RADARSEMARANG.ID - "Mempertahankan jauh lebih sulit daripada mendapatkan" itulah kiasan yang cocok untuk menggambarkan apa yang terjadi di negara ini paska proklamasi.
Negara yang baru saja diproklamirkan kemerdekaannya tersebut harus kembali mendapatkan ancaman dari negara penjajahnya, Belanda yang kini datang membawa sekutu.
Menghadapi pihak sekutu sebagai pemenang perang yang telah mengalahkan Jerman, Jepang dan Italia, tentunya para pejuang harus mengasah otak demi mempertahankan setiap jengkal tanah Ibu Pertiwi.
Para petinggi TNI yang tergabung dalam MBAP ( Markas Besar Angkatan Perang ) yang saat itu terlibat dalam Serangan Umum 1 Maret memberlakukan taktik asal Jerman untuk menandingi Belanda dan Sekutu.
Taktik tersebut bernama Wehrkreise, yang memiliki artian secara harafiah lingkaran pertahanan. Digunakan oleh tentara darat Jerman saat Republik Weimar berjuasa.
Prinsip dari strategi ini adalah menciptakan suatu sistem kerjasama antar kedua pasukan agar segala bentuk reinforcement dapat dilakukan dengan cepat.
Secara eksplisit melalui Perintah Siasat No. 1, Panglima Soedirman memerintahkan untuk membentuk wehrkreise-wehrkreise sebagai basis perlawanan gerilya.
Para pasukan yang telah meninggalkan kedudukan asal diperintahkan untuk kembali dan membentuk wehrkreise di wilayah asalnya.
Strategi ini menggantikan sistem streategi sebelumnya yang berbentuk pertahanan liniair dan telah diterapkan di berbagai palagan pertempuran di Indonesia.
Paska 1948, strategi ini dijadikan pola wilayah pertahanan di beberapa garis depan kantong perlawanan, contohnya Divisi Siliwangi yang berhasil memberlakukan strategi ini di berbagai wilayah wehrkreise-nya.
Di Ibukota Yogyakarta, strategi wehrkreise berperan penting dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, strategi ini berhasil mengkonsolidasi kekuatan di Yogyakarta dan memberi jalan bagi pasukan lapangan.
Salah satu konsolidasi yang berhasil dilakukan oleh wehrkreise di Yogyakarta adalah mengidentifikasi mata-mata yang bersembunyi di pihak para republikan sendiri.
Baca Juga: Seri Sejarah Dunia, 28 Mei 1964, PLO Organisasi Pembebasan Palestina Didirikan di Jerussalem
Implementasi strategi wehrkreise di militer Indonesia diakhiri oleh TNI pada tahun 1950, namun pola pembinaan teritorial bernama Tentara Teritorium masih dipertahankan TNI hingga kini.
Tentara Teritorium juga lah yang menjadi embrio awal dari pembentukan Komando Daerah Militer hingga tingkat dibawahnya seperti Korem, Kodim dan Koramil.
Source: Ensiklopedia Sejarah Indonesia (Kemdikbud), Divisi Sejarah (TikTok)
Editor : Baskoro Septiadi