangkap dan akan segera diproses secara hukum. Sunendi (32) merupakan pemuda yang menjadi dalang dari perburuan hewan langka tersebut.
Ia diringkus kepolisian saat melarikan diri ke Jakarta Barat bersama pacarnya. Sunendi pun dinyatakan bersalah dalam berbagai tuntutan, yakni perburuan liar, perusakan aset negara dan kepemilikan senjata lengkap.
Dalam persidangan, kemudian terungkap bahwa terdapat dua kelompok pemburu badak yang beraksi di Taman Nasional Ujung Kulon, yakni yang dikomandoi oleh Sunendi dan satunya diketuai oleh kakaknya, Sahru.
Kedua kelompok mengaku hanya membunuh sepuluh ekor Badak Jawa, dengan total 6 ekor dari kelompok Sunendi dan 4 ekor dari kelompok Sahru.
Ada sebuah kerancuan terkait jumlah badak yang hilang di Taman Nasional Ujung Kulon, pihak KLHK menyebut bahwa selama periode 2012-2022 ada 15 ekor badak yang menghilang.
Namun kepolisian berpendapat bahwa jumlah badak yang menghilang lebih daripada itu, Polda Banten menyebut ada 26 individu Badak Jawa yang hilang dan telah mati karena diburu.
Hal ini dikarenakan badak merupakan spesies yang suka menyendiri. Spesies ini hidup secara soliter dan cenderung menghindari manusia dengan penciuman mereka yang tajam.
Bahkan fotografer Alain Compost, harus memerlukan waktu bertahun-tahun hanya untuk melacak dan memotret Badak Jawa di rimbunnya TNUK Banten.
Baca Juga: Rampogan Macan, Tradisi Kejam yang Berhasil Membuat Harimau Punah dari Tanah Jawa
Kecurigaan baru muncul disini, karena sulitnya melacak keberadaan badak, dan hanya para petugas/ranger yang memiliki data valid terkait kantong-kantong populasi keberadaan badak.
Kemungkinan adanya oknum dari petugas TNUK terlihat dari Sunendri dan Sahru yang memiliki satu lembar rekapitulasi data tiap-tiap individu badak jawa hasil kamera jebak dalam periode 2010-2023.
Serta bukti rekaman dari kamera jebakan yang dipasang di TNUK Banten yang memperlihatkan Sunendri, Sahru dan timnya dalam melacak kubangan-kubangan badak yang hanya diketahui oleh para petugas.
Dugaan ini mengerucut pada salah satu ranger 'M' yang diduga terlibat dalam perburuan badak dalam skala besar ini, 'M' yang dulunya juga merupakan pemburu liar merupakan kerabat Sunendri dan Sahru dan menghilang tanpa jejak hingga kini.
Spesies ini sebelumnya hanya tersisa sekitar 76 ekor, dengan kasus terbaru ini makin mengantarkan spesies badak di Pulau Jawa ini menuju ke ambang kepunahan.
Padahal sebelumnya perkembangan populasi Badak Jawa disebut dalam kondisi stabil dengan beberapa kelahiran baru bayi badak dalam pantauan petugas.
Source: Mongabay.id, LinkedIn Indonesia
Editor : Baskoro Septiadi