RADARSEMARANG.ID - Sebuah fenomena menarik tengah mewarnai lanskap musik kontemporer.
Di tengah derasnya arus musik digital dan modern, Gen Z justru menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap musik era 90-an.
Hal yang lebih menarik lagi, mayoritas dari mereka bahkan belum lahir saat musik-musik tersebut pertama kali dirilis.
Fenomena ini tidak hanya sebatas kesukaan terhadap lagu, tetapi telah berkembang menjadi sebuah gerakan budaya yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari fashion hingga gaya hidup.
Fenomena ini dikenal sebagai anemoia, sebuah bentuk nostalgia terhadap masa yang tidak pernah dialami secara langsung.
Generasi Z, melalui berbagai platform media sosial, film, dan cerita dari generasi sebelumnya, membangun persepsi romantis tentang era 90-an sebagai periode yang lebih sederhana, otentik, dan bermakna.
Media sosial memainkan peran krusial dalam fenomena ini. Platform seperti TikTok dan Instagram telah menjadi katalisator yang mempercepat penyebaran tren musik 90-an.
Video-video pendek yang menggunakan lagu-lagu kultik dari band seperti Nirvana, Pearl Jam, atau Spice Girls viral dengan cepat, menciptakan efek domino yang membuat semakin banyak Gen Z tertarik mengeksplorasi musik era tersebut.
Di Indonesia, fenomena kebangkitan musik 90-an memiliki warna tersendiri. Lagu-lagu dari band legendaris seperti Dewa 19, Sheila On 7, Padi, dan Base Jam kembali mendapatkan popularitas di kalangan Gen Z.
Media sosial dipenuhi dengan cover lagu-lagu seperti "Kangen" dari Dewa 19, "Dan" dari Sheila On 7, atau "Kasih Tak Sampai" dari Padi. Yang menarik, lagu-lagu ini tidak hanya didengar, tetapi juga diapresiasi secara mendalam oleh generasi yang bahkan belum lahir saat lagu-lagu tersebut pertama kali dirilis.
Musik pop Indonesia era 90-an memiliki karakteristik yang khas. Grup vokal seperti Kahitna dengan lagu "Cerita Cinta" dan "Cantik", atau Pot dengan hits mereka "Mesra", membawa harmoni vokal yang kompleks namun tetap catchy.
Baca Juga: Lirik dan Terjemahan Lagu Otonoke Creepy Nuts, Opening Anime Dan Da Dan
Sementara itu, band rock seperti Slank dengan "Terlalu Manis" dan "Virus" membawa semangat pemberontakan yang masih relevan dengan isu-isu sosial saat ini.
Era 90-an juga melahirkan penyanyi solo legendaris Indonesia yang karyanya tetap digemari Gen Z. Lagu-lagu Chrisye seperti "Kala Cinta Menggoda" dan "Seperti Yang Kau Minta" sering muncul dalam konten-konten TikTok dan Instagram.
Kebangkitan ini berdampak signifikan pada industri musik Indonesia kontemporer. Banyak musisi muda yang terinspirasi untuk mengadopsi elemen musik 90-an dalam karya mereka.
Sebagai contoh, band .Feast sering menunjukkan pengaruh rock alternatif 90-an dalam musik mereka. Hindia, dalam beberapa karyanya, mengadopsi pendekatan produksi yang minimalis khas era 90-an.
Lirik lagu era 90-an juga sering menjadi poin yang disukai Gen Z. Tema-tema seperti pemberontakan, pencarian jati diri, dan kritik sosial yang diangkat dalam lagu-lagu grunge dan alternative rock masih sangat relevan dengan pengalaman mereka saat ini.
Baca Juga: Nostalgia Tak Terlupakan, Nike Ardilla Hadir di Synchronize Fest 2024 dengan Manfaatkan Teknologi AI
Lagu seperti "Smells Like Teen Spirit" atau "Black Hole Sun" berbicara tentang alienasi dan kebingungan masa muda yang ternyata masih sangat relate dengan generasi sekarang.
Pengaruh kebangkitan musik 90-an ini terlihat jelas dalam industri musik kontemporer. Banyak artis Gen Z yang secara terbuka mengakui pengaruh era tersebut dalam karya mereka.
Olivia Rodrigo, misalnya, mengadopsi elemen grunge dalam beberapa lagunya. Beabadoobee secara konsisten menggunakan estetika dan sound 90-an dalam albumnya. The Linda Lindas membawa kembali semangat punk rock 90-an dengan perspektif generasi baru.
Kebangkitan musik 90-an telah menciptakan jembatan unik antar generasi. Orang tua dan anak-anak menemukan common ground dalam selera musik, membuka ruang untuk dialog dan berbagi pengalaman.
Fashion dan gaya hidup juga tak luput dari pengaruh tren ini. Pakaian bergaya grunge, aksesori choker, dan sepatu platform yang identik dengan era 90-an kembali populer.
Yang lebih penting, kebangkitan musik 90-an di kalangan Gen Z menunjukkan bahwa musik bagus tidak mengenal batasan waktu. Era digital yang serba cepat justru membuat generasi muda mendambakan keotentikan dan kedalaman yang mereka temukan dalam musik era 90-an.
Kebangkitan musik 90-an di kalangan Gen Z adalah bukti nyata bahwa musik memiliki kekuatan untuk melampaui batasan waktu dan generasi.
Fenomena ini telah menciptakan sebuah ruang unik dimana nostalgia bertemu dengan perspektif baru, menghasilkan apresiasi yang lebih kaya terhadap warisan musik masa lalu. (mg9/bas)