RADARSEMARANG.ID - Kebijakan iuran Tapera menjadi polemik yang masih diperbincangkan warganet hingga saat ini.
Banyak diantara mereka yang terpantau merasa keberatan dengan potongan Tapera 3 persen dari gaji setiap bulannya.
Bahkan, diantara mereka ada yang mengakui saat urus klaim Tapera mengalami kesulitan, susah dan jlimet.
Pengakuan tersebut diceritakan oleh seorang warganet yang diketahui merupakan anak pensiunan PNS selama kurang lebih 30 tahun.
“ibuk punya tapera, pensiunan PNS selama krg lebih 30thn, saya tahun kemarin sempet disuruh buat ngeklaim karena kondisi yg mendesak,” tulisnya melalui akun @val_vanny di media sosial X.
Menurut keterangannya, @val_vanny sempat keteteran saat mengurus klaim Tapera lantaran kebagi waktu dengan kuliah dan bekerja.
Meski demikian, dia mengaku mengalami kesulitan dari proses hingga informasi yang ia dapatkan ketika akan mengklaim Tapera.
Menurutnya, dari proses serta informasi yang ia dapatkan dan diikuti semua terasa susah dan jlimet.
“Saya coba urus cmn karena kebagi waktu sm kuliah & kerja jadi agk keteteran, cumn dr proses dan info yg sudah saya dapat dan ikuti itu semua susah & njelimet,” ungkap @val_vanny.
@val_vanny menambahkan “Dan mau tau berapa total tapera seorang pns yg sudah bekerja selama bertahun-tabun sejak adanya tapera buat pns”.
“Total hanya 8jt lebih dikit, itupun kalo yg ngeklaim anaknya cmn bisa diklaim 3jt, ujung-ujungnya? saya dan ibuk nyerah, gk jadi klaim,” imbuhnya.
@val_vanny, hanya dapat menghela nafas saat ibunya memutuskan nyerah buat ngeklaim Tapera, dan buat sedekah buat pemerintah.
“kalo kata ibuk pas memutuskan nyerah buat ngeklaim, sudah.. itung2 sodaqoh buat pemerintah. Saya cuman bisa hela nafas dan sendiko dawuh ngikut aja,” ungkapnya.
Sementara itu, warganet yang bernasib sama juga memberikan tanggapan senada seperti yang dialami anak pensiunan PNS ini.
Dari akun @AadePamungkas mengatakan “Ibu juga PNS dari tahun 91, tahun 2000 pernah beli rumah melalui pembayaran Tapera ke developer properti gitu, beneran jadi rumah tahun segitu”.
“Kalau klaim Tapera sekarang sulit dan gk ada developer yg mau menerima, berarti ada yg salah dengan pengelolaannya,” tambahnya.
Warganet lain seperti @oriontheskies juga mengungkapkan pengalamannya “Ayahku juga pensiunan dapet tapera. emang sih klaimnya ribet poll, mana ayahku awalnya gatau kalo ga dikasi tau temen ada tapera”.
“Alhamdulillah ayah cairnya masi sesuai sm yg tertera di webnya sih. Tapi kalo case kek kaka nyesek banget sih itu,” lanjutnya.
Berikut ini beberapa cerita dari warganet lainnya;
“Kebetulan pernah dampingi pensiunan di 2018, gak bisa ngambil tabungan perumahannya. Alasannye masa transisi dari Bapertarum ke BP Tapera, dan gak balik sampe skrng”.
“Gw yakin banyak lagi pensiunan di tahun itu yg mengalami hal yg sama, tinggal dikali aja duitnya yg gak dibalikin,” tulis @kakekpembina.
@mbaksoksibuk : “Sama bgt kakk almh mamaku 35 tahun kerja pns pas cairin tapera cuma dapet 7jutaan prosesnya pun njelimet. Bank nya harus bank tertentu, dan cuma bisa di bank pusat”.
Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) telah menunjukkan sikap tegas terhadap kebijakan iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).
Menurut Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, kebijakan iuran Tapera sebesar 3 persen menjadi beban yang memberatkan bagi perusahaan dan pekerja.
Shinta berharap pemerintah menggunakan dana dari ASN, TNI, dan Polri terlebih dahulu untuk iuran Tapera, sehingga program ini dapat diperluas ke pekerja swasta setelah evaluasi yang baik.
Editor : Baskoro Septiadi