RADARSEMARANG.ID, BANDUNG - Kecelakaan fatal antara kereta api Turangga dengan KA Commuterline Bandung Raya, menyebabkan salah satu lokomotif mengalami rusak parah.
Pada saat kejadian, Turangga ditarik oleh Lokomotif CC206 sedangkan Bandung Raya dihela oleh lokomotif CC201 yang mengalami kerusakan parah akibat benturan.
Namun lokomotif CC201 yang mengalami tubrukan ternyata adalah lokomotif spesial dalam sarana yang dimiliki KAI.
Memiliki kode lengkap CC201 77 17 Depo Induk CN (Cirebon) tersebut adalah salah satu dari empat lokomotif setipe yang memiliki livery spesial vintage.
tiga lainnya yaitu 83 31 dan 83 34 milik Semarang Poncol serta 92 01 yang merupakaan sarana milik Jember.
Livery ini berbeda dengan sarana penarik milik KAI lainnya yang menggunakan warna seragam putih dengan corak oranye dan biru.
Ternyata lokomotif milik DAOP 3 ini juga baru empat bulan berdinas menggunakan warna spesial ini setelah keluar dari Balai Yasa Yogyakarta pasca perawatan.
Lokomotif ini juga sempat mengikuti pameran di Yogyakarta saat acara Jogja Spoor Festival dalam rangka HUT KAI bulan September lalu.
Jika dilihat dari kode sarananya, lokomotif sudah berumur hampir 50 tahun karena awal berdinas di tahun 1977.
Dalam perjalannya, Lokomotif diesel elektrik ini datang ke Indonesia pada tahun 1977 bersama 38 lokomotif lainnya dalam batch pertama kedatangan tipe CC201.
Proses kedatang lokomotif tipe ini terjadi secara bertahap sampai tahun 1992 dengan skema empat kloter.
Diproduksi oleg General Electric Transportation, Amerika Serikat dengan kode produksi GE U18C yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 1950 HP.
Dibekali dengan mesin GE 7FDL-8 dengan enam motor traksi dengan DC-DC sebagai penggerak pada rodanya.
memiliki susunan gandar CC atau Co'Co', yakni dua bogie yang masing-masing memiliki tiga gandar berpenggerak. Pada lintasan datar maupun pegunungan, kecepatan Lokomotif CC201 dapat mencapai 120 km per jam.
Pada penggunaannya lokomotif ini menarik berbagai jenis kereta, mulai dari kereta eksekutif, bisnis, ekonomi, campuran, sampai kereta barang/kargo.
Namun saat ini, lokomotif ini lebih banyak dioperasikan untuk KA kelas bisnis, campuran, ekonomi, dan lokal, termasuk berdinas langsiran.
Persebarannya juga merata pada Daerah Operasi di Pulau Jawa dan Divisi Regional di Sumatra.
CC201 pernah memegang rekor dengan jumlah terbanyak di Indonesia dengan jumlah 92 unit sebelum kedatangan CC206 pada tahun 2013 dengan jumlah unit lebih dari 100.
Melihat keadaan CC201 77 17 yang terlibat kecelakaan dengan KA Turangga hampir dipastikan lokomotif tersebut harus pensiun atau afkir.
Apalagi kejadian tersebut merenggut nyawa masinis dan asisten masinis yang berdinas pada lokomotif tersebut.
Editor : Tasropi