Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kronologi Kematian Taruna Politeknik Pelayaran Surabaya, Tumbang setelah Ulu Hati Dipukul

Agus AP • Kamis, 9 Februari 2023 | 20:43 WIB
Photo
Photo
RADARSEMARANG.ID, Surabaya – Dugaan taruna Poltek Pelayaran Muhammad Rio Ferdinan Anwar tewas karena dianiaya terbukti. Kemarin (8/2) polisi menetapkan AJP, seniornya di kampus, sebagai tersangka. Warga Banyu Urip tersebut diketahui sempat memukul perut korban. Nahas, dampaknya menjadi fatal karena mengenai ulu hati.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Mirzal Maulana menyatakan, penganiayaan itu terjadi Minggu (5/2). Rio yang sedang berada di ruang makan sekitar pukul 19.30 dipaksa tersangka dan tiga teman satu angkatannya ikut ke toilet. ’’Di sana korban mendapat penganiayaan,” ujarnya.

Rio dipukul berkali-kali. Baik di kepala maupun tubuh. Pemuda 19 tahun itu akhirnya tumbang ke lantai setelah bagian perutnya dua kali menjadi sasaran.

Melihat korban tidak berdaya, tersangka dan temannya membopong korban keluar toilet dan meminta bantuan. Dalihnya, Rio terjatuh di kamar mandi. ’’Korban dibawa ke RSU Haji Sukolilo dengan mobil ambulans klinik kampus,” kata Mirzal.

Alumnus SMAN 4 Surabaya itu menjelaskan, upaya penyelamatan tidak berhasil. Rio dinyatakan meninggal tidak lama setelah dirawat.

Kematian itu dilaporkan pihak kampus kepada keluarga korban. Mochamad Yani, ayah Rio, kemudian merasa janggal ketika melihat jenazah anaknya yang babak belur. Kondisi itu dianggap mustahil akibat jatuh di toilet.

Yani curiga anaknya tewas karena mendapat penganiayaan. Warga Desa Puloniti, Bangsal, Mojokerto, itu lantas melaporkan dugaan tersebut ke Polsek Gunung Anyar. ’’Kami lakukan rangkaian penyelidikan setelah mendapat laporan,” ujarnya.



Menurut Mirzal, pihaknya memeriksa 13 saksi untuk mendapat petunjuk. Jajarannya juga melakukan olah TKP dan mendalami rekaman CCTV kampus. ’’Dari rangkaian proses penyelidikan itu, kami tetapkan AJP, senior korban yang sempat diperiksa sebagai saksi menjadi tersangka,” ungkapnya.

Mirzal menuturkan, korban meninggal karena sakit di bagian ulu hati. Kepastian itu didapat dari keterangan petugas medis yang memeriksa korban di rumah sakit. Luka tersebut diduga kuat berasal dari pukulan tersangka yang diarahkan ke perut.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa pihaknya masih mendalami kemungkinan adanya tersangka lain. Dia pun memastikan penganiayaan bukan karena dendam. ’’Versi pelaku, penganiayaan itu dalam rangka pembinaan,” terangnya.

Mirzal merasa miris dengan pengakuan tersebut. Dia menyayangkan masih adanya budaya kekerasan fisik di lingkungan akademis.

Kanitresmob Polrestabes Surabaya AKP Zainul Abidin menambahkan, tersangka adalah taruna tingkat dua di kampus. AJP beralasan pembinaan itu dilakukan karena Rio tidak menunjukkan rasa hormat kepada senior. ’’Alasan pembinaan karena korban dianggap tidak respek,” tuturnya.

Sementara itu, Yani, ayah Rio, mengaku sempat dipertemukan dengan AJP di mapolrestabes kemarin. Selama pertemuan tersebut, pemuda 19 tahun itu terus menyampaikan permohonan maaf. Bahkan, sempat bersujud di hadapannya. ’’Nggak lama pertemuan saya. Hanya sebentar,” katanya saat dihubungi Jawa Pos.

Yani tidak banyak bertukar jawaban. Sebab, tidak lama setelahnya AJP dibawa lagi oleh petugas. ’’Kesalahan anak saya hanya lupa membawa buku saku. Tapi, ya kok segitunya. Otak intelektual juga harus diusut,” ujarnya. (edi/zam/c6/git)

BARANG BUKTI PENGANIAYAAN TARUNA POLTEKPEL

1. Dua lembar tisu bekas dengan noda darah yang dipakai pelaku untuk membersihkan luka korban sebelum dibawa ke rumah sakit.

2. Dua buah gelas plastik air mineral bekas yang isinya sempat diberikan kepada korban setelah mendapat penganiayaan.

3. Video CCTV di sekitar toilet tempat penganiayaan. Dalam rekaman itu, terlihat korban dibopong keluar toilet. Editor : Agus AP
#taruna politeknik pelayaran surabaya tewas #taruna Poltek Pelayaran #politeknik pelayaran surabaya #penganiayaan