Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sejarah Kapal Pinisi di Indonesia, Bermula dari Perahu Perdagangan hingga Beralih Fungsi yang Dikomersilkan

Aris Hariyanto • Sabtu, 9 Desember 2023 | 00:11 WIB
Kapal dengan layar Pinisi pada tahun 1970-an di Seram Kepulauan Maluku
Kapal dengan layar Pinisi pada tahun 1970-an di Seram Kepulauan Maluku

RADARSEMARANG.ID, - Kapal Pinisi telah diakui sebagai salah satu warisan budaya dan bagian tak ternilai dari seni berlayar di wilayah kepulauan Indonesia.

Dalam seni pembuatan kapal Pinisi tersebut, membuat warisan budaya Indonesia untuk dunia terus bertambah.

Hal ini menjadikan kapal Pinisi di Indonesia terpilih menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural of Humanity) yang di cetuskan di Paris Perancis, pada Pada Kamis 7 Desember 2017.

Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sejarah kapal Pinisi di Indonesia berkaitan dengan sejarah kemaritiman yang panjang.

Berdasarkan sejarahnya, kapal Pinisi telah ada di Indonesia sejak abad ke-16, dan seringkali digunakan oleh pelaut Konjo, Bugis, dan Mandar yang berasal dari Sulawesi Selatan untuk mengangkut barang.

Meskipun dahulu kapal ini digunakan untuk keperluan perdagangan, saat ini banyak kapal Pinisi yang beralih fungsi sebagai objek wisata yang menarik.

Kapal Pinisi sangat mudah dikenali di wilayah perairan Indonesia karena memiliki beberapa ciri khas yang unik.

Salah satunya penggunaan 7-8 layar yang terpasang di kapal, serta adanya 2 tiang utama di bagian depan dan belakang kapal.

Selain itu, kapal ini juga terbuat dari kayu, dengan empat jenis kayu yang biasa digunakan, seperti kayu besi, kayu bitti, kayu kandole/punaga, dan kayu jati.

Dengan ciri-ciri tersebut, kapal Pinisi menjadi sangat khas dan membanggakan sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Pembuatan kapal Pinisi di Indonesia terletak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang terdiri dari tiga desa, yaitu Desa Tana Beru, Bira, dan Batu Licin.

Meski demikian, proses pembuatan kapal pinisi ini masih menggunakan metode tradisional yang tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Sementara itu, menurut catatan penelitian Wikipedia, sejak awal abad ke-18, dikabarkan VOC mulai membuat kapal-kapal bergaya Eropa untuk perdagangan antar Asia.

Pembuatan itu ditujukan untuk galangan-galangan Jawa, sehingga mereka terus memperkenalkan metode konstruksi dan rig baru, termasuk versi Belanda dari layar depan dan belakang yang baru.

Kemudian pada abad ke-19, para pelaut Sulawesi mulai menggabungkan layar-layar persegi panjang besar dari layar tanjaq.

Beberapa layar tersebut memiliki jenis-jenis layar depan dan belakang seperti yang mereka lihat di kapal-kapal Eropa yang berlayar di Nusantara.

Selama abad ke-19, angkatan laut kolonial dan perusahaan perdagangan Eropa, India, dan Tiongkok mengoperasikan sekunar Barat yang jumlahnya terus meningkat.

Meski demikian, laporan sejak awal tahun 1830 menyebutkan bahwa perahu "sekunar dengan layar kain", digunakan oleh 'bajak laut' yang beroperasi di Selat Malaka.

Selanjutnya pada dekade 1970-an, terjadi peningkatan jumlah kapal Palari-Pinisi yang dilengkapi dengan mesin, yang menyebabkan perubahan cepat pada desain lambung dan layar kapal tradisional Indonesia.

Karena desain lambung pribumi tidak cocok untuk dipasangkan mesin, maka lambung tipe lambo menjadi alternatif yang digunakan.

Selanjutnya, dalam beberapa tahun berikutnya kapasitas muatan terus ditingkatkan. Hingga saat ini, rata-rata Perahu Layar Motor (PLM) dapat memuat hingga 300 ton.

Diketahui Layar belakang dari hampir semua PLM dihilangkan karena hanya digunakan untuk mendukung mesin.

Pada kapal yang lebih besar, terdapat rig pinisi yang dipasang, sedangkan kapal berukuran sedang dilengkapi dengan layar nade.

Namun, karena tiang mereka terlalu pendek dan area layarnya terlalu kecil, kapal ini tidak dapat bergerak hanya dengan layar, sehingga mereka hanya menggunakannya saat ada angin yang menguntungkan.

Selanjutnya, dalam era globalisasi ini, kapal Pinisi telah beralih fungsi menjadi kapal pesiar mewah yang digunakan untuk tujuan komersial maupun ekspedisi.

Kapal tersebut didanai oleh investor lokal maupun luar negeri dan memiliki interior yang mewah serta dilengkapi dengan peralatan menyelam dan permainan air untuk wisata bahari.

Selain itu, kapal ini juga memiliki awak yang terlatih dan menggunakan teknik modern. Salah satu contoh kapal pesiar mewah terbaru yang dapat disebutkan adalah Silolona yang berlayar di bawah bendera.

Editor : Agus AP
#Kapal #UNESCO #BUDAYA #pinisi